Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Sekali pembohong, tetaplah pembohong


__ADS_3

"Jika kalian tetap menikah, aku tak akan datang." ancam I'am pada Sang Papa.


"Terserah... Papa tak perduli, kami tetap akan menikah, Dua hari lagi." jawab Papa Dirga.


I'am, dengan segala emosinya langsung pergi. Meninggalkan mereka berdua, tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.


Ia berjalan kembali ke kantornya, mengambil mobil yang masih terparkir disana. Jarak memang tak terlalu jauh, hingga hanya dengan berlari saja Iam telah sampai pada tujuannya.


***


"Dia, tak merestui kita." ucap Dona, tertunduk lemah.


"Dia hanya syok. Nanti, pasti akan berubah fikiran." ucap Papa Dirga, yang mengecup dahi Dona dengan begitu lembut.


Mereka memang sudah dekat sejak lama. Hanya saja, Dona selalu menyembunyikan hubungan mereka. Ia merasa tak enak hati, jika harus membuat kedua ayah dan anak itu harus bersitegang. Meski kini, semuanya harus terjadi juga.


Mereka berdua pulang kembali, setelah Dona membayar semua pesanan. Berjalan bergandengan dengan mesra, meski usia yang terpaut cukup jauh, yakni 25tahun. Semua orang tak akan menyangka, jika mereka adalah pasangan kekasih.

__ADS_1


***


Ia telah tiba di rumahnya. Tepatnya, di rumah keluarganya. Ia masuk ke dalam kamar, dan langsung membereskan semua pakaiannya masuk kedalam koper. Aulia, sang adik pun menyusulnya ke dalam kamar ketika mendengar kabar yang mengejutkan itu.


"Kak, Kakak mau kemana?" tanya Aulia, lirih.


"Mau pergi, setidaknya tak harus menyaksikan pernikahan kedua pengkhianat itu." jawab I'am, berada emosi.


"Kak, Kakak jangan gitu. Maha mau tinggalin Aul sendirian?" tangisnya.


"Kamu ngga tahu apapun, jadi tenanglah. Biarkan Kakak meratap semua rasa sakit ini sendirian. Biarkan Kakak tenang untuk beberapa saat." bisiknya, ditelinga sang adik kesayangan.


Aulia menangis terisak. Ia bingung, harus memihak pada siapa saat ini. Antara Papa yang memang butuh kebahagiaan baru, dan Kakaknya yang begitu sakit.


" Aul harus tetap disini. Aul, harus menjaga hak Mama disini. Kakak, hanya pergi sebentar."


I'am melepaskan pelukannya, lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah besar itu.

__ADS_1


Bukan tak ingin melepaskan harta sang Papa, tapi Ia mempertahankan hak yang telah Mamanya berikan. Ia takut, jika Ia melepaskan, akan ada orang lain yang memanfaatkan itu nanti.


I'am mengendarai mobilnya dengan cepat. Ia menuju sebuah hotel mewah, milik salah seorang sahabatnya. Ia membooking sebuah kamar dengan fasilitas yang lumayan mewah, dan menghabiskan bermalam-malam disana.


Ia diam, merenung, meluapkan segala rasa sakitnya. Tak jarang, Ia ke club yang ada di ruangan bawah, dan bermain dengan para wanita bayaran. Meski mereka tak sampai bermalam, karena I'am bukan lah pria penyuka **** bebas.


Dua hari mengisolasi diri. Iam mendapatkan kabar jika Papanya telah menggelar pesta pernikahan mewah, Didi sebuah hotel besar.


"Kalian serius rupanya." geram I'am, dengan softdrink nya.


Dalam berita pun mempertanyakan kehadirannya sebagai anak tertua.


"Ilham, Tengah menjalankan mandat saya di luar negri, sehingga tak dapat datang hari ini. Tapi, Ia tekah memberi selamat dan mengirim rangkaian bunga yang besar itu." tunjuk nya, pada sebuah rangkaian bunga diengah ruangan.


"Hhh, pembohong! sekali pembohong, tetaplah pembohong." gerutunya.


Wajahnya tampak begitu berantakan, dengan kumis dan brewok yang mulai panjang dan rambut yang acak-acakan. Matanya pun sayu, karena begitu sulit tidur malam dan siang. Ia tampak benar-benar hancur, dan seolah sulit sembuh dari rasa sakitnya.

__ADS_1


__ADS_2