Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Kabar Pak Hari, untuk Bu Marni


__ADS_3

"Ketemu semalem, mba nebeng ke club. Biasa, berangkat kerja. Udah ih, ngga usah cemburu. Justru Lila harusnya bangga sama Iam. Dia sosok yang menghormati wanita. Padahal mungkin, kalau lelaki lain. Akan ganggu atau bahkan goda Aku." Dinar menundukkan kepalanya tersipu malu.


"Hmmmh, iya. Makasih ya, Mba, udah balikin. Ngga duduk dulu? Lila mau kasih sesuatu," Lila berlari kecil, menuju kulkas dan mengambilkan Satu Cup bobanya untuk Dinar. "Nih, Mba. Mas Iam belinya banyak banget. Lila sampai bosen, jadi Lila bagiin aja deh."


Dinar tertawa, sembari menancapkan pipet boba itu lalu menyeruputnya, "Iam itu sayang banget sama kamu, La. Minta Satu, dikasih sepuluh."


"Ya, meski kadang tampak berlebihan." jawab Lila.


Mereka berdua duduk di sofa, saling nenyeruput minuman masing-masing. Disanalah, Dinar mulai membicarakan suaminya.


"Mas iwan itu, dendam sama keluarga Mba."


"Dendam kenapa?" Lila melanjutkan pertanyaan. Ia berusaha menjadi pendengar yang baik, yang akan membuat Dinar nyaman dalam ceritanya.

__ADS_1


"Dulu, kami nyaris ngga direstui. Apalagi, Mas Iwan pekerjaan nya masih standar menurut mereka yang pengen menantu berjabatan tinggi. Kami pisah, setahun Mba dinikahin sama pejabat disana. Tapi gagal, toh hati Mba tetep ke Mas Iwan. Dan karna perceraian itu, Ayah sakit-sakitan. Mba bantu biaya, tapi Mas Iwan menolak bantu karena.... "


"Masih dendam? Kenapa begitu? Biar begitu, dia adalah menantu." potong Lila.


"Mba ngerti perasaan dia. Jadi, Mba ngga mau memaksa. Makanya mba kerja. Itu semua, dalam pantauan dia kok. Yang penting juga, Mba harus siap kapanpun dia minta dilayani." Dinar menyedot minumannya dalam-dalam. Seolah menjadikannya pelampiasan dari segala rasa yang ada. Dingin air yang masuk, begitu menyejukkan baginya.


Dinar kemudian pamit. Ia harus istirahat sejenak sebelum kembali bekerja malam nanti. Lila kembali sendiri, merenungi nasibnya yang masih seribu kali beruntung dari Dinar.


"Ya, apalagi yang aku ragukan? Aku hanya harus setia, dan menuruti semua maunya. Apalagi, untuk menjaga bayi kami." Lila mengusap perutnya, dan sesekali memainkan dengan jari telunjuknya.


"Assalamualaikum, Assalamualaikum," seseorang memanggil dari bagian depan ruko Bu Marni. Agak lama, karena Bu Marni tengah istirahat sekaligus shalat ashar kala itu.


"Waalaikumsalam," Bu Marni keluar, masih mengenakan mukenah putih bersihnya. "Maaf, siapa, ya?"

__ADS_1


"Ehm, saya Burhan, Bu. Maaf, mengganggu sore ini. Saya, tetangga Pak Hari." ucapnya memperkenalkan diri.


"Tetangga, Pak Hari? Maaf, ada apa kemari?" Bu Marni mempersilahkannya untuk duduk, dan mulai mendengarkan semua perkataannya.


Burhan mulai menceritakan kondisi Pak Hari saat ini. Linglungnya, marahnya, dan teriakannya ketika mencari uang nya dan mencari Rika serta Lidia. Bu Marni hanya kaget dan berkali-kali mengelus dadanya kala itu.


"Apakah benar, jika Pak Hari punya uang sebanyak itu? Maaf, hanya saja... Tak yakin dengan yang Ia ucapkan."


"Ya, dia baru saja mendapat uang itu dari menantunya. Apakah, habis tak bersisa?"


"Ya, Bu. Habis, mungkin diambil Lidia dan Bu Rika. Karena, pasca kejadian itu, mereka tak pernah terlihat pulang."


"Astaghfirullah, Mas Hari." elus Bu Marni di dadanya yang perih. Tak terasa, air matanya pun mengalir membasahi pipi.

__ADS_1


"Kalau boleh, dan kalau Ibu memang tak mau mengurusnya. Kami akan hubungi dinas sosial, Bu. Kadang, beliau suka menyerang orang."


"Saya itu, sudah tak ada hubungan lagi dengan beliau, Mas. Hanya anaknya, yang masih berhak. Tapi, setelah Ia meminta uang sebanyak itu, hubungan mereka pun langsung putus dengan sebuah perjanjian."


__ADS_2