
"Selamat pagi," sapa Mba Dinar, yang masuk ke apartemen Lila. Ia pun terkejut, menatap Lila yang telah rapi dengan make up natural ala dia. "Lah, kok udah rapi?" tanya nya.
"Iya, Mas Iam bantuin mandi, tadi. Katanya mau ikut juga." jawab Lila, yang mulai berjalan lagi, karena bosan dengan kursi rodanya.
"Owh, seperti itu? Yaudah, Mba siapin sarapan dulu." ucap Mba Dinar, yang langsung berjalan menuju dapur. Lila pun menyusul, karena ingin memasak air untuk nya membuat susu.
"Tunggu aja disana, biar Mba buatin" pinta Nba Dinar. "Lila bisa kok, masa dilanyanin terus. Ngga enaklah." jawabnya, dengan melirik pada Mba Dinar yang begitu sibuk.
"Itu kan tugas Mba.. Mba udah digaji, buat ngurusin kamu, Lila." Mba Dinar masih memasak. Menu sederhana untuk sarapan pagi mereka. Apalagi, memang Lila harus memperbanyak makan sayuran agar selalu segar.
Lila mengangguk, Ia beralih menghanpiri Iam yang sepertinya selesai dengan acara mandinya. Dengan segelas susu di tangan, Ia menatap Iam yang tengah bingung dengan dasinya, "Uluh, Papa Baby lagi bingung pasang dasi. Sini, Mama pasangin." Lila menghampiri, dan mulai mengulurkan tangannya.
Iam tersenyum menyambutnya. Ia lalu melebarkan kedua sisi kakinya, agar Lila dapat menjangkaunya tanpa berjinjit seperti biasa. Bibir Lila tergambar putih, terkena air yang barusan. Iam pun mengecupnya, untuk menghilangkannya dari bibir Lila.
__ADS_1
"Eeeh, cium-cium," tegur Lila, menjauhkan wajahnya dari sang suami. "Bersihin itu loh, bekas susu." balas Iam.
"Gombal, bersihin bisa pakai tangan," tukas Lila.
"Tapi, manis. Apa karena dari sini?" goda Iam, dengan menggoreskan jempol ke bibir Lila. Sedangkan tangan satunya, melingkar di pinggang Lila dan menatapnya dengan tajam.
"Sssssst!" panggil Iam, pada istrinya yang mesih menunduk merapikan kemejanya.
"Apa?" tanya Lila, tanpa mendongakkan kepala. Hingga Iam meraih dagunya agar dapat menatap mata sang istri. Ia pun mendekatkan pandangannya kesana, "Iih, ngapain?" Lila berusaha menolak, tapi Iam menahannya. "Bentar aja," kecupnya di bibir mungil itu. Sebentar, tapi berkali-kali.
"Di kunci dong, pintunya." Mba Dinar perlahan menutup pintu kamar, dan berlari pergi dari keduanya.
"Kan, ada yang lihat," tepuk Lila, di dada Iam. Iam hanya menatapnya gemas, dan merapikan rambut Lila yang berantakan. "Yuk, sarapan." gandeng Iam keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Hey, udah selesai? Yuk, sarapan. Jadwal kita jam Sembilan, soalnya dokter masih harus visit pagi ini." ajak Dinar, menyiapkan piring keduanya.
"Mba Dinar, ngga sekalian sarapan?" tanya Iam.
"Udah dirumah. Mas Iwan itu, maunya di ambilin, di layani. Jadi buat Mba, melayani kalian itu udah biasa. Jadi ngga usah sungkan." senyumnya ramah.
Mereka menikmati sarapan dan menghabiskannya dengan segera. Lalu, bersama keluar dari Apartemen menuju Rumah sakit. Perjalanan terasa singkat, atau mungkin karena Lila merasa sangat ringan kali ini. Tak seperti biasa, yang selalu pusing dan lemas.
"Kalian langsung ke Poli. Aku, urus pendaftaran." ucap Iam.
Mba Dinar mengangguk, lalu menggandeng Lila masuk ke dalam ruang tunggu. Mereka duduk dengan santai, sembari mengurus rencana kelahiran. Lila tampak begitu bahagia dengan segala harapannya. Hanya, seseorang membuyarkan obrolan mereka. Lila mendapati Papa Wira yang tengah menunggu antrian di poli jantung.
"Papa?" panggil Lila dengan ramah. Ia pun berdiri, dan berjalan menghampiri untuk menyapanya.
__ADS_1
"Aduh, katanya kan ngga boleh ketemu." batin Dinar, yang berusaha mencegah Lila datang pada mertuanya.