
Tiba dirumah besar. Iam menggenggam tangan Lila dengan erat. Kali ini, tangan itu tak sedingin saat itu, yang sepertinya nyaris membeku disertai keringat membasahi dahinya.
"Udah ngga deg-degan?" Iam menggoda Lila.
"Engga, meski masih dikit gemeter."
Iam merangkul pinggang Lila, dan membawanya masuk ke dalam. Disana sudah ramai, ada Mama Nia dan Shandy, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya.
"Assalamualaikum," Iam menyapa mereka semua dengan ramah.
"Kakak!" Aul lagi-lagi menghampiri dan memeluknya. Tak lupa dengan Lila yang begitu Ia rindukan.
"Mana, Mami?" tanya Lila.
"Itu," Aul menyeret Lila untuk pergi ke dapur.
Iam mengantongi lengannya, berjalan menuju sofa dan duduk santai dengan Hpnya disana. Selalu mengontrol pekerjaan meski Siska sudah mengambil alih disana.
"Mam, Oma... Ini, Kak Lila dateng." panggil Aul.
"Hey, sayang. Kok lama?" Dona memeluk dan Lila mencium tangannya.
"Nemenin Mas Iam ke kantor sebentar, Mam. Ini, Lila belikan buah." Lila meraih baskom, dan kemudian mencuci buahnya.
"Hey, nyuci buah itu pakai ini. Kalau pakai Baskom, kamu dua kali kerja karena harus nyaring dulu." tegur Oma Nia, Ibu dari Dona. Belum terlalu tua, seusia Ibu Lila agaknya.
__ADS_1
"Maaf, Lila ngga tahu."
"Makanya, nanya. Ini bukan rumah kamu, jadi jangan asal ambil. Jangan di biasakan seperti dikampung asalmu." sergah Oma Nia.
"Mama, apa-apaan sih. Udah Lila, biar Mami aja yang kerjain. Kamu duduk disana, temenin Iam." Dona berusaha mencairkan suasana agar tak semakin panas.
Lila langsung menggandeng tangan Aul. Pergi bersama menuju Iam yang duduk santai di sofanya. Raut wajahnya kembali kusam, mendengar celotehan wanita tua yang sok berkuasa dirumah mertuanya itu.
"Jangan mentang-mentang menantu barumu, jadi kamu manjain dia."
"Bukan dimanjain, Ma. Tapi dia memang belum tahu. Perlahan ngajarinnya."
"Kamu penguasa di rumah ini, jangan ada siapapun merebutnya dari kamu."
"Mamaaa..."
***
"Mas," Lila menggelendot manja di samping Iam.
"Hey, kenapa, kok lesu?"
"Capek..." Lila tak menceritakan apa yang Ia alami barusan.
"Istirahat di kamar. Tuh, diatas kamar ku. Minta Aul yang antar."
__ADS_1
"Aul lagi ada urusan, ngga bisa." sahut Aul dari tempat yang lain.
Iam beranjak dan kembali menggandeng Lila. Mereka naik menuju kamar Iam, yang katanya telah dibereskan oleh Aul dari semua kenangannya mengenai Dona. Semua bersih, hanya tinggal ditempati dengan nyaman.
Iam membuka pintu kamar, yang rupanya tak dikunci. Mereka masuk, namun rupanya seorang wanita keluar dari kamar mandi.
"Aaaaarrrrghhh!" teriaknya sekuat tenaga, menutupi dadanya yang terbuka.
Iam dengan sigap menutupi Lila dengan tubuhnya.
"Mas, kan sama-sama cewek."
"Oh, iya, lupa." ucap Iam.
"Shandy, ngapain kamu mandi dikamar saya?" Iam rupanya mengenal gadis itu.
"Kak Iam, maaf. Tadi Shandy ketiduran disini. Abis itu, sekalian mandi deh. Shandy juga pinjem baju Kak Iam, soalnya nyaman banget di pakai. Senyaman orang nya, yang hangat ketika dekat."
Shandy diketahui menyukai Iam, dan acapkali menggodanya ketika dulu Iam tengah menjumpai Dona dirumahnya. Tapi, Iam tak pernah menanggapinya karena terlalu agresif.
" Segera ganti dan keluar, istriku mau istirahat." ucap Iam.
" Kamu aja yang ganti kamar. Shandy sudah nyaman disana. Toh, kamu tamu disini." Mama Nia mendadak datang menyelanya.
"Tamu? Bukankah kalian juga tamu? Apa bedanya? Lancang masuk kamar orang sembarangan."
__ADS_1
"Tidak... Kami akan tinggal disini."