
"Kenapa kalau kami memang One night stand? Masalah denganmu?"
Iam datang, dengan tatapan tajamnya pada Shandy.
"Berarti, dia wanita ngga bener. Bekerja di hotel, dan menggoda semua tamu disana."
"Kami melakukannya sekali, dan dia pun masih suci kala itu. Aku, yang menghampirinya untuk memberi tanggung jawab. Jangan asal bicara kamu," tunjuk Iam pada gadis nakal itu.
"Iam, maaf. Keluarga ku telah membuat keributan disini. Aku, sangat merasa bersalah pada kalian." sesal Mami Dona, dengan mata berkaca-kaca.
"Keterlaluan kamu, Dona. Kamu lebih percaya pada mereka daripada adikmu sendiri. Dan Kamu, Wira. Kenapa ngga ada tegasnya sama sekali? Kami ditindas disini!" sergah Oma Nia.
"Saya disini, menghormati Mama mertua saya, dan adik ipar saya dengan begitu baik. Tapi kenyataannya, kalian memanfaatkan semua dengan cara yang buruk. Kalian membully anak saya, haruskan saya bela?" jawab papa Wira.
Oma Dona tampak mencebik kesal. Bukan hanya pada Papa Wira, tapi pada semua orang yang ada disana. Terutama, pada Lila yang paling berani kepadanya.
"Tak sepolos yang ku kira, rupanya. Kau berani menabuh genderang perang padaku?" batinnya, dengan lirikan tajam penuh sinis.
Mami Dona masih tampak berfikir dengan keras. Kepala nya sakit, apalagi perasaannya tertekan. Sedih, malu, dan tak enak hati pada keluarga besar suaminya. Hingga Ia terpaksa harus memutuskan sesuatu yang begitu sulit kali ini.
__ADS_1
"Ma, maaf. Mama harus pergi dari sini." lirih Mama Dona, dengan begitu berat.
"Hey, kenapa Mama?"
"Ya, karena rumah ini milik Iam. Dona, dan Mas Wira hanya membantu menjaga rumah ini dengan baik. Ataupun, kami yang akan pergi, jika mereka ingin kembali kemari."
"Dasar, anak dan menantu tak bisa diandalkan!"
Oma Nia menyeret Shandy, naik ke kamar mereka.
"Dona, kamu ngga papa?" Papa Wira memegangi istrinya yang nyaris terjatuh dilantai.
"Ngga usah, Lila, disini aja. Hanya, tolong ambilkan minum." pinta Mami Dona, yang benar-benar pucat sekarang.
"Mam, maafin Aul. Aul bukan mau mengadu domba, tapi...."
"Aul, Mami tahu bagaimana mereka. Dan Mami tahu, kalau Aul ngga akan mungkin bohong sama Mami. Mami, yang harusnya minta maaf, atas semua yang Aul alami."
Mami Dona memeluk anak sambungnya itu dengan begitu erat. Bahkan mengecup dahinya sebagai permintaan maaf yang mendalam.
__ADS_1
" Iam, mau kah kamu kembali kemari? Rumah sepi, jika tak ada kalian." pinta Papa Wira.
" Kami, sudah punya rumah sendiri. Tak mungkin di tinggalkan kosong begitu saja." jawab Iam.
Lagi-lagi Papa Wira kalah. Ia menghela nafas lagi, dan menghembuskannya lagi. Mengusap wajahnya dan memijat dahinya.
" Bagaimana kalau, setiap malam minggu, kalian menginap disini" tawar sang Papa.
"Tapi...."
"Mas, kan cuma beberapa hari. Mau, ya?" bujuk Lila, yang memberikan minuman pada Mami mertuanya.
"Lila...."
"Ayolah...." rengek Lila, menggelendot manja di lengan sang suami.
"Kau memang tak pernah bisa ku tolak." Iam mengusap rambut sang istri.
Mungkin ini bukan akhir, tapi baru awal dari semua permainan. Apalagi, Shandy dan Oma Nia masih menatap Lila dengan penuh benci dan dendam kesumat. Pergi dengan tangan hampa, dan hanya tinggal di sebuah kontrakan sederhana pemberian Mami Dona. Membuat mereka begitu sesak, hidup dalam semua keterbatasan.
__ADS_1
"Mama ngga terima! Mama ngga terima kamu giniin, Dona! Kamu durhaka!" racau Oma Nia dengan segala amarahnya.