Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Boba rasa redvelved


__ADS_3

"Mas," panggil Lila yang sudah masuk ke dalam selimutnya.


"Ya, sayang, ada apa?" tanya Iam, yang baru saja mengganti piyamanya. Ia menghampiri sang istri di ranjang mereka dan duduk tepat di sampingnya.


"Panas, pengen minuman yang seger, boleh?"


"Lila mau minum apa, malam-malam begini?" Iam mengusap rambut Lila yang diikat asal, tapi tampak seksi itu.


"Boba? Red Velved?" ucap Lila, dengan menggigit bibir bawahnya. Iam hanya tersenyum, lalu kembali berdiri memakai sweaternya.


"Mau kemana?" Lila justru bertanya ketika suaminya kembali rapi.


"Kan Lila mau Boba, kenapa nanya? Ya, mau pergi lah. Lila di rumah aja, tidur cantik dan menunggu pesanan tiba. Lila hanya mengangguk, dan mengulurkan senyum penuh harap pada sang suami yang melangkah keluar.


Iam turun dengan ceria. Ini hari pertamanya melayani sang istri yang tengah ngidam. Dan rasanya sungguh luar biasa baginya. Serasa tak sabar, menunggu hari dimana mereka akan bertemu.


"Pasti menggemaskan. Bermain dengan tangan mungil dan menciuminya dengan penuh rasa gemas." fikirnya, yang telah tiba di depan mobilnya.


"Mas Iam, mau kemana?" Dinar menghampiri dengan busana seksinya.


"Mau, cari Boba buat Lila. Kenapa?"

__ADS_1


"Mas, boleh nebeng? Deket kok."


Iam menatap Dinar dari atas hingga bawah. Pakaiannya begitu minim, dan bahkan nyaris terbuka. Ragu, tapi Dinar begitu memohon padanya. Ia pun membuka Sweaternya, lalu memberikan itu pada Dinar, agar Ia memakainya.


"Aku tak mau, jika ada fitnah nantinya. Pakailah."


"Terimakasih," Dinar memakainya, dan segera naik ke mobil Iam. Mereka pun berjalan, menuju tempat penjual Boba, sekaligus mengantar Dinar yang menumpangnya.


"Biasanya, di ujung sana. Deket alun-alun, banyak jual Boba. Juga, melewati tempat kerjaku." Dinar menunjukkan arah pada Iam, agar tak kebingungan lagi dalam mencari.


"Kamu, kerja apa? Kenapa berpakaian itu? Dan, apakah suamimu tahu?"


"Ya, dia tahu. Saya bekerja tambahan, sebagai pelayan di diskotik. Hanya pelayan, tak lebih."


"Cukup, hanya saja, saya perlu tambahan untuk menafkahi Ibu di kampung. Ada problem, hingga suami saya berat membantu menafkahi. Yang penting, saya harus siap ketika Ia minta untuk dilayani.


"Rumit rupanya." ucap Iam, kembali berfikir jika hidupnya masih lebih ringan dibandingkan orang di sekitarnya. "Ku kira, aku sudah rumit. Rupanya, masih ada yang lebih rumit dariku."


Iam tiba di sebuah diskotik, Dinar pun turun dan mengucap terimakasih pada Iam. Ingin mengembalikan sweater, tapi Iam menolaknya.


"Setidaknya, sedikit menutup auratmu." ucap Iam. Ia pun pergi, sesuai dengan arahan yang Dinar berikan.

__ADS_1


"Mba, Red velvednya Satu." pinta Iam pada sang penjual.


Pesanan dibuat dengan segera, Iam menunggu sembari memainkan Hpnya. Dan terfikir lagi, jika Lila akan menginginkannya ketika Ia tak ada dirumah.


"Mba, kalau disimpan di kulkas, awet?"


"Awet, Mas. Kenapa?"


"Buatkan Sepuluh Redvelved."


"Oh, baiklah." ucap Sang penjual, yang semakin semangat melayani pembelinya itu. Sangat bersyukur, dalam keadaan sepi begini, ada saja yang memborong dagangannya.


"Sudah, Mas." ucap Sang penjual, tak lama setelah itu. Iam mengambil pesanannya, dan membayar sesuai harga yang tertera. Dan dengan begitu bahagia, Iam kembali ke apartemennya.


"Enak juga rasanya. Pantas saja, Lila begitu menyukainya." Iam mengambil Satu Boba dan meminumnya sendiri selama perjalanan.


*


"Ya Allah, kok banyak banget? Lila minta Satu, bukan sepuluh."


"Sekalian, sayang. Nanti kalau kamu mau, tapi aku ngga dirumah, gimana? Lagipula awet 'kan."

__ADS_1


Lila hanya menghela nafas pasrah, dan meminum bobanya. Sementara Iam, menyusun minuman itu di kulkasnya dengan rapi.


__ADS_2