
"Tolong, lepaskan aku. Aku, hanya menjalankan perintah karena bayaran. Baru saja melaksanakan tugas, dan belum mendapat hasil apapun."
"Ya, aku tahu. Maka, segeralah pergi. Dan katakan pada Tuanmu, aku tahu siapa dia." Iam melepaskan cengkramannya, dan pria itu pun lari terbirit-birit meninggalkannya yang tengah merapikan diri. Ia pun berjalan kembali, menghampiri Lila yang telah lama menunggunya.
" Darimana, kok lama? Kaki Lila pegel," Lila menunduk, memijati betisnya yang terasa keram. Ia duduk di kursi yang tersedia disana, cukup lama, membuat wajahnya sedikit kusut
"Dari kamar kecil, maaf ya," Iam meraih kaki sang istri, membawa ke pangkuannya. Lalu memijatnya dengan lembut. Tak perduli, semua orang yang lewat menatapnya
"Mas," panggil Lila, yang kembali mengusap perutnya.
"Ya? Laper lagi?" tatap Iam padanya, di balas anggukan dari Lila. Iak berdiri, meraih kantung belanjaan Lila yang lumayan banyak, lalu menyambut Lila dengan telapak tangannya. Menggandengnya menuju pusat makanan di lantai atas.
Memilih tempat duduk yang nyaman, dan membiarkan Lila menunggu pesanan. Sementara Iam yang berjalan memesan semua menu yang Lila inginkan. Lila di sapa oleh salah seorang pria, yang mungkin menganggapnya gadis cantik jomblo.
"Hay, boleh kenalan? Kok sendirian?" sapa pria itu.
"Hay, saya ngga sendirian. Saya bertiga, sama suami, dan calon anak kami." Lila menunjukkan perutnya, dan pria itu langsung tersipu malu dan pergi perlahan.
"Siapa, sayang?" tanya Iam, yang datang membawa minuman.
__ADS_1
"Cowok ganteng, mau kenalan sama Lila." jawabnya, dengan terus memainkan hp.
"Lilaa," Iam meraih Hp itu dan meletakkannya diatas meja. "Seriusan, itu siapa?"
"Ya, cowok ganteng, mau kenalan, Mas. Ngga percaya, ish."
Iam menyipitkan matanya, meraih Hp Lila, lalu memeriksa kontaknyanya.
"Idih, langsung periksa Hp. Lila ngga ngeladenin dia kok. Lila bilang, kesini bertiga sama suami dan anak. Cemburu, ya?"
"Jangan ditanya," Iam kembali meletakkan Hpnya.
"Tapi Lila seneng, dicemburuin. Tandanya sayang." ucap Lila dengan menggelendot manja pada sang suami.
Iam memesan kan begitu banyak makanan. Diantaranya adalah beberapa olahan seafood yang memang Ia sukai. Udang, cumi. Tapi yang paling menarik bagi Lila adalah, cumi saus padang yang tampak menggiurkan. Hanya saja, Ia akan kesulitan mengupas udangnya. Tapi Iam sigap, mengupaskan kulit udang itu untuk Lila.
"Makasih, suamiku..." ucap Lila, dengan mengecup pipi Iam yang tangannya masih mengolah udang.
"Dah, makanlah. Dasar wanita, udah dipesenin yang mudah dimakan, malah maunya yang lain." geleng Iam, dengan tingkah istrinya.
__ADS_1
Lila tampak begitu menikmati hidangan itu. Makan dengan lahap, dan sesekali menyuapi Iam yang masih terus mengupas udang untuknya.
" Makan yang banyak, biar nanti malem kuat. "
" Hah? Kuat apa?" toleh Lila, dengan mata melotot.
"Kuat, ngga minta makan malam lagi."
"Oh, baiklah." balas Lila.
Iam hanya tersenyum, mengangguk-anggukkan kepalanya. Ada maksud tersendiri dalam hati dan fikirannya, tapi Lila masih belum menyadari maksud ucapan itu. Hingga makan malam selesai, dan Lila mengajak Iam untuk segera pulang.
"Yakin, udah?"
"Udah, capek, kangen kasur."
"Okey," Iam membukakan pintu untuk Lila, dan melindungi kepalanya dengan tangan agar tak terbentur. Ia pun segera berlari, menuju kursinya sendiri untuk kembali menyetir.
Mereka diam sepanjang perjalanan, dan Iam terus memperhatikan lagi spionnya.
__ADS_1
"Tidak, dia sudah tak ada." batinnya lega. Tapi, Lila yang justru melihat sesuatu di bawah lampu merah yang terang itu.
"Mas, itu Bapak?" tunjuk Lila. Iam segera menoleh, dan berusaha memperhatikannya. Tapi sayang, lampu telah hijau kembali dan mereka sulit untuk berhenti.