Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Permainan di mulai.


__ADS_3

"Udah dibilang jangan." ucap Iam dengan sedikit keras. Lila tertunduk di hadapannya, "Hiks... Mas udah berani bentak Lila. Sedihnya."


"Eeerrghh! Ini kenapa mabuk malah begini? Mana orang pada lihatin lagi."


"Iam, Lila kenapa?" tanya Indri, salah seorang sahabat dari Lala.


"Ndri, Lila ngga sengaja minum tadi. Dia ngga kuat sama alkohol." jawab Iam, yang terus menahan Lila dari segala ke anehannya.


"Bawa ke kamar aja. Udah di pesenin kan?"


"Kaaan, pada dipesenin kamar. Kan kita bisa pulang, Mas." Lila terus menggelendot di tubuh sang suami.


"Kan, aneh kan?" liriknya pada Indri.


"He'eh, aneh." balas Indri. "Mau ku bantu ke kamar?" tawarnya.


"Eh, ngapain? Kok ikut ke kamar? Ngga boleh." Lila menepis tangan Indri yang mengarah padanya.

__ADS_1


"Eh, maaf, Ndri. Dia ngga sengaja." ucap Iam yang tampak tak enak.


"Ah, yaudah, bawa sono. Ntar makin aneh, lagi."


Iam mengangguk, akhirnya memapah Lila untuk menuju kamar mereka. Di papah sulit, akhirnya Iam menggendongnya. "Ngga mau di samping. Mau nya di depan, begini." Lila meloncat ke tubuh Iam, dan melingkarkan kaki di pinggangnya.


"Hhh," Iam menghela nafas pasrah dengan kelakuan aneh sang istri.


"Turun bentar, mau buka pintu." pinta Iam, tapi Lila bergeming, justru menenggelamkan wajahnya di leher Iam. "Khalilaaaa..." erang Iam. Lila hanya tertawa genit, dan justru menempelkan hidungnya pada sang suami.


"Bukain sepatu," Lila menaikkan kakinya di pundak Iam.


Iam mengambil sebuah kursi yang ada disana, lalu duduk tepat di hadapan Lila dengan kaki di pundaknya. Perlahan membuka tali hellsnya, menurunkan satu kaki dan menggantinya dengan kaki yang lain. Lila hanya menatapnya dengan tawa gemasnya, sesekali menggigit bibirnya.


"Udah, turunin kakinya."


"Ngga mau," geleng Lila.

__ADS_1


"Turun, sayang." bujuk Iam, dengan mengecup betis Lila menurun ke bawah. Lila sedikit mendongakkan kepala dan menggigit bibirnya kala itu. Ia kemudian beranjak duduk, menatap Iam yang membuka kancing kemejanya sedikit. Posisinya pun belum beranjak dari semula. Mereka berhadapan sekarang.


Lila menaikkan lagi kaki nya ke pundak Iam, dan Iam menatapnya tajam. "Apa?" tanya nya.


Lila hanya menggeleng dan tersenyum genit padanya. Kakinya bergerak turun, ke dada, ke perut, dan semakin turun ke bawah. Iam hanya menatap pergerakan itu dengan memicingkan matanya. Dan, kaki Lila kini tepat berada di antara kedua paha Iam.


"Hey!" pekik Iam, ketika Lila menekan telapak kaki di intinya. Lalu, dengan sigap Iam yang sudah terpancing lalu mencengkram tangan Lila, menahan di atas kepalanya dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Ia segera merangkak di atas tubuh Lila dengan tatapan berbeda.


"Sudah berani, kau ya?" nafasnya terengah-engah, mengincar bibir Lila yang selalu tersenyum penuh goda padanya. Ia pun segera menyerangnya dengan membabi buta, turun ke leher sedikit turun ke bawah namun terhalang oleh gaunnya. Iam segera menbalik tubuh Lila, lalu dengan cepat menarik resleting belakang gaunnya.


"Aku yang memasangnya, jadi aku bisa dengan mudah membukanya." ucap Iam, dengan nafas yang terengah-engah. Lila membalik tubuhnya lagi, membantu menurunkan gaun, lalu membuka satu persatu kancing kemeja Iam. Lalu menghempaskan nya sembarang ke lantai.


Mereka saling beradu senyum, seolah sama-sama menantang untuk permainan malam ini.


NB: Gaes, otor itu bukan suka ngomel yak. Cuma kesel aja, kalau dikit2 goblok, dikit2 bodoh yang di bahas. Apaan sih? Lebay lah segala macem. Please deh, jaga kata-kata.


Katanya minta romantis, uwwwu. Eh buat beda dikit buat pancingan, segala kata bego keluar. Ah, dah lah.

__ADS_1


__ADS_2