
"Mas, kalau mau ke kantor ngga papa. Lila sam Mba Dinar."
"Serius, ngga papa? Siska kasih tahu, ada jadwal rapat hari ini." tanya Iam.
"Iya, berangkat aja. Lila ngga papa."
"Hmm, baiklah. Aku berangkat dulu, kamu baik-baik di rumah. Jangan telat makan, inget itu." Iam memperingatkan, karena Lila suka lalai ketika jadwalnya makan.
"Iya, Lila tahu. Maaf ya, siap-siap sendiri kali ini. Jas, kemeja, semuanya ada di lemari. Udah disusun rapi." tunjuk Lila. Iam segera bersiap, mencari perlengkapannya sendiri. Hanya, kesulitan ketika akan memasang dasinya sendiri.
"Bisa Saya bantu, Mas?" Dinar menghampiri, dan mencoba memasangkan dasi Iam. Tapi, Iam mundur selangkah dan menghindarinya. "Maaf, ngga usah." ucap Iam dengan segala hormat.
"Ah, baiklah. Hanya menawarkan, karena melihat Mas begitu kesulitan, tadi."
"Ya, terimakasih." ucap Iam, dengan dasi masih belum terpasang. "Sini, Mas." pinta Lila, dan Iam langsung duduk berhadapan di sebelahnya. Lila mulai membentuk dasinya dengan rapi, dan Iam memasang jasnya sendiri.
"Pergi dulu, ya?" kecup Iam, di dahi, pipi, dan bibir Lila. Ia pun pergi, meninggalkan mereka berdua di apartemen yang besar itu.
__ADS_1
"Jangan tersinggung ya, Mba. Mas Iam, memang gitu." ucap Lila pada Dinar.
"Ya, ngga papa. Malah bagus, kan? Iam, memang begitu setia. Bahkan hanya selembar dasi saja, tak mau diwakilkan." puji Dinar. "Ayo, Lila makan dulu. Mba masakin sop ayam, tadi. Dengan bahan seadanya, tapi." Dinar menghampiri, dan mulai menyuapi Lila dengan makanannya.
***
"Siang, Siska, sebentar lagi saya sampai di kantor. Persiapkan semua bahan pertemuan."
"Baik, Pak. Karena Bapak akab datang, maka kami hanya menunggu kedatangan Bapak saja."
"Ya, Aul? Kenapa?"
"Kakak, dimana? Kak Lila, udah pulang?" tanya Aul, terdengar khawatir.
"Kakak? Sedang menuju kantor. Kak Lila sudah pulang. Jika Aul sempat, maka jenguklah. Tapi, jangan sebut tentang Papa disana." pinta Iam.
"Iya, nanti Aul kesana. Kabarnya, Papa juga pulang hari ini. Mami, sedang mengurus semuanya."
__ADS_1
"Syukurlah. Kakak ikut senang mendengarnya. Kakak, jalan dulu. Nanti beritahu jika akan menemui Kak Lila. Ia, harus bedrest total setelah ini."
"He'em," Aul menutup teleponnya.
"Bagaimana, Aul?" tanya Papa Wira, yang duduk di sofanya. Ia tampak membaik, karena sudah bisa bangun dan berpindah tempat sendiri. Meski masih mengenakan selang infus di tangannya.
"Kak Lila udah pulang, apa. Tapi, harus bedrest total katanya. Papa mau jenguk?"
"Tidak... Iam tak mengizinkannya. Aul saja yang kesana. Beri tahu kabarnya, jika ada apa-apa. Papa mengontrol dari kejauhan.
" Pa, sebenarnya apa yang terjadi? Aul sendiri sepertinya, yang ngga tahu apa-apa. Papa, sama Kak Lila kenapa?" tanya Aul, yang semakin mendekat ke papanya.
"Entahlah. Papa hanya merasa, curiga ini begitu besar. Berawal dari pernikahan mereka yang mendadak. Uang pemberian Iam untuk Bapak Lila. Masuknya sahabat Lila. Semua, seolah terrencana. Merasa tak mungkin, jika sebuah kebetulan."
"Curiganya Papa, hanya sebatas itu?" tanya Aul, memicingkan matanya. "Pa, Kak Lila itu wanita yang baik. Sangat baik, apalagi dengan Aul."
"Ya... Entah bagaimana, semua terasa menunjukkan sesuatu, yang bisa membuat Papa overthinking padanya. Semuanya, seolah tak ada yang baik. Sedari awal pertemuan pun, serasa semua itu hanya sebuah kesalahan."
__ADS_1