Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Sama-sama memenuhi kewajiban


__ADS_3

"Mas, kenapa ngga berhenti?"


"Disana susah, sayang. Ngga bisa berhenti asal-asalan. Lagian, belum tentu itu Bapak."


"Tapi..."


"Udah lah, kita pulang. Hari udah malem," Iam menyetir lebih cepat, ketika Lila tampak mulai pasrah. Iam pun berusaha meyakinkan, jika yang Ia lihat, bukan lah Pak Hari.


"Udah, ngga usah difikirin lagi. Besok, akan ku utus orang mencari kabar tentang nya."


"Iya, Mas," Lila mengangguk, dengan sesekali menatap kaca spion mobilnya.


Tiba di Apartemen, mereka langsung masuk dan naik keatas. Hari memang belum terlalu malam, tapi Lila tahu, jika Iam sudah sangat lelah melayaninya hari ini.


"Sini, Lila bawa belanjaannya," Lila berusaha meraih paper bagnya, tapi Iam justru memindah nya ke tangan sebelah.


"Biar, aku saja." ucap Iam, sembari tangannya menelusup ke pinggang Lila.


Deg.... Perasaan Lila, kian berdesir.

__ADS_1


"Sepertinya, akan ada sesuatu," tolehnya pada sang suami.


Tiba dirumah, Lila membuka kunci dan segera masuk. Ia merasa cepat haus, sekarang, apalagi setelah berjalan cukup lelah. Lila segera menuju ke meja makan, dan mengambil air minum dan meneguknya dengan berdiri.


" Kalau minum itu, duduk, sayang." Iam menggenggam pingang Lila, dan mengangkatnya duduk diatas meja makan.


"Tapi, kalau duduk di meja makan, ngga sopan, Mas." sergah Lila, seraya menaruh gelasnya yang telah tandas. "Mas, mau minum juga?"


"Ya, aku ingin minum. Tapi, bukan dari gelas itu,"


"Hah? Lalu?" Lila memicingkan mata, dan Iam menatapnya tajam, sembari menyibakkan poni Lila yang menutupi keningnya.


"Memang, ngga papa kalau hamil gini...." ucapan Lila terpotong oleh kecupan Iam. Berhenti sejenak, untuk menghela nafasnya.


"Mau membiarkanku libur, sampai anak kita lahir?" senyum Iam tampak menggemaskan. "Aku akan melakukannya perlahan," tangan Iam meraba punggung Lila, dan perlahan menurunkan resleting dressnya.


"Rupanya, ini salah satu alasan aku harus pakai dress?" fikir Lila. Apalagi, ketika Iam mulai menurunkan bagian lengannya perlahan hingga bahunya terbuka. Iam mengeecupinya, dengan rasa rindu yang begitu menggelora. Lila hanya merespon, dengan mengalungkan lengannya ke leher Iam. Sesekali bergidik geli, dengan apa yang Iam lakukan padanya.


"Maass, ini meja makan." tegur Lila. Dan tanpa aba-aba, Iam segera menggendongnya di depan, dan membawanya ke kamar. Ia pun tak melepaskan pangutaannya, Iam menurunkan tubuh Lila di ranjang mereka.

__ADS_1


"Mas, hati-hati," bisik Lila yang tampak canggung. Iam hanya tersenyum, dan gerakannya semakin aktif. Lila berusaha melayaninya dengan baik, seperti biasanya. Hanya mengurangi ke agreesifan, agar semua aman terkendali.


Hawa yang dingin, berubah menjadi sangat panas. Terutama bagi Iam, yang tengah mendominasi permainan mereka. Pakaian yang berserakan di lantai, menandakan betapa ganas permainan malam ini. Meski tak seperti biasanya. Iam mengecupi kening Lila, setelah permainan itu usai.


"Haus?" tanya Iam, di jawab anggukan Lila yang tergolek lemah dan memiringkan tubuh menatapnya.


"Bentar, aku ambilin minum," usap Iam di rambutnya.


Lila menunggu, sembari meraba pakaian seadanya, lalu segera memakainya. Iam pun datang, membawa minum dan memberikannya.


"Ngantuk? Tidur aja duluan. Aku, masih ada sedikit pekerjaan."


"Tapi ini udah malem loh," Lila meraih tangan Iam, dan menahannya pergi.


"Aku sudah pulang untukmu, aku sudah menemanimu keluar, dan kau sudah melakukan keeajibanmu. Aku, akan melakukan pekerjaanku kembali. Demi keluarga kecil kita," Iam menyelimuti tubuh Lila, dan pergi meninggalkannya yang mulai terlelap sendirian. Tak lupa, mematikan lampu kamar itu agar semakin nyaman.


*


Hello gaes. Otor cuma mau kasih tau, kalau Give away di Zaolin, Otor pindah kesini 🙏🙏 maaf ya, bukan mau ngegantung. Tapi, alhamdulillah, rejeki dan ujian datengnya ngga nentu. Rejekinya enak, ujiannya yang bikin lemes.

__ADS_1


Jadi, harapa dimaklumi kalau Zaolin hiatus dulu🙏🙏 dan give away tasnya, otor pindah kesini aja., selamat buka puasa, 😘😘


__ADS_2