
"Mas, jangan bercanda." bisik Lila di telinganya.
"Kenapa harus bercanda? Dia memarahimu saja dengan begitu serius."
"Ma-maaf, Bapak. Saya ngga serius-serius amat kok. Hanya saja, saya memang harus sedikit keras, agar yang lain takut melanggar peraturan." jawab Bu Loli, yang tampak begitu gugup.
Lila berusaha berdiri dari pangkuan Iam, tapi Iam terus menahannya. Ia masih ingin bicara, tapi Lila ingin segera pulang. Setelah menerima permintaan maaf Bu Loli dengan tulus, barulah Iam berdiri dan menggandeng Lila untuk pulang bersama.
Semua sahabat dan rekan kerja, menatapnya dengan penuh tanya. Mereka juga menunggu sebuah klarifikasi dari seorang Lila tentang hubungan mereka hingga ke jenjang pernikahan. Yang begitu singkat, bahkan tak sampai Satu minggu.
"Mas, sebentar."
"Mau apa lagi? Lila udah salah, pergi dari rumah tanpa izin. Aku kasih hukuman, nanti."
"Iya, Lila tahu kalau Lila salah. Tapi, izinkan sebentar bicara dengan mereka."
Iam berhenti, dan melepaskan gandengan tangannya.
"Sepuluh menit. Aku menunggu di lobi."
Lila mengangguk, lalu berlari menuju para sahabatnya di pentry.
__ADS_1
"Hey...."panggil Lila, lalu memeluk masing-masing sahabatnya.
Mereka mulai mengajukan pertanyaan yang ada di benak mereka masing-masing. Lila hanya menjawab sebisanya, karena waktu yang di berikan oleh Iam sangatlah minim.
" Ya, Lila udah menikah sama Mas Iam, Tiga hari lalu. Semua mendadak, bahkan ngga mengundang siapapun kecuali sanak saudara dan tetangga yang terdekat. Tapi, maaf... Lila ngga bisa jelasin lagi panjang lebar. Mas Iam udah nungguin."
"La, dia ngga jahat 'kan? Dia juga ngga arogan' kan? Yang kita tahu, Pak Iam lari ke hotel karena gagal menikah." tanya Ratna.
"Sejauh ini, engga. Mas Iam sangat baik, dan mengerti kondisi Lila. Semoga, seterusnya seperti itu."
Semua sahabat meng'aminkan. Mereka juga memberi doa dan selamat atas pernikahan dadakan itu. Meski, mereka tak memberi apapun setelahnya, karena Lila menolak.
"Mau kemana lagi, setelah ini?" tanya Iam, menyetir mobil mewahnya sendiri. Sedangkan Siska, Ia biarkan kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya..
"Lila laper, Mas."
"Makan apa?"
"Terserah..."
"Jangan terserah, Lila. Ucapan terserah dari seorang wanita itu mematikan."
__ADS_1
Lila menoleh, dan mendelik karena ucapan suaminya itu. Rupanya, Iam begitu faham dengan wanita..
"Di ujung jalan sana ada cafe. Nah, disana Lila sering makan sama temen-temen. Mau kesana?"
Tanpa menjawab, Iam langsung membelokkan mobilnya ke arah yang Lila tunjuk. Mereka berhenti, dan makan disana sesuai dengan menu yang ada.
"Jujur, baru kali ini makan di tempat seperti ini." ucap Iam.
"Iya, orang kaya makannya di restaurant. Lila aja, kesini sekali-kali. Cuma waktu gajian doang."
"Kasihan istriku. Pantas badannya kecil, tak pernah makan enak rupanya." ledek Iam dengan tawa renyahnya.
"Ish, malah ngeledek."
Makan siang terasa begitu nikmat ketika lapar. Apalagi, ditemani suami tersayang. Lila bukan lah orang yang suka menjaga image manis, tapi Ia juga tak terlalu blak-blakan. Ia lebih ke apa adanya yang dia punya, dan tak pernah mau merepotkan banyak orang untuk hidupnya.
Iam semakin faham, bagaimana wanita yang telah Ia nikahi itu. Lama kelamaan, Ia mulai mendalami karakter Lila yang menggemaskan.
"Aah, kenyangnya." sandarnya, sembari mengusap perutnya yang rata.
Iam memberikan dompetnya, dan meminta Lila membayarnya dikasir. Sementara itu, Ia kembali ke mobilnya untuk menunggu.
__ADS_1