
"Mba Dinar, kalau mau pulang ngga papa. Mas Iwan, bentar lagi pulang. Setidaknya sambut, meski cuma sebentar." ucap Lila, yang masih berbaring di brankarnya. Ia sama sekali belum berani turun, meski sudah observasi lebih dari Enam jam.
"Boleh? Tapi, kamu gimana? Mas Iam masih tidur." lirik Dinar pada suami Lila yang masih di sofa.
"Ngga papa. Nanti, Ibu sama Aul kesini buat bawain baju ganti. Mas Iam, kalau Lila panggil, langsung bangun kok." jawab Lila padanya. Dinar pun mengalah, karena sudah mendapat izin dari Lila. Dan lagi, disana memang sudah ada yang mengawasinya Dua puluh empat jam, selain sang suami.
" Baiklah, Mba pamit dulu. Besok pagi, Mba kesini lagi." balas Dinar, lalu perlahan keluar dari ruangan itu.
Hari memang sudah kian sore. Bu Marni diantar Om Agung menuju Apartemen, untuk mencarikan pakaian ganti untuk Iam dan Lila. Om Agung langsung pulang, dan Bu Marni akan bersama Aul nantinya.
Tubuh Lila rasanya sangat gerah. Ia memang rajin mandi sore, apalagi kondisinya yang selalu harus berbaring kali ini. Punggungnya terasa panas, dan bahkan gatal.
__ADS_1
"Mas, bangun, Mas." panggil Lila. Iam pun langsung membuka mata dan menghampirinya. Lila menyeka wajah sang suami yang tampak kusam, dengan tisu basah yang tersedia disana.
"Capek?" tanya Lila, menatapnya dengan hangat. "Ya, sangat capek. Kantor, masih butuh pengawasanku. Jadi maaf, jika masih harus bolak balik." jawab Iam.
"Ngga papa. Tapi, Papa ngga dimarahin, kan? Kasihan, jantungnya nanti sakit lagi. Bukan sepenuhnya salah Papa kok."
"Ya, ngga papa. Lila butuh sesuatu?" tanya Iam. Lila mengangguk, lalu meraih tengkuk leher Iam. Iam pun segera meraih bahu Lila, dan menaikkan sedikit tubuhnya ke bagian atas tempat tidurnya. Lila kembali duduk, agak lebih tinggi dari posisinya tadi.
"Gerah, pengen mandi. Boleh?" tanya Lila.
"Ya, kasihan suaminya, nanti."
__ADS_1
"Aku panggil perawat, dulu." ucap Iam, tapi Lila mencegahnya. "Malu, Mas. Cuma di lap aja ngga papa. Mas aja, tapi." pintanya.
Iam hanya mengangguk, lalu menggulung lengannya. Ia mengikat dan merapikan rambut Lila terlebih dahulu. Kemudian membuka pakaian Lila satu persatu, dan mulai mengelap tubuhnya dengan tisu basah. Habis begitu banyak untuk seluruh tubuh Lila, tapi Ia merasa sedikit segar karenanya. Iam meraih pakaian pasien yang ada diatas nakas, lalu memakaikannya kembali pada sang istri.
"Udah, seger." ucap Lila. Ia pun menyantap bubur ayam yang tadi dibelikan oleh Dinar. Ia menyantapnya sedikit demi seidikit, tapi sering. Untuk menghindari rasa mual yang semakin menjadi.
"Maaf, setelah ini, Lila belum bisa melayani dengan baik. Mas, bisa tahan?"
"Lalu, aku akan melampiaskan pada siapa? Sudah jelas harus ku tahan." lirik Iam dengan senyumnya yang manis.
Lila tertunduk, wajahnya sedikit murung. Wajar saja, karena biasanya, dengan sekali sentuh pun Iam akan langsung On dengannya. Tapi kini, mau tak mau harus menahan nya sekuat tenaga. "Hanya takut, jika...." bibir Lila ditutup oleh jari Iam. Ia kemudian naik ke brankar itu, dan tidur persis di sebelah Lila. Mendekapnya dengan segala kerinduan yang ada.
__ADS_1
"Seperti ini saja cukup. Aku tak akan kemana-mana. Apalagi, meninggalkan mu yang berjuang demi bayi kita." usap Iam diperut itu. Sudah mulai tumbuh, dan terasa ketika diusap. Hanya saja, belum ada gerakan yang Ia rasakan dari sana.
"Satu atau dua bulan lagi, pasti akan mulai aktif. Jika memang perkembangannya baik." ucap Lila. "Pastinya. Dia pasti kuat, seperti Mamanya." Iam mengecupi perut itu dengan begitu gemas.