
"Kita keluar, sekalian bawa kopernya. Nanti sisanya, Duta ambil dan bawa ke rumah baru kita."
"Kok, Mas jadi akrab banget sama Dudut?" tanya Lila.
"Itu panggilan sayang kalian?" lirik Iam dengan tajam.
"Kami temenan udah lama, pacaran, eh ditinggal. Udah, itu aja siklusnya."
"Aku tak perlu menceritakan tentang Dona, kan?"
"Jangaaan," rengek Lila dengan mata melototnya. Iam hanya tertawa renyah menatap hal itu.
Mereka telah ada di bawah. Iam membukakan pintu untuk sang istri, tapi menahan lengannya ketika akan masuk.
"Kenapa?" tanya Lila menatapnya.
__ADS_1
"Berjanjilah. Apapun yang kamu lihat, itu tak akan membuatmu murung. Aku benci ketika kau tertekan. Aku, baru saja bahagia dengan segala canda tawamu." pinta Iam.
Lila hanya mengangguk, dan Iam kembali membiarkannya masuk. Telapak tangan Iam menghalangi pinggiran pintu, agar Lila tak terantuk disana dan kesakitan. Simple, tapi berkesan, melebihi perhatian apapun.
Selama perjalanan, Iam hanya diam. Sedangkan Lila bersenandung dengan lagu-lagu kesukaannya. Suaranya cukup merdu, dan Iam beberapa kali memujinya kala itu. Tapi, senandung itu terhenti ketika Iam membawanya ke arah yang berlainan dengan alamat Pak Hari.
"Kok, kesini? Bapak kan disana?"
"Bapak udah pindah." jawab Iam datar.
"Mas? Kok kesini?" tanya Lila, dengan hati yang mulai berdebar.
Iam menghenduskan nafas nya sejenak, lalu memutar menghadap sang istri dan memegang tangannya lagi.
"Khalila ku," panggilnya lembut.
__ADS_1
"Iya, Mas. Kenapa?"
"Kamu mau lihat Bapak, kan? Ayo, masuk." Iam keluar berputar dan membukakan pintu. Lalu, menggandeng tangan Lila yang terasa gemetar. Ia pun mengusap tangan itu, "Ini lah, kenyataannya. Maaf, telah menyimpan rahasia ini padamu."
Mereka tiba di sebuah taman. Dari kejauhan, tampak Pak Hari memangku sebuah tas ransel, dan memeluknya dengan erat. Bahkan, beberapa kali mengecupnya dengan penuh kasih sayang. Lila diam, menutup mulut nya dengan telapak tangan dengan semua yang Ia temukan.
"Mas, kok Bapak disana?" tanya Lila. Iam pun perlahan menceritakan semuanya pada sang istri. Dengan semua kenyataan yang Ia tahu, dari Bu Marni, Om Agung, dan semua tetangganya yang bertindak sebagai saksi disana. Menyaksikan bahwa istri baru dan anak nya pergi membawa semua uang pak Hari, bahkan tanpa sisa sama sekali.
"Ya Allah, Bapak. Kenapa jadi begini?" tangis Lila memuncah, bahkan kakinya terasa lemas dan nyaris jatuh kala itu. Untung, Iam segera mendekap dan membawanya ke kursi yang lain.
"Sayang, kamu ngga papa? Maaf, kenyataan ini begitu menyakitkan. Andai saja, aku tak menurutinya untuk....."
"Mas, sudahlah. Jangan menyalahkan diri sendiri. Ini, takdir Bapak. Lila ngga tahu, ini hukuman atau bagaimana. Yang jelas, pasti ada sistem tabur tuai atas segala tindakan kita." Lila menghela nafas, dan mengusap air matanya yang masih mengalir deras. Iam membantunya, lalu memeluknya lagi agar semakin tenang.
" Kau harus tepati janjimu. Jangan pernah murung lagi, jangan pernah sedih lagi. Baik Papa mau pun Bapak, mereka telah ada di tempatnya masing-masing. Tinggal Dona, perlu kita perhatikan bersama." usap Iam di rambutnya.
__ADS_1
Lila berusaha mengulas senyum meski sulit, hingga Iam meraih kedua sudut bibirnya dengan ibu jari, dan membuat lengkungan dikedua ujung bibir Lila."Kau, harus selalu cantik dan tersenyum untukku." ucap Iam.