
"Lila, jangan kesana. Bentar lagi kamu di panggil," Mba Dinar memegangi lengan Lila, berusaha agar Lila tak mendekat pada mertuanya.
"Sebentar, Mba. Mas Iam juga belum balik dari pendaftaran." ucap Lila. Mba Dinar hanya menghela nafas, dan tetap mengikutinya di belakang..
"Masih lama?" tanya Papa wira pada Mami Dona.
"Bentar lagi, tunggu aja." balasnya, dengan memainkan Hp.
"Pa? Mami?" panggil Lila. Mami Dona menatapnya tajam, dan langsung berdiri memeluknya erat, "Lila, kamu apa kabar? Akhirnya bisa ketemu kamu." bisiknya.
"Lila sehat, Mam. Papa, gimana?" Lila menunduk, mengulurkan tangan pada Papa Wira. Tapi, sang mertua justru menyembunyikan tangannya di belakang. "Papa?" lirih Lila, terkejut dengan sikap yang diberikan.
Tak enak hati, Mba Dinar langsung meraih Lila. "Ayo, balik ke poli mu. Nanti dipanggil, malah ngga denger." gandengnya.
"Cari asisten pribadi? Sudah merasa jadi orang paling penting sekarang?" sindir Papa wira.
__ADS_1
"Mas! Ini Rumah sakit." tegur Mami Dona padanya.
"Dia yang menghampiri kita. Dia harus terima, apa yang kita katakan. Kenyataannya seperti itu. Iam diangkat jadi Direktur utama, dan Dia seolah naik ke tahta tertinggi. Menganggap dirinya ratu dengan tahta tertinggi."
Lila berdiri, menggenggam tangannya. Ia menahan rasa kecewa dan amarahnya sendiri. "Ya, Lila yang menghampiri. Itu semata, karena rasa hormat Lila pada mertua. Tapi, rupanya yang Lila hormati, tak sepantas itu, sepertinya."
"Tampak dari ucapan mu. Rasa hormat itu, hanya sebagai pertunjukan agar kamu di segani. Kamu, mulai menunjukkan sifat aslimu, sekarang."
"Pak, maaf. Saya harus bawa Lila pergi." Mba Dinar menengahi, dan langsung membawa Lila pergi dari mertuanya. Lila hanya diam, mematung dengan apa yang baru saja Ia alami.
"Lila, ngga papa?" tanya Mba Dinar. Lila hanya menggelengkan kepalanya, "Lila, nunggu Mas Iam." lirihnya. Dinar pun ikut diam, dan menunggu hingga nama Lila di panggil.
Pemeriksaan demi pemeriksaan di lakukan, dari cek up, hingga USG berkala yang memang harus sering di lakukan.
"Ayo, baringan disana. Kita mulai USGnya." pinta sang dokter.
__ADS_1
"Ayo sayang," ajak Iam. Tapi Lila tetap di tempat duduknya, dan menarik ujung jas Iam. "Ada apa?" tanya Iam, menunduk pada sang istri.
"Ada, yang mau Lila tanyain. Tapi, Mas harus jujur, sejujur jujurnya." pinta Lila.
"Apa sih, yang engga buat kamu? Ayo, kita lihat bayi kita dulu." bujuk Iam, membantu Lila berdiri menuju meja USG.
Iam membantunya membuka bagian perut yang mulai bulat itu, dan Dokter mempersiapkan semua alantya. Sementara perawat, mengoleskan gel pelumas di perut Lila.
" Lihat, ini bayi kalian. Pertumbuhan sempurna, kepala, tangan, kaki. Dan detak jantungnya pun sangat baik. Kalian sudah menjaganya sekuat tenaga." puji sang dokter. "Tapi, apa saat ini Lila tengah stres?"
"Stres? Darimana Dokter tahu?" tanya Lila.
"Ya, lihat bayimu. Wajahnya sedih." tunjuk dokter, pada bayi tampan mereka.
"Lila kenapa?" bisik Iam.
__ADS_1
"Lila, ketemu Papa. Tadi, di luar sana. Papa, tampak kesel banget sama Lila. Dan Mama Dona, kenapa tampak seperti di halangi ketemu sama Lila? Apa yang di rahasiakan?" Lila mencecar Iam dengan banyak pertanyaan.
"Hey, nanti kita bicarakan. Sekarang, fokus saja dulu dengan si tampan kita." kecup Iam di keningnya. Berusaha tak memperkeruh keadaan, dan membuat Lila tenang dengan segala rasa penasarannya.