
Satu bulan lebih, telah berlalu. Bahkan sudah hampir Dua bulan, jika di hitung dengan baik dan benar. Dan hampir Dua tahun dalam perasaan Iam yang begitu menahan rindunya.
"Sayang, malam ini jadi ikut ke pesta?"
"Ikut, Mas. Lila udah lama banget ngga keluar loh. Sesekali, kenalan sama temen-temen Mas yang lain." jawab Lila yang keluar dari kamarnya.
"Yaudah, yok mandi." ajak Iam, menggelangkan tangan di pinggul sang istri.
"Kok Ayok? Lila udah mandi, Mas. Nanti masuk angin, gimana?"
"Haish, yaudah. Lila ganti baju aja duluan. Nanti Aku nyusul." ucap Iam. Lila hanya mengangguk, dan mulai mempersiapkan pakaian untuk Iam.
"Sayang!"
"Iya, Mas?"
"Tolong, handuknya ketinggalan."
__ADS_1
"Hah, handuk?" gumam Lila, memicingkan matanya penuh curiga. "Bohong, ya? Nanti Lila ditarik lagi kayak kemaren."
"Engga, sayang, beneran. Handuknya ketinggalan, masih di tempatnya. Tolongin, udah terlanjur basah, nih."
Lila megarahkan pandangannya ke jemuran handuk. Dan memang benar, jika handuk Iam masih berada di tempatnya. Lia mengambilnya, lalu perlahan berjalan menuju pintu kamar mandi, dan Ia mengetuk pintunya.
" Mas, ini handuknya." panggil Lila. Ia telah siap dan ancang-ancang, akan lari setelah Iam mengambil handuk itu darinya.
"Mana?" hanya tangan Iam yang keluar melambai mencari handuknya.
"Ini, Mas."
Lila merayap di dinding, semakin mendekati tempat Iam. "Nah, handuknya." Lila akhirnya menyerahkan handuk itu dan akhirnya, seperti yang Ia fikirkan. Iam memutar handuk dan mengikatkannya pada Lila.
"Aaaaaah, kenapa gitu? Katanya ngga macem-macem?" pekik Lila dengan kagetnya.
"Ngga macem-macem, cuma Satu. Satu macem aja. Aku, mau buka puasa. Boleh?" tanya Iam, dengan senyum devilnya.
__ADS_1
"Tapi, Lila baru itu, tadi. Jangan sekarang, Lila ngga mau mandi lagi. Nanti aja," mohonnya. Ia berusaha memberontak dan menghindar, tapi Iam semakin menariknya ke dalam.
"Lila teriak loh!"
"Teriak sama siapa? Ngga ada yang mau nolongin. Udah, pasrah aja." rayu Iam dengan wajah nya yang penuh harap.
"Huufftzzz, yaudah, Iya." jawab Lila, akhirnya pasrah.
"Iam mencengkram tengkuk Lila, dan mulai bermain disana. Pesta bisa telat, tapi ini tidak." bisiknya dengan begitu lembut. Lila hanya memejam kan matanya, menerima semua yang Iam berikan padanya. Ia tampak sensitif, mungkin karena sekian lama telah libur melayani Iam. Sehingga, kembali merasa asing dengan setiap sentuhan itu.
Sentuhan Iam terus merayap ke bibir Lila, hingga jarinya yang menyentuh bibir itu dengan begitu lembut. Lalu, turun merayap lagi kebawah, ke bagian favoritnya. Disitulah, desaahan pertama Lila kembali terdengar setelah sekian lama. Iam semakin gemas, dan tangannya merayap menurun kan seutas tali tipis yang menggantung dipundak itu, dengan sesekali mendaratkan kecupan disana.
"Tapi Lila ngga suka disini." jawabnya lemah. Iam hanya tersenyum, lalu mengangkat tubuh mungil itu keluar, menuju ranjang mereka. Lalu, menurunkan Lila kembali dan membantunya melucuuti semua yang menempel ditubuhnya.
"Ini, lukanya besar sekali." usapnya di perut Lila, dengan sesekali mengecupnya. Semakin lama, semakin turun kebawah bertamu ke syurga yang telah lama Ia rindukan.
Lila hanya merespon, dengan memejamkan matanya, dan sesekali bergerak secara errotis dengan apa yang Iam lakukan di bawah sana.
__ADS_1
"Kamu menggila, Mas." lirihnya. Iam tak membalas, hanya menatap wajah Lila dengan gemas dari tempatnya berada. Ia lalu kembali naik, merayap dari menghampiri Lila yang tengah menggigit bibirnya. Lalu mengecupi dan menikmatinya dengan begitu lapar.