
Iam yang tiba di kantor, langsung masuk ke dalam ruangannya. Siska telah menunggu, untuk beberapa rapat besar hari ini.
"Pagi, Siska."
"Pagi, Pak. Ceria bener?" Siska menatapnya heran, sembari memberikan beberapa dokumen padanya.
"Ya, Iam happy. Lagi ngurusin istri yang mulai ngidam, ternyata menyenangkan."
"Lah, Bapak, dimana-mana suami pada puyeng ngurusin istri ngidam. Ini malah seneng." ledek Siska.
Ima bergeming, fokus kembali dengan segala pekerjaan yang telah menunggunya.
"Iam, ini ada file yang harus di tanda tangani." Dona tiba-tiba menghampirinya.
"Ya, Don? Mana file nya? Untung tak telat, karena sebentar lagi aku rapat." Iam mengadahkan tangan tanpa menoleh pada Dona.
"Lila, bagaimana? Katanya dia hamil?" tanya Dona.
"Ya, dia hamil. Anak pertama kami. Akhirnya, aku bisa bangga dengan diriku sendiri kali ini." Iam berbangga diri.
"Selamat, ya. Aku ikut senang mendengarnya. Aul memberitahu kami kemarin."
"Ya, terimakasih. Aku harap, Papa juga senang menyambut cucu pertamanya."
__ADS_1
"Pastilah, Papa mu tampak sangat senang kala itu." jawab Dona.
Ia memberikan file itu, lalu menatap Dona dengan memberikan senyum ramahnya.
"Damai, Pak?" tanya Siska, setelah Dona pergi dari sana..
"Ngomong apa kamu, Siska? Kami sudah punya hidup masing-masing. Biarkan saya fokus dengan Lila."
"Baiklah, maaf." lirih Siska, dengan terus membereskan meja Iam yang tampak berantakan.
***
"Rikaaa! Rikaaaa! Dimana kamu? Kenapa kalian tak juga pulang?" pekik Pak Hari yang terus berdiri didepan pintu rumahnya. Duduk di lantai, dengan rambut dan pakaian yang sangat rapi. Tampaknya sudah mandi, karena tubuhnya pun tampak bersih.
"Rika mana? Lidia mana? Saya nunggu mereka, mau lihat ruko di dalam pasar. Mau beli saya." jawabnya dengan yakin.
"Yaelah, Bapak. Ngga nyadar, apa memang udah miring? Udah tahu biniknya minggat, masih juga ditungguin."
"Kenapa Bu amar?"
"Itu, Pak Hari. Masih aja nungguin Bu Rika."
"Biasa, kongslet. Kasihan, tapi ya kesel. Udah lah, diemin aja. Daripada ngamuk nanti. Kemaren lakik saya dilempar sendal sama dia. Luka noh, jidatnya." Bu Rani menepuk bahu Bu amar, dan mengajak nya segera pergi dari sana.
__ADS_1
Semua tetangga tahu akar masalahnya. Karena ketika menarik uang, Ia bercerita dengan bangga pasal uang banyak yang diberi menantunya yang pengusaha kaya raya itu. Dan ketika hilang, tetangga hanya bisa menatapnya. Kasihan, tapi juga kesal. Pasalnya, Ia tak segan menyerang orang yang berani menasehatinya.
Kadang rapi, duduk santai di depan rumah. Kadang kucel, menggaruki kepala sembari meraung atas uangnya yang lenyap. Ia telah menerima karmannya, mungkin. Karena semua yang Ia lakukan di masa lalunya.
***
"Hallo, sayang? Sedang apa?"
"Lagi baca buku, Mas. Kenapa?"
"Jangan lupa makan, jangan lupa minum vitaminnya. Apa perlu, aku pulang untuk menyuapi?"
"Mas, Lila ngga papa loh, ya. Mas fokus aja sama pekerjaan, biar cepet pulang. Lila pengen jalan-jalan keluar. Udah lama ngga main."
"Oke, baiklah, nanti kita main. Apa yang tidak untukmu, sayang." kecup Iam dengan gemas lewat layar Hpnya.
Bel apartemen Lila berbunyi. Ia pun segera melihat dari lubang yang ada. Rupanya Dinar berdiri di depan dan menunggu pintunya di bukakan.
"Hey, Mba? Ada apa?" sapa Lila.
"Lila, Maaf. Mba mau balikin sweaternya Mas Iam. Semalem, buat nutup badan Mba yang keseksian baginya."
"Hah, ketemu dimana?" tanya Lila, sedikit memicingkan matanya. Menerima sweater itu dan mencium baunya yang sedikit aroma parfum wanita disana.
__ADS_1