
Lila terbangun dari tidurnya. Menatap Iam yang tetap ada dihadapan matanya. Tak sedikitpun beranjak, meski mungkin lelapnya tak nyenyak.
"Hey, sudah bangun?"
"Iya... Tapi malas beranjak. Mau tetep disini."
"Nah, tidurlah. Semalam ngga nyenyak 'kan, tidurnya? Masa galau, cuma gara-gara Dona?" ledek Iam.
Lila manja, Lila lemah. Mungkin seperti itu saat ini. Tapi Dia lah yang saat ini membuat Iam memiliki semangat hidup seperti yang dulu..
"Mandi, duluan sana." pinta Lila.
"Yaudah, aku duluan. Kalau males, sarapan di kantor aja nanti."
Lila pun mengangguk, dan masih terbaring malas di ranjangnya. Kembali meyakinkan diri, tentang apa yang harus Ia yakini. Menguatkan, karena Ia memang harus kuat dari sebelum ini.
"Sayang..."
"Ya?"
"Ambilin handuk, dong. Kelupaan nih."
"Iya," Lila segera bangun dan mengambil pesanan Iam.
Ia melangkah perlahan, dan mnegetuk pintu untuk memberikan handuknya.
"Ini, Mas."
__ADS_1
"Ya..." Iam membuka pintu, meraih handuknya. Tapi tak hanya handuk, melainkan lengan Lila pun ikut Ia tarik.
"Eh, apaan?" sergah Lila, berusaha melawan.
"Sini, sekalian aku mandiin."
"Aaaaaaa, ngga mau. Nanti lain lagi maunya." rengek Lila, berusaha melepas tarikan Iam darinya.
Tapi kalah tenaga. Apalagi Iam yang memiliki otot kekar, sedangkan Lila yang mungil. Wanita itu tertarik kedalam, dan langsung didekap Iam. Dibawah kucuran air yang dingin, dan suasana yang begitu menegangkan baginya.
Bulan madu mereka belum berakhir. Justru makin terasa hangat meski hanya ditempat yang sama, hanya berpindah ruangan. Tak ada target, karena Iam hanya ingin menikmati indahnya pacaran setelah menikah. Sisanya, hanya Tuhan yang mengatur semuanya.
"Maaf, tadi malam gagal kencan."
"Ya, masih banyak waktu lain. Bukankah, kita selalu berkencan?" colek Iam di hidungnya.
"Lila, ini suaminya?" sapa Dinar, keluar dari tempatnya.
"Iya, ini suami Lila. Mas, ini tetangga baru kita, Mba Dinar namanya."
Mereka saling memperkenalkan diri. Tampak Dinar begitu mengagumi sosok Iam yang tampan dan berkarisma. Tinggi dan tegap, tatapan yang tajam, dan senyumnya yang ramah dan manis.
"Hay Lila..." sapa Iwan.
"Hay, Mas Iwan. Ini, suami Lila."
Tatap mata Iwan langsung canggung, apalagi ketika Iam mengajaknya berjabat tangan. Ia dapat menetralisir keadaan, kembali tersenyum ramah seperti biasa dan bersikap baik.
__ADS_1
Dinar dan Iwan bermesraan di depan Iam dan Lila. Saling cium pipi dan bibir tanpa rasa sungkan sama sekali. Lila langsung menariknya pergi, meninggalkan aktifitas mereka berdua.
"Seperti itu di depan umum? Tak punya malu."
"Eh, kayak engga aja."
"Siapa, aku? Mana pernah?"
"Dikantor?"
"Itu bukan tempatĀ umum, itu di ruangan ku."
"Ya, sama saja. Banyak kemungkinan, mendadak karyawan lewat dan melihat bos nya seperti itu. Contoh yang ngga baik." Lila berceloteh, dengan segala argumentnya.
Iam kalah, Ia hanya menggaruk kepalanya dan diam. Ia paling malas berdebat dengan wanita, apalagi istrinya. Tapi Ia senang, Karen tandanya, Lila sudah tak larut lagi dalam kesedihannya yang mendalam.
Iam meraih Hpnya, menghubungi Siska untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Sedangkan Lila, kembali sibuk memainkan Hp ditangannya. Tersenyum sendiri, membuat Iam menatapnya dengan tajam.
"Lihat apaan sih?"
"Hah, ini, lihat Aul upload foto sama temen-temen kuliahnya. Seru banget kayaknya."
"Masih pengen lanjut kuliah?" tanya Iam, kali ini tampak serius.
"Pengen, tapi.... Biarin dulu deh. Masih mau fokus urus suami. Nanti, kalau ditinggal, nakal gimana?"
"Hhh, apanya nakal? Aku anak baik kok. Ngga pernah nakal. Cuma sering apes aja." tawa Iam, pada dirinya sendiri.
__ADS_1