Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Dua manusia dengan kehidupan rumit


__ADS_3

"Dingiiin." rengek Lila yang memang tampak menggigil.


Iam kemudian menggendong nya naik, dan membawanya pulang ke rumah Oma. Kembali, dengan motor antiknya. Sang Oma pun, rupanya sudah menunggu mereka dengan duduk di teras.


"Darimana?" tanya Oma Rum.


"Dari sungai, ajak Lila main."


"Udah mau maghrib baru pulang. Pamali... Nanti susah hamil."


"Maaf, Oma." sesal Lila, yang kemudian masuk dan segera ke kamar mandi.


Untung saja, meski tradisional, tapi kamar mandi sudah di buat modern. Satu kamar, memiliki satu kamar mandinya sendiri. Meski sumur dibelakang juga masih berfungsi dengan baik.


"Mas, udah." Lila keluar dengan handuk di kepalanya.


"Aku mandi dulu, nanti kita makan malam. Abis itu, kita pulang."


Lila hanya mengangguk, lalu membereskan pakaiannya di dalam tas. Pakaian kotorpun, Ia kemas dan dikantongi di dalam plastik hitam agar tak membasahi mobil Iam.


"Iam, Lila... Ayo makan malam." panggil Oma Rum pada mereka berdua.

__ADS_1


"Ya, Nek." jawab Lila.


Ia keluar lebih dulu, membantu Oma Rum menyiapkan menu makan malam mereka. Dan Iam menyusul beberapa menit setelahnya.


Makan malam begitu nikmat, dengan menu desa yang serba tradisional. Iam begitu lahap, karena memang telah rindu dengan masakan Oma. Setelah sekian lama, akhirnya Ia menikmatinya selahap ini.


"Nek, abis ini, Iam pulang, ya?"


"Loh, ngga nginep?"


"Iam banyak kerjaan. Apalagi, libur beberapa hari kemarin."


Oma Rum langsung murung, karena mungkin rasa rindunya belum tuntas. Tapi, Iam tak dapat menurutinya kali ini.


"Iam janji, kalau senggang bakal kesini lagi." imbuhnya.


Dan sesuai rencana, mereka pamit pergi setelah menyelesaikan makan malam bersamanya. Oma Rum melambaikan tangannya dengan wajah begitu sedih. Rasanya, Lila tak tega melihat yang seperti itu. Meski belum akrab, tapi Oma Rum baik menurutnya.


"Pengen nginep..." ucap Lila sedih.


"Besok, ya? Kerjaanku menumpuk. Besok, kita luangkan waktu untuk bulan madu disana." goda Iam, dengan kedip mata genitnya.

__ADS_1


Di sepanjang jalan yang gelap, Lila tak hentinya bercerita mengenai dirinya. Masa kecil, dari yang bahagia hingga yang paling sedih. Bahkan ketika Ia melihat Bapak meninggalkan Ibunya. Iam berusaha menjadi pendengar yang baik, karena Ia perlu itu untuk menghindari rasa kantuk yang berlebih.


"Sakit banget ketika itu. Bapak pergi, dan katanya udah menikah lagi diam-diam. Lila cuma bisa nangis di pojokan. Ngga bisa ngapa-ngapain."


"Ya, aku tahu rasanya. Aku pun, begitu sedih ketika Mama dinyatakan meninggal. Sedang kuliah di luar negri, dan tak mungkin pulang mendadak. Hanya bisa menangis, tanpa ada yang menenangkan."


Ada, yaitu Dona. Dia yang selalu ada di dekatku saat itu. Menghibur, dan membuatku tertawa sejenak melupakan sedih.


Dua orang yang memiliki masa keluarga rumit. Bersatu membina sebuah keluarga, dalam kondisi mendadak. Yang bahkan, belum memahami satu sama lain. Mereka tak pernah berjanji, namun berusaha untuk terus saling menguatkan.


Lila telah tidur. Ia tampak kelelahan, apalagi memang hari telah larut malam. Iam tak tega membangunkanya, dan Ia pun menggendongnya hingga ke lantai atas menuju apartementnya.


Bruughh! Iam menidurkan nya di ranjang besar mereka. Ia pun menghela nafas sejenak agak tak begitu lelah.


Lila masih pulas. Iam berguling di sampingnya, lalu menelungkupkan tubuhnya dekat dengan sang istri. Ia menatapnya, membelai pipinya, dan mengagumi lentik bulu matanya yang alami. Apalagi, bibirnya yang menggemaskan meski tanpa polesan lipstik.


Iam menjepit kedua pipi itu dengan tangan hingga bibir Lila mengerucut, lalu dikecupinya dengan gemas.


"Aaaaah, tidur...!" omel Lila, dengan mata yang masih terpejam.


Iam hanya tertawa, lalu memeluk Lila dan memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2