
Aul begitu telaten mengurus Lila. Dengan kemampuan alakadarnya, Ia memasakkan bubur untuk Kaka iparnya itu. Bahkan menyuapinya hingga selesai.
"Mandi, yuk? Aul mandiin."
"Ngga usah, Kakak mandi sendiri. Aul istirshat aja dulu."
Aul memang tampak lelah. Dari segala aktifitas kampusnya, Ia harus membantu Iam mengurus Lila. Untung saja, Lila tak terlalu memanjakan penyakitnya.
"Kak..." panggil Aul dari luar kamar.
"Ya?"
"Kata Kak Iam, mau dianterin ke dokter ngga?"
"Ngga usah, Kakak udah sembuh." jawab Lila.
Ia pun segera keluar, dengan piyamanya. Rambutnya dibungkus handuk, dan wajahnya tampak lebih segar sekarang.
Lila menikmati segelas teh hangat yang Aul buat untuknya. Aul pun ikut meminumnya, dengan sedikit perasan lemon yang begitu nikmat baginya. Ingin bertanya lagi mengenai Iam, dan siapa masa lalu itu. Tapi, Lila memilih bertanya sendiri pada yang bersangkutan.
"Dia sebentar lagi pulang." fikir Lila.
Dua gadis cantik itu menonton sebuah serial drakor bersama. Tertawa, dan bahkan menangis bersama begitu kompak. Hingga mereka tak sadar, jika Iam telah datang dan menghampiri keduanya.
"Hey sayang, sudah sembuh?" tanya Iam, mengusap rambut sang istri yang masih basah itu.
"Udah, Mas. Mas mau mandi? Lila siapin gantinya, ya?"
__ADS_1
Lila menggandeng mesra lengan suaminya. Meninggalkan Aul yang masih fokus dengan dramanya.
"Mana bajunya, sayang?" tanya Iam. Keluar dengan handuk mininya dari kamar mandi.
Sang istri menghampirinya, membantu memakaikan baju tidur couple mereka. Iam terheran, karena Ia tak pernah memakai baju seperti itu sebelumnya.
"Lila beli kapan?"
"Beli online, punya temen Lila. Cantik 'kan?" jawabnya.
"Tapi, lucu pakai ini. Aneh aja gitu."
"Tapi jangan dilepas, Lila suka. Mas kalau tidur, ngga pernah pakai baju. Takut masuk angin."
"Baiklah. Tapi, hanya ini 'kan?" Iam merentangkan tangannya, menatap tubuh anehnya yang dibalut oleh piyama lucu itu.
Iam melotot, hatinya menjerit sekuat tenaga. Ia ingin menolak, tapi tak kuasa. Sedangkan untuk menurut, Ia tak nyaman. Ia bahkan merasa sangat konyol saat ini.
" Aku, harus bagaimana?" fikirannya galau.
Lila pun keluar, mengajaknya makan malam. Lila tak memasak banyak, dan Ia hanya membuatkan makanan untuk sang suami. Dan seperti biasa, begitu nikmat Ia rasakan, hingga semua habis tak tersisa..
"Ciee, couple an." ledek Lila yang geli melihat Kakaknya begitu manis.
"Jangan ngeledek."
"Siapa? Aul kan memuji. Kakak imut pakai itu, pas sama Kak Lila." Aul mengacungkan jempol untuk keduanya.
__ADS_1
Aul pulang lagi, dan Ia pulang sendiri menggunakan taxi. Sebenarnya sudah memiliki mobil pribadi, tapi Ia belum memiliki keberanian untuk menyetir. Sang Papa pun terlalu protektif, dan selalu membuatnya tak bisa bebas menjadi dirinya sendiri. Hanya dengan Iam lah, Aul merasakan begitu nyaman. Ditambah dengan Lila.
"Ya, sendiri lagi." keluh Lila.
"Lah, ini siapa?"
"Beda, Mas. Kalau sama Aul tuh, asik, enak diajak ngobrol sama curhat."
"Curhat apa? Sini, aku dengerin."
"Curhat, tentang masa lalu Mas Iam?" Lila sempat ragu, meski akhirnya terucap juga dari bibirnya.
"Kenapa bahas masa lalu, mending mikir masa depan." lirik Iam genit.
"Hah, maksudnya?"
"Bikin pewaris, yuk, buat Wiratama group."
Tatapan Iam begitu ganas. Lila pun mundur perlahan dari tempatnya. Iam yang mengetahui itu, langsung menarik tangannya kuat-kuat..
"Ngga mau, capek..." pekik Lila.
"Ayo, kan sebentar."
"Engga...." tawa Lila, lalu Ia berlari mengelilingi ruangan di apartemen luas itu. Iam mengejarnya dengan tawa yang sama.
Seperti anak kecil, tapi membahagiakan bagi keduanya.
__ADS_1