Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Segala pertanyaan Lila


__ADS_3

"Mas, pengen bangun. Capek tidur terus," rengek Lila, yang ditemani Iam di sebelahnya. Iam fokus dengan laptopnya, untuk mengatur semua format perusahaan setelah Ia yang memimpin.


"Nikmati saja dulu, sayang. Nanti malah kenapa-napa. Jangan bandel," cubit Iam di hidungnya.


Tanpa terasa, kehamilan Lila telah menginjak Empat bulan. Gerakannya mulai terasa, sedikit demi sedikit. Lila meraih tangan Iam, dan menempelkannya di perut yang mulai bulat itu..


"Kenapa, laper?" tanya Iam, menatapnya dengan serius.


"Iiih, kok laper? Lila mau kasih tahu, kalau ini baby nya udah mulai gerak. Rasain deh," tukas Lila. Iam pun memperhatikan, dan semakin mendekat ke perut Lila. Ia berusaha merasakan dengan sangat dalam, gerakan yang masih begitu lembut itu. "Ih, iya loh, gerak." senyum Iam begitu lebar, dan semakin dekat merasakan gerakan bayinya disana.


"Sehat-sehat, ya, disana. Yang tenang, jangan ngerepotin Mama. Udah cukup, Mama sakitnya." bisik Iam.


"Emang, Lila sakit?"


"Hm? Engga, ngga sakit kok. Lila sehat, makanya harus makin sehat dari ini. Kalau badannya udah enakan, udah boleh turun dari tempat tidur." ucap Iam, kembali menggosok perut Lila dengan lembut. Bahkan, mengecupinya berkali-kali dengan begitu gemas.


"Mas?" panggil Lila, dengan tatapan penuh tanya. "Ya, sayang, kenapa?"

__ADS_1


"Selama Lila sakit, Papa sama Mami ngga ada yang jenguk. Mereka, ngga papa kan?"


"Ehm, mereka sedang sangat sibuk. Maaf, ya? Apalagi, perusahaan tengah membangun anak cabang. Tuh, Duta juga bakal isi posisi disana.".


"Bapak, juga ngga ada kabar?" tanya Lila lagi, dengan segala rasa penasaran yang ada.


"Lila, jangan nanyain yang ngga penting gitu ah."


"Mas, itu Bapak Lila. Cuma pengen tahu aja, kabarnya, perkembangan usahanya. Dimana lokasinya. Kan, Mas udah janji akan cari kabar buat Lila." bujuknya.


Iam hanya menghela nafas, dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Fikiran membingungkan, kembali menggelanyut di kepalanya. Apalagi, Pak Hari belum juga membaik dari segala ilusinya.


"Sudah begitu banyak yang aku rahasiakan. Mungkin, jika diumpamakan dengan balon. Hanya tinggal menunggunya meledak dengan kuat. Tapi bagaimana lagi? Ini semua demi kamu." batin Iam.


"Maaass," panggil Lila, yang lumayan mengagetkan baginya. "Eh, iya. Maaf, sayang."


"Mikir apa? Lila lagi nanya loh ini."

__ADS_1


"Udahlah, tidur. Udah malem ini. Besok, mau cek kandungan kan, sama Mba Dinar?"


"Sama Mas nya kapan?" tanya Lila, penuh harap. Memang, Iam belum pernah menemaninya memeriksa kan kandungan, sejak diketahui awal kehamilannya.


"Ehm, baiklah. Besok Mas yang temani. Mas akan temani masuk ke dalam ruangan, dan menyapa bayi kita disana." Iam membantu Lila, membenarkan posisi berbaringnya. Dengan posisi miring, dan mengganjalnya dengan bantal di bagian perut. Ia pun mengusap kepala Lila, hingga diketahui benar-benar sudah terlelap.


" Aku, lanjut kerja, ya?" pinta Iam, perlahan melepaskan gengamannya. Ia tak kemana-mana. Bekerja pun di ruangan itu, dengan terus mengawasi istrinya.


***


"Woy, Dokter! Siapa nyuri uang saya!" teriak Pak Hari, yang mencari lembaran uangnya.


Semua uang itu sudah sangat kotor, karena setiap hari Ia peluk dan Ia bawa tidur. Seorang perawat membersihkannya, tapi terlalu lama mengembalikan padanya. Hingga Ia nyaris mengamuk, akibat uang banyaknya itu tak juga kembali.


"Kalau miskin, jangan nyuri! Minta sana, saka orang. Ngemis sekalian. Ngapain nyuri uang saya? Itu aja susah payah saya minta sama menantu kaya raya."


"Mantu Bapak, kaya?" tanya seorang perawat jaga.

__ADS_1


"Ya iyalah dia yang kasih uang itu."


"Kasihan. Menantu kaya, tapi ngga pernah besuk." gelengnya, dengan tersenyum geli.


__ADS_2