Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Aku selalu serius.


__ADS_3

"Mas, kita mau kemana?" Lila terheran, karena perjalanan sudah begitu jauh dari kota.


"Katanya, Lila mau kepantai?"


"Lah, Lila bercanda. Ngga harus ke pantai beneran."


"Udah terlanjur, nikmatin aja. Aku, tak pernah bercanda, kau tahu itu." jawab Iam dengan begitu santai.


Lila terdiam. Memang, yang diucapkan Iam itu benar, jika Ia jarang sekali bercanda. Buktinya, Ia sekarang menjadi istri sahnya meski kadang masih tak percaya jika itu nyata.


Telah terlihat di sepanjang jalan, hamparan pantai yang luas dengan deburan ombak yang tinggi. Lila membuka kaca, dan mengeluarkan kepalanya menatap pemandangan itu dengan leluasa.


"Jangan keluar, Lila." Iam menaikkan kacanya lagi.


"Dikit lah, Lila ngga pernah ke pantai."


"Iya, tapi nanti bakal lebih deket dan main sepuasnya."


"Lila ngga bawa baju ganti, ngga bisa main air." tunduknya lesu.


"Beli, disana banyak orang jual baju."


Jawaban paling simple saat ini, dari seseorang yang  tak pernah merasakan kekurangan uang seperti Iam.


Mobil berhenti di sebuah halaman parkir. Iam pun keluar di susul Lila di belakangnya. Iam menghela nafas begitu panjang, berkali-kali hingga Ia merasakan lega di dadanya.


"Ayok..." tarik Lila padanya.

__ADS_1


"Iya...." jawab Iam pasrah.


Mereka pun menuju hamparan pantai yang luas, menghampiri ombak dan bermain air dengan begitu riang gembira.


"Mas, sini."


"Lila aja, aku tunggu disini." jawab Iam, berteduh diantara pepohonan yang rindang.


Iam sengaja memilih spot yang tak terlalu ramai. Karena tujuannya adalah untuk menenangkan diri. Cukup bahagia, ketika Lila bermain disana. Menatap tawa, dan binar-binar matanya yang menyejukkan hati.


"Ketenanganku, ternyata kamu."


Ombak menggulung tinggi, menghempas tubuh Lila hingga nyaris tak tampak pandangan Iam. Lila hilang, hanya tangan nya yang melambai nyaris ditengah laut. Iam segera berdiri, menghampiri dengan begitu cemas.


"Lila, kamu dimana?"


"Mas, tolong, Mas. Lila hanyut...." panggilnya dari kejauhan.


"Lila, sayang... Kamu dimana?" Iam begitu cemas, dan nyaris menangis karenanya.


"Disiniiii...." Lila muncul dibelakang dan menepuk bahu Iam.


"Lila?" Iam membalik tubuhnya, lalu menatap Lila yang telah basah kuyup dengan air asin itu.


"Yey, akhirnya Mas nyebur. Ayok, main air." tarik Lila ketempat yang lebih dalam.


Iam menahan menahannya, balik menarik Lila kedalam dekap hangatnya. Menatapnya begitu tajam tanpa senyum di wajahnya.

__ADS_1


"Maaf, Lila cuma mau ajak main."


"Kau tahu, betapa cemasnya aku? Jangan lakukan lagi, berjanjilah."


Lila mengangguk, dengan senyum khasnya yang selalu dapat meluluhkan hati Iam.


Pria jangkung itu lalu menurunkan pelukan ke pinggangnya, semakin mendekatkan diri ke wajah sang istri yang mundur hingga tubuhnya menekuk kebelakang. Tapi, Iam menahan kepala lalu melumaat bibirnya dengan ganas.


Lila yang awalnya gugup, kini membalasnya dan menikmati semua yang diberikan Iam padanya. Bahkan, mengalungkan lengannya di leher dan semakin mendekatkan wajah nereka.


Suasana begitu romantis, ditempat yang sepi. Tanpa ada orang yang dapat mengganggu kegiatan intim mereka saat itu.


"Muach, muach, muach..." Lila mengakhiri kecupannya.


"Kenapa berhenti?"


"Dingin. Baju Lila basah semua, lengket."


"Yuk, beli baju. Disana ada toko baju sepertinya."


"Udah biasa kesini? Kok tahu?"


"Sering, dulu. Sama Dona...."


"Hish... Dona lagi, Dona lagi. Ngeselin. Jadi kesini ngajak Lila karna mau inget kenangan sama Mami Dona?"


"Yang ngajak 'kan, Lila?" tunjuk Iam.

__ADS_1


"Eh, iya..." Lila menutup mulutnya.


Iam hanya menyipitkan mata, lalu menggandeng lagi Lila menuju toko baju yang ada didekat sana.


__ADS_2