Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Ketemu mantan pacar


__ADS_3

"Selamat pagi, Bu, Pak." sapa satpam yang berjaga di pintu masuk.


Lila dan Iam kompak menundukkan kepala, dan memberi senyum padanya. Genggaman tangan Iam tak pernah lepas sepanjang perjalanan. Hingga tiba diruangan Iam dan bertemu kembali dengan Siska.


"Ibu, Ikut?"


"Ya, bosen di rumah. Disini sebentar, jagain Mas Iam biar ngga nakal." lirik Lila.


"Ah, kalau jagain Pak Bos sih, Siska juga bisa." lagi-lagi memuji diri sendiri.


Lila hanya tersenyum, sementara Iam mulai memeriksa berbagai file yang ada di mejanya.


"Hari ini, wawancara kerja?" tanya Iam.


"Iya, Pak. Itu CV, dari beberapa orang yang melamar kerja disini. Sesuai dengan apa yang Bapak cari. Fresh graduate semua."


"Oke, panggil Satu persatu masuk kemari."


Siska mengangguk, lalu keluar dan mulai memanggil para pelamar.


Iam memang tengah membutuhkan beberapa tenaga tambahan. Apalagi, Ia berencana membuka cabang baru di sebuah kota yang tak jauh dari tempatnya. Maka dari itu, Ia harus bisa menyaring banyak tenaga yang berkualitas dan berwawasan luas. Tapi, tak juga meninggalkan para pekerja lama mereka.


"Mas, Lila sarapannya di ruang pentry aja deh. Ngga enak disini. Masa, orang interview, Lila makan."


"Hmm? Yaudah, ke pentry aja. Disana banyak karyawan, jadi kamu ngga sendirian."

__ADS_1


"Iya..." Lila berdiri, dan membawa kembali nasi uduk nya untuk ke pentry.


Iam bekerja sesuai jadwal, dan Lila sarapan sembari mengakrabkan diri dengan para pegawai suaminya. Tak ada rasa canggung, karena Lila begitu cepat megakrabkan diri dengan semua yang ada disana.


"Ngga usah begitu, saya kemarin juga cuma Ob. Santai aja." ucap Lila.


Mereka menurut. Berusaha biasa saja, tapi dengan tetap menjaga norma dan kesopanan. Mengobrol mengenai pekerjaan, kenyamanan, dan semua keluhan pun mereka sampaikan.


"Ya, nanti sampaikan ke Bapak. Soalnya, saya ngga ada jabatan apapun. Jadi, ngga bisa bantu."


"Iya, Bu. Terimakasih sudah mendengar kami."


"Sama-sama. Kerja yang rajin, ya? Saya mau balik ke atas. Nanti, Bapak nyariin."


"Iyalah, kan Bapak bucin." ledek salah seorang dari mereka.


"Hey, Lila!" seorang pria memanggil.


Langkah Lila terhenti. Mengingat suara itu, yang seolah Ia pernah mendengarnya.


"Ya, tak hanya pernah dengar. Tapi, aku juga pernah pacaran dengannya."


Lila menoleh, dan melihat pria itu menghampirinya.


"Hey, apa kabar? Sudah lama ngga ketemu." Dialah Duta, mantan kekasih Lila yang telah menghamili sahabatnya dulu.

__ADS_1


"Hey, kabar baik. Mau apa kesini?" Lila berusaha bersikap ramah.


"Melamar kerja. Meski udah punya anak, tapi kan masih kategori fresh graduate. Toh, baru lulus kemarin. Daripada berhenti ditengah jalan."


"Eh, nyindir siapa?" fikir Lila.


"Oh, iya, Lupa. Harusnya, Lila juga lulus tahun ini. Bareng Mas Duta sama Ria."


"Iya, Ria juga baru lulus. Sebisanya kuliah, sambil terus jaga anak." bangganya.


"Iya, biaya rumah tangga ditanggung orang tua sampai bengek." batinnya lagi.


"Lila, juga kerja disini?"


"Hah, gimana?"


"Lah, itu. Lila baru keluar dari pentery? Lila OB disini? Udah berapa lama?"


"Oh, iya, OB. Baru.... Dua mingguan. Masih baru banget, iya." jawab Lila.


"Ya, sesuai lah ya, sama bidang kamu. Kan, cuma lulusan SMA. Jadi, ya batesnya disitu."


"Iya, Lila selalu menerima takdir kok."


"Yaudah, aku keatas dulu. CEOnya langsung yang wawancara.. Byeee..."

__ADS_1


"Iya,. Byeee... Semoga berhasil." Lila melambaikan tangan pada mantan kekasihnya itu.


__ADS_2