Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Lila lelah, Mas


__ADS_3

Fokus Iam terbagi. Ia selalu menatap spion mobil dan kaca yang ada di depannya.


"Mas, kenapa?"


"Mereka, kenapa ngikutin kita?"


"Siapa? Mba Dinar?" Lila menoleh ke belakang, menatap mereka yang memang tepat ada dibelakang mereka.


"Ya, daritadi posisinya tak berubah."


"Lah, mereka kan memang mau ke supermarket. Udahlah, Mas. Ngga usah overthinking gitu."


"Kenapa selalu membela dia?" toleh Iam dengan lirikan tajamnya.


"Mas, mereka itu tetangga kita. Kalau ada apa-apa, yang paling pertama bisa nolong itu, ya tetangga."


"Meski tetangga itu aneh?"


"Ya, terkadang emang gitu. Seperti tetangga Ibu. Meski gimana, mereka lah tempat paling pertama mencari pertolongan." ucap Lila, memainkan jari-jari tangannya.


Iam hanya diam. Lalu berjalan lagi dengan santai setelah sedikit kencang karena tegang. Hingga mereka tiba dan masuk ke dalam supermarket, juga bersamaan.


"Hey, ketemu lagi." sapa Iwan dengan ramah.

__ADS_1


"Ya, bagaimana tidak? Kalian selalu ada dibelakang kami."jawab Iam dengan wajah datarnya.


Iwan terdiam, sedangkan Lila meraih tangan Iam dan membawanya pergi agar suasana tak semakin memanas. Mengajaknya berkeliling, dan menjauh dari kedua orang itu.


" Kenapa membela dia?"


" Siapa yang membela? "


" Kamu... "


"Udah lah, Lila lagi males berantem."


"Aku ngga pernah ajak berantem. Aku cuma nanya."


"Siapa?" tanya Iam.


"Mas lah, siapa lagi. Lila bahkan ngga pernah menanggapi dia, kenapa Mas malah seperti ini? Lila capek, tau ngga? Lila udah nurut seharian dirumah, bahkan ngga keluar sama sekali. Tapi, Mas masih seperti ini. Lila lama-lama tertekan, Mas."


Air muka Lila memang tampak lelah. Wajahnya pucat, dan matanya berkaca-kaca. Sebuah pemandangan, yang selalu membuat Iam terenyuh dan tak pernah dapat membiarkan air mata itu hingga terjatuh.


" Aku hanya.... "


" Hanya apa?" sergah Lila.

__ADS_1


" Aku, begitu takut kehilanganmu. Ya, meski aku tahu jika kau adalah wanita yang kuat, dan tak dapat dengan gampang tergoda, tapi... Aku begitu takut jika kau pergi dariku."


Lila mendelik. Ia melepas dekapan tangannya. Tak percaya, tapi itulah yang Ia dengar. Iam begitu posessif padanya, tapi dengan alasan yang jelas.


" Mas, kayak bocah." ledek Lila.


Ia pun memberikan troly belanja pada Iam, dan berjalan di mendahuluinya. Iam hanya menggaruk kepala, merasa konyol dengan dirinya sendiri. Segera di sambut troly itu, dan mengikuti sang istri dari belakang.


Sepanjang perjalanan belanja, Lila selalu memberi nasehat kepada suaminya itu. Bahwasanya, Ia pun tak akan pernah bisa kemana-mana.


"Bagi Lila, pernikahan itu hanya sekali. Seperti yang Mas bilang, trauma itu tak akan bisa sembuh, jika bukan kita sendiri yang mengobatinya."


Iam melepaskan pegangan trolynya, menghmpiri Lila dan memeluknya dengan erat dari belakang.


"Eh, ini ditempat umum."


"Bodok... Mau nya begini. Jangan pernah lepas, biarin begini aja. Biarin, kalau dilihat orang banyak. Biar mereka tahu, kamu itu milikku."


Lila mendiamkannya sejenak, meski memang begitu banyak orang yang melihatnya dengan berbagai ekspresi. Bahkan, Iwan dan Dinar pun melihat mereka kala lewat di bagian sana.


" Lila?"lirih Iwan. Tapi, Dinar langsung sigap menariknya ketempat lain.


" Mas, udah. Belanjanya ngga selesai nanti. Kan, harus balik kekantor lagi. Udah yuk... " Lila menepuk tangan Iam agar melepas pelukannya.

__ADS_1


Tampaknya memang begitu nyaman, dan begitu berat untuk Iam melepas sang kekasih hati. Tapi, yang dikatakan Lila benar. Pekerjaannya yang begitu banyak, sudah menunggu di tempatnya.


__ADS_2