
"Dona, kenapa bertengkar disini?" tegur Papa Wira lirih.
"Oh, tidak.... Aku ngga ngajak ribut kok, Mas. Mereka aja yang mancing dan yang lebih heran, umpan mereka tepat sasaran. Apa, selama ini, mereka diam-diam berhubungan sama Mas? Mencari tahu dan mengkuti tentang Lila?"
"Itu, bukan urusan kamu, Dona. Aku hanya ingin yang terbaik untuk putra semata wayangku. Dia, perwaris perusahaan ku nantinya."
"Yang terbaik? Dengan siapa? Shandy?"
"Ya, meski bukan dia, tapi pasti ada yang lebih baik dari Lila. Keluarganya ngga jelas,"
"Bahkan sekarang, bapaknya masuk Rumah sakit jiwa. Gila dia," sambung Shandy.
"Benarkah? Makin tidak benar! Pastinya, Iam akan terseret namanya nanti. Bisa berakibat buruk untuk perusahaan. Tidak bisa dibiarkan!"
Papa Wira berusaha turun dari tempatnya. Ingin membuka selang infus, namun sulit karena pasti akan banyak darah keluar disana.
__ADS_1
" Mau pergi, kemana? Mengusik Iam lagi? Kalau Mas mengusik Iam dan Lila, aku yang pergi!" ancam Mami Dona.
"Berani kamu, Dona? Kamu masih mencintai Iam? Kenapa selalu saja membela dia?" sergah Papa Wira pada istrinya.
"Kalau aku cinta, dari awal aku ngga akan pernah setuju menikah sama kamu, Mas. Ini cuma demi kebaikan kita, keluarga kita."
Shandy yang diam-diam memanggilkan perawat, datang bersamanya untuk membuka selang infusnya. Papa Wira pun bangun, berusaha keluar. Mungkin tujuannya ke apartemen Lila.
"Mas pergi, aku pergi. Dan ketika aku pergi, bahkan Mama dan Shandy tak ada hak lagi, bahkan hanya untuk sekedar dekat dengan Mas. Karena kita sudah pisah." ancam Mami Dona, dengan wajah begitu serius kali ini.
"Durhaka kamu, Dona!" sergah Oma Nia.
"Ya, Dona memilih durhaka sama Mama dan Suami Dona kali ini. Dona juga ingin tahu, bagaimana respon Mama, ketika tahu jika Iam memisah harta dengan Papanya. Hari ini, semua keputusan akan dibacakan. Dona dan Mas Wira, tak lain lagi hanya seorang karyawan, dengan jumlah saham kecil disana."
" Bisa-bisanya! Wira itu Papanya, kenapa Wira yang...... "
__ADS_1
" Ya, Mas Wira adalah Papa kandungnya. Tapi jika Mama tahu, pemilik perusahaan sesungguhnya adalah Iam dan Mendiang Mamanya. Nama Wiratama group, hanya di pakai ketika perusahaan diambang masalah Lima belas tahun lalu. Hingga semua mereka ganti dan mulai dari awal. Bagaimana, Ma?"
" Dona, sudahlah." sergah Papa Wira, yang sedari tadi diam disana.
" Ya, Aku diam setelah ini." Mami Dona langsung duduk dengan manis. "Aku bahkan sudah menerimamu apa adanya, Mas. Sangat apa adanya. Aku dengan mu tulus, meski banyak yang curiga dan menganggapku bodoh. Tapi, kenyataannya aku memang begitu bodoh saat ini."
Oma Nia tampak kesal. Ia menghentakkan kakinya dan menggandeng Shandy pergi dari sana. "Gimana, Ma?" tanya Shandy.
"Diam dulu, Mama akan berfikir. Jika Wira jatuh miskin, setidaknya Dona akan dapat gono gini dari hartanya. Sedikit, tapi lumayan. Dona masih muda, pintar, dan cantik. Akan banyak yang mau dengan dia."
"Terus, itu Mas Wira mau di gimanain? Suruh cerai? Mana mau."
"Kamu ingat ancaman Dona? Jika dia akan pergi, jika Wira masih nekat mengusik hidup Iam dan Lila."
"Ya, Shandy inget. Baru beberapa menit, juga." jawabnya.
__ADS_1
"Jika Wira tak mungkin meninggalkan, maka Kita buat Dona yang pergi."