Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Menjadi pembahasan utama


__ADS_3

Lila hanya terdiam, tertunduk dan tak dapat berkata apa-apa. Hanya dapat menyaksikan dan mendengar, ketika mereka beradu argumen masing-masing. Ia terpojok, karena Ia menjadi pembahasan utama disini..


"Sebodoh ini kah aku? Yang bahkan tak tahu, bagaimana masa lalu suamiku?" fikirnya keras. Hingga, tangan Iam kembali menggandengnya.


"Apapun alasan dan argumen yang kalian berikan. Dia, Khalila... Adalah istri sah ku. Tak ada yang dapat menggugat hal itu. Siapapun."ucap Iam dengan mimik wajah begitu serius.


Mereka semua hanya tak ingin ada permainan disini. Seperti yang sering terjadi di kalangan mereka. Menikah kontrak, atau menikah karena terpaksa. Hingga akhirnya akan menimbulkan permasalahan yang besar..


Apalagi, pernikahan yang dilakukan hanya demi harta warisan keluarga. Karena memang tercantum, jika Iam akan mewarisi perusahaan itu, jika Ia telah menikah nanti.


" Jangan bawa masa laluku, di hadapan masa depanku. Dan jika Ia perlu tahu, aku sendiri yang akan memberi tahunya." ucap Iam.


"Kami, akan mengawasi. Jika ada yang janggal dengan pernikahan ini...."


"Mau apa? Kalian mau berbuat apa padaku? Coba saja jika kalian berani bertindak. Bahkan, menyentuh istriku sedikit saja, kalian tak akan ku biarkan."


"Ilham! Lancang kamu!" bentak sang Papa.


"Kenapa tidak kalian awasi juga Dia?" lirik Iam pada Dona.


Semua menghela nafas panjang, berusaha mencerna maksud dari ucapan Iam..

__ADS_1


"Kenapa Dia?"


"Ya... Kenapa tidak? Seorang gadis muda, bersedia menikah dengan pria yang lebih pantas menjadi Ayahnya. Apa, kalian tak curiga?" balas Iam dengan segala prasangkanya.


Tampak disana, Dona pun begitu tegang. Tak kalah seperti Lila yang masih termenung dengan keadaan yang ada.


" Anggap saja, meski aku mempermainkan pernikahan. Tapi, demi menjaga milik keluargaku."


Lila tampak semakin pucat. Siska pun begitu cemas melihatnya. Lila memiliki sebuah phobia, dimana Ia akan langsung sesak ketika merasa cemas.


"Pak... Ibu, Pak." panggil Siska.


Iam segera menghampirinya, lalu menggendong sang istri untuk keluar. Ia berlari, diikuti Siska yang terus setia dibelakangnya.


"Baik..." Siska pun berlari dengan cepat, meski Ia memakai heels yang cukup tinggi.


Iam menidurkan Lila di sofa, Ia mengusap keringat yang begitu bamyak keluar dari tubuhnya.


"Lila, buka bajunya, ya?"


Lila yang setengah sadar, tak memberi respon. Tapi Iam tetap melakukannya. Dibukanya kancing baju satu persatu, hingga Lila merasa kan lega di dadanya. Lalu, Ia meminumkan air yang Siska bawa untuknya.

__ADS_1


"Hey, minumlah." pintanya lembut.


Lila menuruti semua arahan sang suami. Ia mulai berusaha membuka matanya, dan duduk perlahan. Iam menyambut dan membantunya.


"Lila, sudah tak apa?"


"Engga... Hanya pusing. Jika Mas mau kembali kesana, tak apa." ucap Lila, lemah.


"Tidak, aku akan menemanimu. Siska, kunci pintunya."


"Baik..." Siska pun segera keluar, setelah menutup pintunya dengan rapat.


"Masih panas?" tanya Iam. Lila hanya mengangguk dan menatapnya sayu.


Iam refleks membuka pakaian Lila, hanya tersisa tanktop hitam yang Ia pakai. Kemudian, Iam membukakan sepatu, dan merapikan rambut sang istri.


"Maaf, telah membawamu ke suasana seperti ini."


"Ehm, Lila hanya belum terbiasa. Apalagi, Lila lah yang menjadi bahasan utama disini. Hanya terkejut, sehingga tak dapat mengontrol cemas."


Iam membaringkan tubuh Lila kembali, dengan kepala dipangkuannya. Tangannya tak diam, mengipas dan mengusap bahu Lila agar semakin tenang.

__ADS_1


" Istirahatlah, setelah ini kita pulang. Aku, yang akan mengantarmu."


__ADS_2