
"Shandy! Keterlaluan kamu. Jadi kamu yang fitnah Dona dan aku? Jahat kamu!"
"M-mas, aku bisa jelasin. Ini, ngga seperti kedengarannya."
"Sudah! Telepon ini, di dengar oleh banyak orang, termasuk polisi. Kamu, bersiap saja untuk di tangkap." ancam Papa Wira. "Rupanya kamu hanya memanfaatkan aku. Jahat kamu!"
"Engga, ngga bisa. Aku akan kabur sama Mama. Kalian ngga bisa tangkep aku!" Sandy mematikan teleponnya, menarik tangan sang Mama untuk membawa barang berharga milik mereka. "Cepetan, Ma." ajak Shandy. Tapi, baru membuka pintu, Ia di hadang oleh Mami Dona dan Iam yang sengaja menguping di depan.
"Mau kabur?" tatapnya dengan begitu tajam. Tak kalah dengan Iam, yang menatap mereka dengan penuh amarah dan dendam yang mendalam.
"Kau, tak akan bisa lari dariku." Iam menghampiri, langsung mencengkram leher Shandy dan menghempaskannya ke dinding.
"Aaakh!" pekiknya yang tercekik. "Kau, beraninya dengan perempauan." ledek Shandy, meski dengan suara tertahan di kerongkongan.
"Apa bedanya denganmu, yang beraninya dengan bayi yang bahkan masih dalam kandungan?" tukas Iam.
"Apa rasanya kehilangan bayi? Dia bahkan belum bisa melihatmu. Dia, anak haram!"
__ADS_1
Iam semakin kuat mencekik leher Shandy, membuat matanya semakin melotot dan nyaris menjulurkan lidahnya karena Kesakitan. "Isi kepalamu yang haram!"
"Iam, maafkan aku. Aku hanya disuruh."
"Kau dan yang menyuruhmu, akan sama-sama habis di tanganku."
"Kau, tak mungkin tega menghabisi Papamu." balas Shandy, meski dengan terbatuk-batuk menahan nafasnya.
"Dan aku, sangat tega membunuhmu!"
"Ampun Iam. Kau akan dipenjara, nanti. Kasihan Lila, jika kau dipenjara. Dan perusahaan. Siapa yang akan mengurusnya?" Oma Nia berlutut, meminta agar anaknya dilepaskan.
"Membiarkan kalian pergi, sama saja menggali lubang yang sama kedua kalinya. Sebentar lagi, polisi akan datang. Mencoba kabur, bersiap habis di tangan Iam." ancam Mami Dona dengan tatapan pasrahnya.
"Iam... Maaf. Aku hanya terlalu menyukaimu. Bahkan, jika aku mati di tanganmu, seperti nya itu bahagia untukku."
"Maka, aku tak akan membiarkanmu bahagia seidikitpun, meski dengan cara mati." Iam melepaskan cenkramannya, dan Shandy jatuh tersungkur di hadapannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Iam. Aku bersedia, melakukan apapun yang kau minta. Asal, kau mau melepaskan aku."
"Apa kau bisa, hidupkan lagi anakku? Tidak bukan?"
"Jika kau mau, aku akan mengandung anak untukmu. Aku akan menggantinya dengan rahimku. Asal, setelah itu kau biarkan aku pergi." mohonnya, dengan kedua telapak tangan saling bertemu di hadapan Iam.
Pria itu hanya terbahak-bahak, mendengar semua kekonyolan Shandy. Dan Ia, mengeluarkan sebuah botol berisi minuman yang Ia berikan pada Lila."Kau tahu efeknya?"
"Itu, obat tidur. Jika diminum, kau akan tidur dengan begitu nyenyak." jawab Shandy.
"Ya, gara-gara ini, anakku meninggal.
" Lalu, apa mau mu padaku?" tanya Shandy, dengan tubuh yang gemetaran.
" Minum, habiskan. Kau akan tidur dengan begitu nyenyak. Setelah itu, kua akan bangun dan bebas." ucap Iam, dengan senyum penuh arti.
Sahndy sebenarnya curiga, tapi Ia menuruti Iam kali ini. Mami Dona, bahkan tak dapat membayangkan apa yang terjadi pada Shandy setelah ini.
__ADS_1
" Lala, sebentar lagi aku akan kirim dia untukmu. Kau bisa ambil rahimnya, dan berikan pada siapapun. Dia harus menebus dosanya." ucap Iam, ada sahabatnya.
"Apa! Kau... Kau mau ambil rahimku? Tidak... Tidak bisa. Apa jadinya, wanita tanpa rahim?" Shandy tak mampu berkata apapun lagi. Tubuhnya lemah, dan terjatuh di lantai. Ia tidur lelap, dengan obat yang telah Ia racik sendiri.