Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Aku juga akan pergi, jika terus begini


__ADS_3

"Mas, sore ini kita pulang." Mami Dona menghampiri, dan membereskan semua peralatan yang mereka bawa ke Rumah sakit.


"Kamu tahu, hari ini perpindahan kuasa?"


"Ya, aku tahu. Bukankah, aku sudah cerita, tadi? Hanya mungkin, Mas terlalu asyik dengan Shandy dan Mama." jawab Mami Dona, yang kini bernada datar.


"Kenapa melakukan itu, ketika aku terbaring disini? Kenapa tak menungguku? Aku masih punya hak disana!" pekik Papa Wira, yang tampak begitu sangat kecewa.


"Kenapa harus? Tanpa Mas pun, semua sudah diputuskan. Iam, telah menjadi presdir saat ini. Dan semua yang ada, atas nama dia." jawab Mami Dona, "Bukankah, sudah ada dalam wasiat? Bahwa Mas, hanya di titipi hak Iam disana? Jadi ketika semua persyaratan lengkap, semuanya berjalan sesuai rencana."


Mami Dona, menutup tas besarnya. Ia menurun kan semua barang dari kursi, dan hanya tinggal menunggu perawat datang membuka selang infus yang masih terpasang. Ia duduk santai, dengan memainkan Hp nya mencari info mengenai perusahaan saat ini.


" Kamu, bersekongkol dengan mereka?"


"Mas, Aku capek." balas Mami Dona, tanpa meliriknya.


"Katakan, Iya atau tidak!"

__ADS_1


"Iya kalau memang Mas selalu berfikiran kotor. Karena bagaimanapun aku menjelaskan, Mas ngga akan pernah percaya, kan? Tolonglah, Buka fikiran, Mas. Semua ngga seburuk dan sepicik yang Mas kira."


Tatapan Papa Wira begitu marah pada istrinya. Ia mungkin sudah mengecap sang istri sebagai pembangkang, yang hanya bisa membela Iam sebagai sahabat dekatnya. "Aku jatuh, dan kau akan meninggalkanku? "


"Aku tahu kau akan jatuh suatu hari nanti. Aku disini berusaha terus menggenggam tanganmu, tapi kamu sendiri yang selalu melepasnya. Entah, kapan aku akan lelah. Mungkin, hanya tinggal menunggu waktu." jawab Mami Dona. Wajahnya tampak santai, tapi tak tahu isi hatinya bagaimana. Ia hanya ingin menjaga perasaannya sendiri kali ini.


" Permisi, Pak. Saya akan cabut infusnya, setelah itu anda bisa pulang." sang perawat masuk, menyangga baki yang berisi semua peralatannya.


Tak lama, perawat itu pun selesai. Mami Dona menghampiri dengan kursi rodanya, membawa Papa Wira keluar dari ruangan itu."Aul, kenapa tak menjemputku? Apa dia sama, sudah mulai bosan denganku?" tanya nya, yang merasa kesepian saat ini.


"Dia sibuk. Semuanya sibuk. Jika dituruti, aku pun akan sibuk setelah ini. Bekerja, dan membantu Iam mengurus pekerjaan. Aku harus pintar mengatur siasat, agar tak ikut terbuang dari sana."


"Sama seperti Mas, yang selalu menganggap Lila buruk. Iam pun, mungkin hingga sekarang menganggap aku buruk. Apalagi, semua yang tampak dimatanya, mendukung semua dugaan itu."


"Kamu selalu menjawab, Dona." lirih Papa Wira. Mami Dona hanya tersenyum, dan terus melanjutkan pekerjaannya.


***

__ADS_1


"Assalamualaikum, sayang, aku pulang." panggil Iam, yang masuk ke dalam apartemennya.


"Eh, Mas. Udah pulang? Maaf, Lila barusan tidur. Abis mandi, mungkin ngantuk." sambut Mba Dinar padanya.


"Ah, baiklah. Terimakasih, sudah menjaganya hari ini. Mba, boleh pulang." ucap Iam padanya.


Mba Dinar mengangguk, lalu segera pamit pulang ke sebelah. Iam segera masuk dan membersihkan diri, tanpa membangunkan Lila sama sekali.


"Ah, segarnya." ucapnya, keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang rapi.


Iam kemudian naik ke ranjang mereka, tepat di belakang Lila. Lengannya menelusup ke bawah leher Lila, dan menjadikannya bantal. Tanpa sadar membangunkan Lila, dan membuatnya memutar arah menghadap sang suami.


"Udah pulang?" tatapnya dengan segala rasa rindu.


"Ya, baru saja. Kenapa bangun? Tidurlah lagi."


"Engga bangun, cuma mau ganti arah tidur." Lila semakin menenggelamkan diri, dalam pelukan sang suami. Iam pun semakin mendekap tubuhnya dengan begitu hangat. Membelai rambutnya, dan mengecup keningnya.

__ADS_1


"Aku, juga ingin istirahat sebentar." bisiknya pada sang istri


__ADS_2