Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Selalu saja egois


__ADS_3

Usai Papa Wira di tangani, Iam undur diri dan menitipkan Papanya pada Mami Dona. "Jangan pernah mencoba menjenguk Lila. Kalian tak ku izinkan. Maaf," Ia menundukkan kepala di hadapan mereka.


Papa Wira hanya ingin bicara di sela lemahnya. Tapi, Mama Dona menahannya agar tetap kembali istirahat tanpa berfikir yang lain. Baru bicara lagi, setelah Iam keluar dari ruangan itu.


"Jangan menambah masalah lagi. Aku lelah, Mas. Mas selalu bertindak, seolah Mas paling benar diantara kami."


"Pengalaman hidup, mengajarkan aku tentang semuanya, Dona." jawab Papa Wira, yang terbaring dengan selang oksigen di hidungnya.


"Kadang, memang seperti itu. Hanya karena merasa lebih tua, lantas merasa lebih memiliki pengalaman dan lebih mahir dalam segala hal. Tidak, Mas. Mas salah jika beranggapan seperti itu. Orang lain akan memiliki pengalaman hidupnya sendiri, tak perlu diajari, bagaimana cara menangani semuanya. Mereka akan faham, karena mereka sendiri yang mengalaminya."


Papa Wira menghempaskan kepalannya di bantal, memegangi dada dan mengatur ritme nafasnya. Dadanya bergetar hebat, apalagi ketika mendengar sang istri, bahkan tak membelanya sama sekali akan hal ini. Ia merasa sendirian, dan tak punya dukungan. Ia hanya bisa memejamkan matanya, berusaha menenangkan dirinya dari yang Ia alami hari ini.


***

__ADS_1


"Siska, atur kantor sebaik mungkin. Saya, akan ke Rumah sakit bersama Lila."


"Baik, Pak. Saya faham, jadi Bapak fokus saja ke Ibu." jawab Siska, lalu mematikan Hpnya. Pekerjaannya begitu banyak, untuk mewakili bosnya dalam berbagai kegiatan. Untung ada Nuri, sebagai wakil Dona yang bisa diajak kerja sama.


Sesuai rencana, Iam kembali pada Lila. Bu Marni dan Om Agung pun telah ada disana. Rumah sakit yang sengaja dipisah, membuatnya sedikit lama untuk sampai ke tempat tujuan.


*


"Lila ngga papa. Tapi, kok Om Agung kesini? Ada apa?" tanya Lila, lirih dengan posisi yang sudah diatur semi fowler.


"Om kesini, ada proyek, tadi. Mampir ke rumah Ibu, buat minta kopi." jawabnya, konsisten dari awal perjanjian. "Kamu kok bisa sampai begini, kenapa?"


"Ehm, Lila kecapean. Juga, kayaknya gara-gara telat makan. Nungguin Mas Iam, jadwalnya padet banget soalnya." bohong Lila, menutupi permasalahannya pada sang mertua. Tanpa Ia ketahui, Iam mendengar ucapan itu dari balik pintu masuknya. "Kau, bahkan menutupi aib keluarga ku. Terimakasih," lirihnya.

__ADS_1


"Makanya, Lila jangan suka nunggu. Kan Mas udah bilang, kalau laper, ya langsung makan." sahut Iam yang masuk menghampirinya. "Lila kok duduk?"


"Udah boleh, sama dokternya. Lagian, ini setengah tidur. Kepala Lila pusing, kalau rebahan terus, Mas." jawabnya.


"Mba Dinar mana? Kok ngga ada?" tanya Iam, melirik seisi ruangan. "Tadi, Lila minta beliin bubur. Tapi, kayaknya jauh deh. Lila ngga tahu, kalau Mas mau dateng."


"Ya, nanti Mas telepon biar cepet balik kesini." Iam melepas jas nya, dan duduk bersandar di sofa dengan kaki Ia naikkan ke atas meja. Lila menatapnya, memperhatikan Iam yang tampak lelah dan tertekan. Tapi Ia belum bertanya, hanya membiarkan suaminya istirahat dengan tenang kali ini.


" Katanya mau nelponin Mba Dinar, malah ketiduran." senyum Lila, yang gemas menatap suaminya dari kejauhan. Ia akhirnya meminta Hp Iam, dan menghubungi Dinar sendiri.


"Iya, Udah dapet buburnya. Bentar lagi, Mba kesana." jawab Dinar.


"Iya Mba, hati-hati, ya?

__ADS_1


__ADS_2