
"Lila, hari ini Ibu pulang, ya?"
"Iya, Lila tahu Ibu sibuk. Tapi, kapan-kapan kesini lagi, ya?" pinta Lila. Ibu Marni pun mengangguk, mengiyakan permintaan sang anak. Ia faham, karena Lila memang memerlukan teman dan banyak wejangan saat ini. Apalagi kondisi suaminya yang begitu sibuk belakangan ini.
"La, ini apa? Minuman beginian banyak banget." Bu Marni terkejut ketika membuka kulkas.
"Itu Boba, Bu. Tadi malem Mas Iam beliin banyak banget. Katanya buat persediaan."
"Ya Allah," Bu Marni mengelus dada dengan tingkah menantu nya.
"Ngga papa, Bu. Mumpung Iam bisa layanin," sahut Iam yang keluar dari kamarnya dengan rapi.
"Am, wanita ngidam itu ganti-ganti. Engga sekali ngidam ini, terus ya ini aja sampai besok."
"Iya kah? Wah, makin banyak tantangan kalau begitu," Iam menyunggingkan senyumnya, meraih Lila kedalam dekapnya.
"Lila belum mandi," Lila berusaha menyingkirkan tangan Iam darinya.
"Mandi dulu sana, biar Ibu yang masak. Hamil itu harus bersih, biar seger." ucap Bu Marni.
Lila pun mengangguk, dan berjalan lambat menuju kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin, tapi rasanya begitu dingin hingga Ia tak sengaja memekik karena linu di tulangnya. Hingga Iam pun segera berlari melihat apa yang terjadi.
"Lila kenapa?" ketuknya di pintu.
__ADS_1
"Eng-engga, Mas. Lila kedinginan. Kaget tadi."
"Astaga, Mas kira apa. Pakai air anget, sayang, kalau dingin."
"Iya, Mas. Ini lagi mau di hidupin."
Iam menggaruk kepalanya yang tak gatal. Memutar balik tubuhnya kembali ke ruang makan, menghampiri Bu Marni yang telah menunggu disana.
"Kenapa, Am?"
"Kedinginan katanya, Bu. Padahal selama ini, paling ngga mau mandi air anget."
"Biasa itu. Besok, ada kalanya Ia males mandi. Harap di maklumi, ya? Perbedaan hormon dia, itu."
"Sayang, kok pakai bajuku? Itu kegedean."
"Maunya, Mas." jawab Lila, yang memakai kaos oblong milik Iam yang tampak menjadi daster untuknya. Ia pun ikut duduk, setelah mengambil stok Bobanya di dalam kulkas.
"Makan dulu! Nanti minum itu tuh." tegur Bu Marni pada anaknya.
"Ngga selera, lihat nasi aja eneg. Ini juga, Bobanya bikin kenyang." Lila berbicara lirih.
"Bu, biarin aja dulu. Nanti biar Lila pesen aja, makanan yang Lila mau. Daripada malah mual nanti." bela Iam pada sang istri.
__ADS_1
Bu Marni hanya mencebik kesal, melihatnya. Ia pun lanjut sarapan dan membiarkan Lila dengan minuman manisnya itu.
"Sayang, aku pergi dulu, ya? Inget, jangan kemana-mana. Jangan terlalu capek juga."
"Ngga capek, kan dirumah. Ngga kerja juga."
"Iya, tahu. Tapi harus tetep hati-hati."
"Iya, Mas." Lila mencium tangan suaminya, dan Iam langsung mengecup keningnya dengan hangat. Lalu segera pergi, karena memang harus mengantarkan mertuanya pulang kerumah.
***
"Terimakasih, ya, Iam." ucap Bu Marni yang turun dari mobil menantunya.
"Iya, Bu. Iam langsung, ya."
Bu Marni mengangguk, dan Iam segera menyetir mobilnya pergi.
"Bu Marni, darimana? Kok lama perginya? Saya mau belanja loh." sapa sang tetangga.
"Mau belanja, apa mau nambah utang, Bu Tutik? Itu kapan di lunasin?" ledek Bu Marni, sembari membuka pintu rukonya.
"Ya, kan, itu lunasinnya kalau udah gajian, Bu. Kenapa harus dibahas sih?" Bu Tutik tertunduk dengan bibir manyunnya.
__ADS_1