Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Siapa mereka yang jahat?


__ADS_3

"Kejam kamu Iam! Kejam! Tak berperikemanusiaan. Anakmu memang lemah, dari awal kandungan pun begitu!" sergah Oma Nia, yang meratapi nasib anak kesayangannya.


"Kita tak ada bedanya, Oma Nia. Hanya, kau direncanakan, dan aku tanpa sengaja karena semua amarah yang telah ku tahan. Selama ini, aku menghormatimu demi Dona. Tapi, sekarang tidak." ucap Iam. Mereka tinggal menunggu kedatangan polisi, serta Lala yang akan mengeksekusinya setelah ini. Mungkin ini yang dikatakan, semuanya bisa dilakukan demi dan karena uang.


" Iam, sudahlah. Ku dengar, Lila sudah bangun dan mencarimu. Segera datang padanya, dan hibur dia." pinta Mami Dona padanya, dengan wajah yang datar. "Kau, tak percaya padaku? Ada Alex disini."


"Baik, aku percayakan mereka padamu. Tapi, jika sampai mereka pergi, kau pun akan sama nasibnya dengan adikmu." ancaman, yang langsung membuat jantung Mami Dona bergetar dengan sangat hebat.


"Dia tak main-main," fikir Mama Dona, dengan segala rasa takutnya.


Iam pun pergi. Ia mulai merubah raut wajahnya dalam mode manis, untuk menyambut sang istri. Tak akan Ia tampakkan seluruh amarah yang baru saja Ia keluarkan. Ia harus tampak tegar di hadapan Lila, bagaimana pun caranya.

__ADS_1


"Dona, kenapa kamu menuruti dia? Lepasin Mama dan Shandy!" pekik Oma Nia, ketika Mami Dona mengikat tubuhnya dengan tali. "Aku Mama mu, dia adik kandungmu! Harusnya, kau menolong kami. Lepaskan, Dona!"


"Maaf, tapi... Kalian harus menerima hukuman ini. Aku juga takut mati, aku juga takut jika Iam akan menghukum ku nantinya. Aku tak dapat menghapus, aku hanya bisa memperringan hukuman yang akan di jalani Shandy."


"Memperingan bagaimana? Iam akan mengangkat rahimnya. Itu melanggar hak azasi manusia!" Mami Dona tersenyum mendengarnya. "Lucu, ketika seorang yang bahkan tak memberikan bayi kesempatan untuk hidup, kini berbicara tentang hak azasi. Dari kemarin, Mama kemana?"


"Setidaknya, tidak diangkat sepenuhnya. Tapi, hanya memotong sebagian kandung telurnya. Shandy, masih bisa memiliki keturunan meski sulit." balas Mami Dona. Keadaannya pun tak kalah kacau saat ini. Apalagi, Ia harus menerima suaminya pun akan menerima hukuman dengan kasus yang sama dengan mereka. Hancur pasti, tapi itu adalah resiko yang harus Ia hadapi saat ini.


Iam melaju kencang dengan mobilnya. Ia mampir ke sebuah toko pakaian, dan langsung mengganti pakaiannya dengan yang baru. Tak lupa, menyemprotkan sedikit parfum disana. Setelah itu, perjalanannya lanjut tertuju pada Lila, dengan sebuah bucket bunga mewah dan tampak mahal untuknya.


Di depan ruangan, wajah yang cemberut dan serius itu, Ia ganti dengan wajah penuh senyum dan manja. "Hey sayang, sudah bangun?" kecupnya pada sang istri. Lila menyambutnya, menerima kecupan itu lalu merangkulkan lengan ke leher Iam dengan erat.

__ADS_1


"Hey, kenapa?" tanyanya, dengan mengode Dinnar untuk mengambil bucket bunga itu darinya. Ia pun membalas pelukan itu, sembari mengusap bahu Lila untuk sedikit membuatnya tenang.


Lila menghela nafas sejenak, dan akhirnya bersuara meski begitu lirih dan tertahan, "Maaf, Lila ceroboh." sesalnya. Ia seolah tak ingin melepaskan bahu Iam yang nyaman, meski hanya untuk sejenak.


"Tak ada yang perlu dimaafkan darimu, karena kau tak salah."


"Lalu siapa?" tanya Lila. "Katakan, karena setidaknya aku tahu mana sebenarnya orang jahat diantara kita. Hingga aku tak akan terkecoh lagi dengan semua senyum ramah, yang akhirnya akan membunuh secara perlahan." ucap Lila.


Iam perlahan merubah posisi. Ia duduk tepat di sebelah Lila, tanpa pernah melepaskan dekap hangat darinya. Ia membawa Lila berbaring, dengan terus berpelukan dan akhirnya lengan Iam menjadi bantalan yang menopang lehernya dengan nyaman.


" Tak ada yang memberi senyum palsu. Mereka, adalah yang sejak awal tak menyukai keberadaanmu. Dan sayangnya, mereka memang tak berubah sedikitpun." ucap Iam.

__ADS_1


__ADS_2