
Tiba di apartemen, Iam membawa semua baranh naik, dan istirahat sejenak di sofa mereka yang luas.
"Mas ngga makan siang dulu, biar Lila siapin?"
"Ngga usah, kamu aja, sini." Iam merentangkan tangannya, menyambut sang istri dalam pelukan hangatnya.
"Kenapa? Capek?" Lila merebahkan diri di atas tubuh Iam.
"Lelah, sedikit. Kamu udah dapat kabar Aul hari ini?"
"Belum... Bahkan dia tak memasang storynya hari ini. Lila belum dapat kabar apapun. Rindu?" tanya Lila, mengusap wajah Iam dan memainkan hidungnya.
"Dia, adikku Satu-satunya. Setelah aku melepas harapan dari sosok Papa, hanya Aul yang menjadi sandaranku bertahan dalam keluarga itu."
Tangan Iam meraih dagu Lila, mengarahkan bibir itu untuk Ia nikmati. Beberapa kecupan mendarat, hingga Lila berhenti dan duduk di sofanya.
" Kenapa?"
" Hp Mas, getar."
"Ambilin, ada di saku celana." pinta Iam.
Lila merogoh kantong celana Iam. Di raihnya Hp itu lalu mengangkatnya. Rupanya Aul, yang memang tengah mereka bicarakan sedari tadi.
"Ya, Aul?"
"Kakak dirumah? Aul kesana, ya?"
__ADS_1
"Hmm? Ya dateng aja, kenapa izin segala?" ucap Lila. Iam pun duduk, meminta Lila mengeraskan volume suaranya. Sembari terus memeluk Lila, dan mendengarkan semua percakapan itu.
"Aul kenapa?" sambung Iam padanya.
"Ngga papa, cuma pengen suasana baru aja. Nati, Aul kesana."
Gadis itu mematikan teleponnya, dan Lila membaca beberapa pesan yang terlewat dari Siska untuk Iam.
"Baliklah, Siska udah nyariin."
"Ya, Baiklah. Padahal, masih ingin disini bersamamu, memeluk, dan....."
"Eeeh, kerja dulu. Biar bisa beliin Lila sebongkah berlian." Lila berusaha melepas pelukan manja sang suami darinya..
Iam mengangguk pasrah. Lila merapikan pakaian, dasi, serta rambutnya. Kemudian Ia pergi untuk kembali bekerja.
**
"Mau kemana?"
"Mau... Kerumah Kak Lila. Nemenin Kakak, kasihan sendiri terus."
"Ngga nginep, kan? Nanti Papa nanyain, loh."
"Iya, nanti Aul izin sama Papa juga."
Aul sebenarnya hanya beralasan. Ia ingin menghindari Shandy kali ini, dan juga, Ia ingin mengganti istirahatnya yang terganggu semalam. Fisik nya lemah, hingga Ia takut jika kuliah nya kan terganggu nanti.
__ADS_1
"Yasudah, nanti Mami jemput kalau udah waktunya pulang."
"Thanks you, Mam." Aul mematikan Hpnya.
Aul segera berlari, mencari tukang ojek langganannya. Kemudian segera meminta agar membawanya ke apartemen Lila..
"Makasih, Mas." ucapnya, ketika membayar ongkos.
Ia langsung naik, menuju tempat tinggal Lila.
"Kakaaaaak!" peluknya pada sang Kakak Ipar.
"Aul kenapa? Kayaknya capek banget?" Lila menggandengnya untuk duduk di sofa.
Aul hanya menceritakan masalah lelahnya di kampus. Dengan segala tugas yang nyaris memakan seluruh waktunya. Ia belum ingin membahas Shandy. Ia tak ingin menimbulkan prahara baru dalam keluarga mereka.
" Yaudah, Aul istirahat dulu. Bila perlu mandi, biar pakai baju Kakak aja." Lila beranjak dari sofa, dan mengambilkan beberapa helai baju untuk sang adik ipar.
Aul pun mengangguk, memasuki kamar kosong dan mulai membersihkan dirinya agar semakin segar. Dibawah kucuran air, Ia meluapkan segala rasa lelahnya. Menangis tanpa suara, karena disana, tak ada yang akan dapat melihat tangisannya.
"Aul, ini bajunya..."
"Iya, Kak. Taruh aja disana. Bentar lagi Aul keluar." jawabnya dari dalam.
Lila akan beranjak, namun terhenti ketika Hp Aul berbunyi. Iseng melihat siapa yang menelpon, dan mengangkatnya ketika merasa aneh. Ia tak mengeluarkan suara, hanya mendengar omelan dari arah mereka yang berlawannan.
" Eh, dimana Loe? Tugas gue gimana? Jangan kabur Loe ya! Tunggu dirumah, gue kerjain loe."
__ADS_1
Lila terbelalak, mendengar semua ancaman itu.
"Aul, bohong?" fikirnya.