Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Mengesampingkan ego.


__ADS_3

"Mam, Kak Iam kok lama banget di kamarnya? Kan, kamarnya juga ngga berantakan banget. Aul suka beresin."


"Ya, biarin aja. Kali aja, mereka rubah tatanan di dalam sana. Kan repot, makanya lama."


"Hmmm, kalau begitu, Aul bantuin deh."


Aul beranjak, melangkahkan kaki dari tempatnya. Tapi, Mami Dona menarik tangan Aul dan menghentikan langkah itu.


"Aul, ngga usah. Aul disini saja sama Mami. Banyak kerjaan loh, dan kamu harus belajar berbenah rumah." bujuk Mami Dona.


Aul hanya mengangguk, kembali ke Mami Dona meski tatapan matanya begitu ingin keatas. Mami Dona faham, tapi tak ingin jika Aul makin banyak bertanya nantinya. Mereka melanjutkan pekerjaan di dapur, sekalian Mami Dona mengajari Aul untuk memasak.


Mereka terus bercengkrama, membicarakan apa saja yang ingin mereka bicarakan. Mami Dona, berusaha menjadi pendengar yang baik, yang akan dapat diandalkan oleh anak sambung kesayangannya itu.


Aul lah yang paling akrab dengan Dona disana. Pelipur letih dan segala lara. Maka dari itu, sangat pedih jika Aul rupanya di bully diam-diam oleh adiknya sendiri.


***


Lila terbaring di sebelah Iam, tepatnya masih dalam dekap hangatnya. Tampaknya, tak hangat lagi, dan sudah berubah begitu panas karena ketingat mereka yang mengucur dengan deras. Lila memejamkan matanya, membalas pelukan sang suami yang kini mereka hanya berselimut tanpa busana di badan.


"Jadi, mau pulang atau tinggal?"

__ADS_1


"Nanti deh, tunggu makan malam dulu. Nanti, baru Lila putusin mau nginep apa pulang."


"Oke, apapun keputusanmu." kecup Iam di kening Lila.


Lila melepas pelukannya, menyibakkan selimut dan mengikat rambutnya. Sangat tampak jelas, lekuk tubuh indah itu dimata Iam. Tubuh polos yang tak terbalut apapun, dengan begitu banyak bercak merah hasil karyanya barusan.


" Lila mau mandi dulu, ikut ngga?"


"Boleh?" tatapan Iam tampak penuh harap.


"Eh, jangan lah. Nanti malah kemana-mana. Lila mandi duluan..." Ia pun berlari, menuju kamar mandi dan langsung menguncinya.


Usai mandi, Lila mengenakan kemeja milik Iam. Kemeja panjang, dan celana sebatas lutut yang juga milik Iam. Meski kebesaran, namun tampak begitu cocok padanya.


"Eh, Kak Lila? Udah mandi aja? Keramas lagi. Emang gerah? Dikamar Kak Iam kan, ada AC."


"Auuul...." tegur Mama Dona, untuk menghentikan semua pertanyaan yang keluar dari bibirnya.


Lila hanya bisa tersenyum, tersipu malu dan bingung harus menjawab apa. Untung saja, Mami Dona faham dan langsung menghentikan Au.


"Mam, apa yang perlu Lila bantu?"

__ADS_1


"Hey, sini... Ini, tinggal masak cumi sama udang asam manis. Ini kesukaan Iam. Paling demen kalau dimasakin ini." ucap Mami Dona.


Ya, tak perlu ada rasa cemburu. Karena biar bagaimanapun, Mami Dona memang tahu semuanya mengenai Iam.


"Harusnya, aku banyak belajar dan mencari tahu. Bukan sekedar meninggi kan ego dengan segala rasa cemburuku." batin Lila.


Mereka kompak bertiga, memasak dengan begitu riang gembira. Tanpa ada yang menyela, bahkan menganggu keceriaan itu sama sekali.


"Lila, panggil Iam. Udah mandi apa belum? Kita kumpul, karena makan malam udah siap."


"Iya, Mam," Lila pun berlari kecil menaiki anak tangga, membangungkan Iam yang masih lelap dikamarnya.


"Mentang-mentang libur, jadi istirahatnya enak banget."


Lila masuk, dan menghampiri suaminya yang masih dalam selimutnya. Ia duduk di pingggiran ranjang, dan menggoyang-goyangkan tubuh Iam agar segera bangun..


"Kenapa?"


"Makan malam udah siap, ayo bangun, mandi dan turun ke bawah."


"Hhmmmm," Iam mengucek matanya, lalu berdiri menuju kamar mandi..

__ADS_1


__ADS_2