Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Awal derita Aul.


__ADS_3

Nasi goreng istimewa telah siap. Dengan bau yang begitu harum, dengan telur ceplok di masing-masing piringnya. Lila menghirupnya dengan begitu berselera, menunggu sedikit dingin agar dapat melahapnya dengan nikmat.


"Masih lama..." Lila memandangi makanan yang masih berasap itu


"Sabar, masih panas." Iam menyendok nasinya, meniup dan menyuapkannya pada Lila. Begitu terus, hingga nasinya habis dan Lila merasa kenyang.


"Enak... Gini terus ngga papa, Mas yang masak." tawa Lila, cengingisan.


"Enakan kamu lah, dasar." ucap Iam di rambut Istrinya.


Iam menyantap makanannya hingga tandas. Lila lalu membereskan semuanya hingga rapi, dan menemani Iam untuk pekerjaannya.


"Mas, boleh minta sesuatu?"


"Apa?" Bagas fokus dengan laptopnya.


"Ehm, jangan marah?"


"Ya, apa? Gimana mau marah, kalau ngga tahu?"


"Mengenai, Duta?"


Pertanyaan, yang langsung membuat gerakan tangan Iam terhenti.


"Kenapa?" tolehnya pada Lila.


"Boleh ngga, kalau Duta diterima aja? Kasihan, Mas. Anaknya masih kecil."

__ADS_1


"Kenapa jadi perduli dia? Dia menyakiti kamu." ucap Iam.


"Lila kesel sama Ibu dan Ayahnya. Tapi, Lila sayang sama anaknya. Kan, yang salah orang tuanya."


Iam hanya diam, berfikir dengan sesekali menggaruk dahinya. Bukan karena cemburu, tapi mengenai data yang Ia berikan dan persyaratan dari perusahaan. Membuatnya sulit menerima Duta disana.


" Masss, ayolah." rengek Lila, dengan mengedipkan matanya berkali-kali.


"Ya, besok ku hubungi lagi. Akan ku kabari mengenai penerimaan untuknya. Tapi....."


"Apa?"


"Lila ngga boleh deketan sama dia."


"Ih, cemburu." cebik Lila.


"Bagaimana aku bekerja, jika seperti ini?" Iam kembali mengucek rambutnya.


"Lagi lagi, aku kalah dengan mu. Ya, kamu. Kamu yang selalu memberikan kesejukan di hatiku." usapnya di rambut sang istri.


Iam membenarkan posisi tidur Lila, kemudian berbaring dan memeluknya begitu dekat. Memberikan lengannya, untuk bantal sang istri yang terlelap begitu nyenyak dengan segala mimpi indahnya.


"Maaf, jika terus membuatmu lelah." bisik Iam padanya.


***


"Aul,"

__ADS_1


"Ya, Tante?"


"Ish, Tante lagi. Nih, tolongin tugas gue dong. Kan jawabannya sama, jadi sekaligus aja kerjainnya.


"Tapi...."


"Udah, nih. Gue mau pergi, mumpung belum malem banget. Dan inget, jangan kunci pintu sebelum gue pulang." tepuk Shandy di bahu Aul.


Aulia hanya menghela nafas panjang. Meski memang sama, tapi pasti harus ada perbedaan dari inti makalahnya.


"Membuat, lebih mudah daripada mengedit. Tapi, mau buat pun udah semalam ini." pijitnya di dahi.


Lagi-lagi Ia harus bekerja keras sendirian. Ia hanya tak ingin, jika Dona stres hanya karena perlakuan sang adik pada anak tirinya.


Bagi Aul, Dona begitu baik dan pengertian. Meski Ia tak akan pernah menggantikan Mamanya, dan membuat Kakaknya sakit. Tapi Dona adalah Mami yang baik dan selalu tulus padanya.


"Aul, kenapa belum tidur?" Dona mengagetkan.


"Mami? Ehm, Aul masih ada tugas, Dikit lagi selesai."


"Ehm, baiklah. Jangan kemaleman, ya? Ngga baik buat kesehatan kamu."


"Iya, Mam."


Dona pun pergi, mematikan lampu ruangan dan mengunci pintu utama. Untungnya, kunci masih Ia tinggal disana, hingga Aul masih bisa membukakan pintu untuk Shandy ketika pulang nanti.


"Ngga tahu, Dia pulang jam berapa. Masa, harus melek sampai malem? Mana udah ngantuk banget." gerutunya sedikit kesal.

__ADS_1


Dan sepertinya, Ia akan sedikit lama mengalami hal seperti ini.


__ADS_2