
"La, coba kesini." panggil Raja pada sahabatnya. Lala menghampiri, dengan tangan yang terbalut handscoon lengkap seperti tim forensik yang tengah mencari barang bukti.
"Ada apa?" tanya nya, dengan segala rasa penasaran.
Raja memberikan sebuah botol padanya. Itu adalah satu botol yang telah Lila buka dan Lila habiskan isinya. Raja meminta Lala mencium baunya, dan meneliti bau apa yang terkandung di dalamnya.
"Kamu tahu?"
"Ini, seperti bau obat tidur. Ya, aku faham karena sering memberi nya untuk pasien jiwa ku yang susah tidur."
"Astaga." gumam Raja. Ia menemukan wadah bingkisan, dan di sana tertulis dari Mami Dona. "Hah, serius? Atas dia mau menggugurkan cucunya? Ya, meski bukan cucu kandung, tapi harusnya jangan begitu."
"Ja, gue tahu Dona. Ini ngga mungkin dia, Ja." bela Lala, yang memang sahabat dekat Dona pada masanya.
"Iam tahu ngga? Kalau Iam tahu, Dona bisa habis karena fitnah ini. Belum reda yang itu, di fitnah lagi dengan ini. Astaga, kasihan dia."
__ADS_1
"Siapa yang kasihan?" Iam tiba-tiba datang, mengagetkan mereka dengan wajahnya yang tampak begitu sangar.
"Iam?" ucap mereka bersamaan. "Ini, pengiriman dari Mami Dona, katanya. Dan obat tidiur, ada dalam botol ini," Lala memberikan sample mereka. Dan kemungkinan, ada beberapa dari Enam botol yang telah di oplos dengan obat tidur.
"Donaaaa!" pekik Iam, dengan meremas botol itu dengan begitu kuat. Menampakkan semua urat tangannya yang biasa tampak lembut.
"Am, gue tahu Dona. Dia ngga mungkin lakuin itu. Dia, ngga mungkin tega."
"Lalu menurutmu siapa, Lala!" tanyanya, dengan nada keras.
"Ketika kalian menemukan tersangka dari semuanya, aku akan segera menghabisinya. Bahkan, Lila belum juga bangun hingga sekarang!" rahang Iam semakin mengeras. Ia membawa botol itu keluar, dan pergi menghampiri Dona di tempatnya. Lala dan Raja berusaha mengejar, bahkan Alex pun berusaha menahan kepergiannya. Tapi tak bisa. Ambisi Iam begitu kuat, tatapannya pun tampak begitu mengerikan.
"Iam, gue ikut. Jangan sampai Loe kenapa-napa."
"Terserah!" ucap Iam, tanpa menoleh lagi pada sahabatnya itu.
__ADS_1
Alex mengambil alih mobil, Ia menyetir membawa Iam ke kantor mereka. Iam langsung berlari menuju ruangan Dona, dalam keadaan sangat kacau.
Braaakk! "Kau apakan anak dan istriku?" tanya Iam, datang dengan segala amarahnya.
"Bisakah kau sopan? Aku sedang banyak pekerjaan. Kau kenapa?" tanya Mami Dona, yang memang tak mengetahui apapun. Wajahnya pun tampak begitu bingung, dengan sikap Iam padanya.
"Kenapa kau mengirim paket pada istriku! Bukankah, aku sudah melarangmu mendekatinya? Kenapa kau tak patuh!" Iam meraih lengan Mami Dona, mencengkramnya dengan begitu kuat.
"A-aku tak faham, apa yang kau katakan. Maksudmu apa? Paket yang mana? Aku patuh, ketika kau bilang menjauh. Tapi kenapa kau masih curiga padaku?"
Mami Dona tampak sangat ketakutan kali ini. Ia gemetar, bahkan tak mampu bergerak sedikitpun dari cengkraman Iam padanya.
" Ini, Iam. Ini yang selama ini aku takutkan, ketika amarahmu memuncah. Kau memang begitu lembut memperlakukanku, tapi kau juga akan brutal, ketika melihat aku tersakiti. Cemburumu, amarahmu, tak dapat kau kontrol dengan baik ketika sudah mulai terpancing." batin Mami Dona, dengan segala rasa takutnya.
" Jika itu bukan kau, lalu dari siapa? Jelas disana ada namamu sebagai pengirimnya!" Iam mulai sangat ganas, seolah ingin mencengkram wanita itu hingga habis.
__ADS_1