Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Merayu Pak Hari


__ADS_3

Hari semakin sore. Sesuai janji, Om Agung pun tiba di rumah Bu Marni.


"Masuk, Gung. Istirahat dulu, Mba tahu kamu capek." Bu Marni ke dapur, membuatkan minum untuk mantan adik iparnya itu. "Nih, minum dulu kopinya."


"Mba, tolong jelaskan, bagaimana Iam bisa memberinya uang sebanyak itu," Om Angung dipenuhi rasa penasaran yang begitu tinggi. Pasalnya, setelah pernikahan itu, Ia memang tak berkabar sama sekali. Ia fokus dengan pekerjaannya di proyek sebagai seorang mandor.


" Dia, memintanya langsung, Gung. Pergi ke Apartemen mereka, bahkan nekat tengah malam dan sepat menginap disana."


"Pertanyaannya, kenapa Iam kasih, Mba? Lila ngga menghalangi?" Om Agung sedikit heran dengan keputusan itu.


"Sudah," angguk Bu Marni lemah. "Iam memberinya dengan sebuah perjanjian untuk tak akan pernah datang lagi padanya."


"Astaga, Mas Hari. Sebegitunya hidupmu. Bahkan, dalam keadaan begini, mantan istrimu juga yang harus turun tangan," Om Agung menjambaki rambutnya yang sedikit gondrong itu. Menyandarkan punggungnya sejenak di bahu kursi dan menghela nafas begitu berat.

__ADS_1


"Ayo Mba, kita bersiap. Harus segera kesana, karena takut akan merepotkan orang lain." ajak Om Agung, yang juga izin membersihkan dirinya sejenak agar tak terlalu tampak lelah.


Bu Marni segera mengganti pakaiannya agar lebih rapi, dan tak lupa mengenakan hijabnya dengan jilbab sorong berwarna abu-abu. Wajahnya memang tampak menua, sesuai dengan usianya. Tapi, kecantikan itu belum luntur darinya. Masih sering menjadi godaan para duda yang ada di kompleksnya.


Om Agung dan Bu Marni, pergi berdua dengan mobil Om Agung. Rupanya, Iam sempat memaksanya membeli mobil, meski Om Agung berkali-kali menolaknya. Hingga terjadilah, biaya pembelian mobil yang ditanggung setengah-setengah oleh mereka berdua.


"Kadang, aku merasa, Iam itu terlalu baik, Mba."


"Lila hamil?"


"Ya, makanya Mba larang kamu beri tahu mereka." jawab Bu Marni.


Mereka tiba di rumah itu. Rumah besar milik Pak Hari dan istri barunya. Besar, tapi sudah sangat tak terawat. Bungkus nasi berserakan, mungkin para tetangga bergantian memberinya makan. Pak Hari tampak duduk di ruang tamu, dengan pakaian yang begitu rapi dan wangi. Rambutnya klimis dengan minyak rambut, dan wajahnya pun tampak begitu bahagia.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Kak." panggil Om Agung, tapi tak di indahkannya. Ia sibuk menghitung beberapa lembar uang seribu dan Dua ribuan, seolah itu ratusan juta yang Ia miliki.


"Maaf, Bu. Kami beri itu ke beliau. Soalnya, kalau ngga pegang duit, pasti ngamuk." Mas Burhan menghampiri, ketika melihat mereka datang.


Bu Marni melangkah pelan. Ia menghampiri sang mantan suami dan duduk di sebelahnya, "Mas, mau kemana?" tanya nya.


Pak Hari menatap, Ia sadar itu bu Marni, dan langsung memasang wajah sombongnya. "Ini, uang yang ku beri tahu kemarin. Kau lihat kan, begitu banyak? Aku akan pergi membeli ruko. Tinggal menunggu Rika datang."


"Bagaimana, kalau denganku saja? Agung juga ikut. Kata Rika, dia menunggu di sana." bujuk Bu Marni dengan begitu lembut. Wajah Pak Hari mengulas senyum, Ia pun segera berdiri dan mengambil sebuah tas untuk tempat uangnya. Bu Marni membantu membereskan uang itu, dan Om Agung mempersiapkan beberapa pakaian untuk dibawa ke Rumah sakit.


" Aku tak tega, Mba." lirih Om Agung, yang tertunduk menunggu Pak Hari.


"Sama, Gung. Tapi, ini demi kebaikan dia. Dan, demi ketenangan para warga disini," Bu Marni mengusap bahu Om Agung, dan saling menguatkan satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2