Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Tragedi pengaman bocor.


__ADS_3

Pagi hari berlalu seperti biasa. Canda, tawa, mesra. Sudah tak ada gangguan lagi dalam hidup mereka berdua saat ini. Keduanya pun kompak, mengurus Mami Dona yang saat ino tengah hamil besar. Tak ada cemburu lagi, karena Lila pun sudah berdamai dengan masa lalu suaminya itu.


"Lila, kok di kamar mandi lama banget?" panggil Iam, yang tengah memakai kemejanya sendiri. Padahal, biasanya Lila sigap untuk membantunya.


"Iya, bentar lagi." jawab Lila dari dalam sana. Hampir Satu jam, dan Iam sudah mulai kesal karena Lila tak kunjung tampak di hadapannya.


Pintu terbuka, Lila keluar dengan sedikit lesu dan tertunduk. Tangannya seolah menyembunyikan sesuatu di belakang, "Apa itu? Lila kenapa?" tanya Iam, dengan tatapan tajamnya.


Lila menggeleng, dan tampak menggoyang-goyangkan tubuhnya.


"Lilaaaaa," panggil sang suami padanya. Perlahan Lila mengeluarkan tangan nya dari belakang, lalu menunjukkan sesuatu yang Ia sembunyikan.


Iam meraihnya lalu mengambil barang itu dari sang istri. Sebuah terstpeck kehamilan, "Dua garis?" tatap Iam dengan sangat tajam.

__ADS_1


"Iya, Mas. Lila hamil lagi." tatapnya keatas, tepat ke mata Iam yang tampak masih kurang percaya.


"Kenapa bisa hamil? Lila belum boleh hamil. Masih rentan efek kemarin."


"Engga, masa libur nya Enam bulan, Mas. Ini udah mau setahun, jadi ngga papa." bantah Lila. "Udah kepengen cepet hamil, biar dirumah ada yang temenin. Biar Mas makin sayang sama Lila. Jangan marah," peluknya erat pada suami tercinta.


Iam membalas pelukan itu, mendekap dan memeluknya dengan begitu erat. Tapi, ada sesuatu yang Iam ingat dari hubungan mereka.


"Selama ini, aku selalu pakai pengaman. Dan setahuku, aku tak pernah telat memakainya. Bagaimana bisa hamil?" tanya Iam padanya.


Iam menghela nafas, memijat kepalanya yang sakit karena keisengan sang istri. Perasaan di hatinya tak mampu lagi terungkapkan oleh apapun. Kesal, bahagia, terkadan juga khawatir karena masih trauma dengan kejadian tempo lalu. Apalagi, Mami Dona tengah hamil tua dan memerlukan perhatian lebih darinya dan Aul, yang juga sudah belajar mengurus perusahaan.


"Kamu itu ya, Iiiish. Astaga, pengen nyubit rasanya." omel Iam.

__ADS_1


"Cubit aja, kalau berani." tantang Lila. Tapi, Iam justru mengecupi bibirnya dengan begitu gemas. Lalu, Ia berlutut mengusap perut Lila, yang kini kembali mengandung buah hati mereka.


"Jangan nakal ya, Nak. Kasihan Mama Kalau kamu nakal. Baik-baik disana, kami akan jaga kamu sekuat tenaga, agar kamu bisa berkumpul dengan kami nantinya." kecup, dan harapnya disana.


Ia kembali berdiri, dan mengecup kening istrinya dengan manis. "Aku berangkat dulu. Kamu dirumah baik-baik saja, jangan terlalu berat bekerja."


"Kan, dirumah ada Mba Tatik." jawab Lila, dengan merapikan dasi suaminya.


"Iya, sayang. Pasti bakal lebih manja lagi nih." ledek Iam, dan Lila hanya mengulurkan senyumnya.


Lila pun menggandeng lengan suaminya keluar, mengantarnya untuk berangkat ke kantor dengan rutinitasnya yang biasanya. Mengantarkan hingga Iam masuk ke dalam mobil dan mencium tangannya seperti biasa. Hingga Iam telah benar-benar pergi, baru Ia kembali ke dalam untuk segala rutinitasnya.


"Mba, pagi ini masak apa? Lila laper?"

__ADS_1


"Masak pesenan Mba Lila, katanya pengen ikan gurame asam manis. Bapak, kok udah berangkat, ngga sarapan dulu?" tanya Mba Tatik.


"Iya, Mas ada pertemuan pagi-pagi. Sekalian sarapan bersama katanya." jawab Lila, dengan menggenggam apel di tangannya.


__ADS_2