Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Inti kedatangan Bapak


__ADS_3

Lila bangun pagi-pagi sekali. Ia menyiapkan sarapan untuk sang suami, dengan penuh semangat. Seolah lupa, dengan adanya sang Bapak disana.


Sebuah tangan menelusup di pinggangnya, dengan hembusan nafas berhembus lembut di tengkuk lehernya. Membuat suasana semakin hangat pagi ini.


"Mass, Lila lagi masak loh."


"Iya, tahu. Tak apa kan, jika seperti ini?"


"Ribet, Mas. Lila mau ambil bahan kesana kemari. Nanti Mas malah kena solet ini gimana?" omel Lila.


Iam membalik tubuh sintal istrinya itu. Ia mematikan api kompornya, untung saja memang masakan memang sudah matang. Iam menggeser tubuh Lila, sedikit menjauh dari kompor dan menggendongnya duduk di atas sana.


Iam menempelkan keningnya di kening Lila, dengan tangan melingkar di pinggang kecilnya. Mendekatkan bibir mereka satu sama lain.


" Masss, ini di dapur."


"Lalu, mau dimana? Ke kamar?" goda Iam. Lila hanya teesenyum, lalu mengecupkan bibirnya ke bibir Iam yang memang sejak dari tadi haus dengan kecupannya.


"Hey, kenapa melakukan itu di dapur? Tak sadarkah, jika ada orang disini?" tegur Pak Hari, yang secara tiba-tiba menyambangi mereka ditempatnya.


Lila berjingkrak turun karena kaget, sekaligus kesal karena pemandangan buruk yang mengganggu matanya itu pagi ini.

__ADS_1


" Mas, mandilah. Ini sudah siang, nanti kesiangan ke kantornya." usap Lila di bahunya.


Iam mengangguk, lalu meninggalkan Lila dengan segala aktifitasnya.


"Kau tak anggap Bapak ada disini, Lila?"


"Kenapa?"tanya Lila tanpa menoleh.


" Kau tak ingat, dengan kopi panas yang selalu Bapak inginkan tiap pagi?"


"Lila sudah lupa semuanya, maaf. Duduklah, Lila akan membawakannya ke depan, nanti."jawab Lila.


Pak Hari pun melangkahkan kakinya ke depan, duduk di sofa dengan menonton tv dengan layar yang lebar itu. Begitu puas, duduk dengan begitu santai nya dengan satu kaki di topang dengan kaki yang lain. Dan menggoyang-goyangkannya mengikuti alunan musik yang terdengar merdu.


"Kau, punya rokok?"


"Tidak... Mas Iam tak merokok, dan Lila benci bau rokok dirumah ini."


"Sok kamu, padahal dulu kamulah yang suka membelikan rokok untuk Bapak."


Lila bergeming, hanya kembali berjalan menuju dapurnya untuk lanjut memasak.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Iam keluar dengan jas dan dasi yang masih berantakan. Lila pun segera merapikannya dengan begitu teliti.


" Makasih, sayang. Sarapan udah siap? "


" Sudah, ayo makan." gandeng Lila padanya.


Iam memanggil sang mertua untuk sarapan bersama, duduk bertiga di meja makan yang cukup besar itu.


"Wuih, gini makananmu enak-enak, La? Hidup enak banget kamu rupanya. Rumah besar, mewah, suami kaya. Makan enak setiap hari pula. Pantes, bisa kasih Bapak uang waktu itu."


"Hmmm, lalu?"


"Ehm, boleh Bapak pinjem uang ngga?" tanya Pak Hari, begitu jujur disela sarapan mereka yang tenang.


"Bapak, mau pinjem buat apa?"


"Bapak mau beli ruko, mau bikin toko kayak Ibu mu. Capek Bapak, kalau harus kesana terus minta hak Bapak."


Lila meliriknta begitu tajam, ketika mendengar kata-kata tak tahu diri itu.


"Masih saja merasa itu haknya, meski tak ada kontribusi sedikitpun disana. Menafkahi istri baru dan anak tirinya, dari hasil kerja keras mantan istri dan anak kandungnya. Miris." cibir Lila dengan penuh amarah yang tertahan di hatinya.

__ADS_1


"Lila, kamu ngga tahu apa-apa, ya? Itu harta milik bersama, makanya Bapak masih punya hak disana. Entah kamu, ketika ditinggal oleh Iam ketika sudah peyot nanti. Miskin, tak berpendidikan, tak punya apa-apa."


Lila semakin tajam meliriknya, harusnya menembus hingga ke jantung dan menakutkan. Tapi tidaj bagi pak Hari yang memang sudah terlanjur bebal dengan pendiriannya.


__ADS_2