Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Apa yang kamu inginkan, setelah menikah?


__ADS_3

"Kak Iam!"


Pekik seorang gadis manis, seusia Lila. Ia berlari menghampiri dan memeluk Iam dengan erat.


"Hey sayang, apa kabar? Kakak rindu banget sama kamu." kecup Iam di dahinya.


"Aul juga kangen. Seminggu lebih, Kakak pergi tanpa ada kabar sama sekali. Fikiran jadi macem-macem." ucap Aul, mendongakkan kepala menatap wajah sang Kakak.


Aul kemudian menoleh. Ia menatap seorang gadis cantik yang berada dalam gengaman tangan sang Kakak.


" Ini? "


" Calon Kakak ipar. Khalila namanya." bisik Iam.


" Kak Lilaaa! Salam kenal. Aku Aulia, panggil aja Aul. Adik semata wayang Kak Iam. Ngga tahu deh, kalau nanti bakal dapet adik baru, soalnya......"


"Aul... Papi mana?" tanya Iam, memotong ucapan Aulia yang terlalu banyak bicara.


"Tuh, di dalem. Sama Mami lagi sarapan. Ayok, Kak Lila. Kita ke dalem." tarik Aul pada tangan kecilnya.


Lila berjalan mengikuti Aul, dan Ia dibawa langsung menghadap Papi dan Maminya.


"Aul, dia siapa?" tanya Mami Dona.


"Ini? Calon Kakak ipar Aul." jawaban yang sontak membuat kedua orang tuanya itu tersedak.

__ADS_1


"Aul, jangan bercanda. Papi sampai keselek ini." tegur Mami Dona padanya.


"Aul ngga bohong...."ucap Iam yang perlahan masuk.


" Iam, kamu pulang?" sapa Mami Dona dengan ramah. Tapi, Iam tak menghiraukannya.


" Lila calon istri Iam, dan kami akan segera menikah. Tak ada yang bisa mengganggu gugatnya." sambung Iam pada mereka.


Papa Wira menatapnya dengan tajam. Bergantian antara Iam dan Lila.


" Iam, ayo duduk dulu. Dan kamu, siapa?"


"Lila, Tante... Tapi, kenapa masih sangat muda? Meski ibu tiri, kenapa semuda ini?"


"Iya, Lila... Ayo duduk." ajak Mami Dona.


"Hey, tenanglah." bisik Iam padanya.  Dan Lila hanya mengangguk.


Diam dalam waktu yang lama, menunggu Papa Wira menyelesaikan sarapannya. Beliau memang sosok yang tak suka di ganggu ketika makan, dan paling benci keributan.


"Kamu, kerja dimana?" tanya Papa Wira, mulai mengeluarkan suaranya yang dalam dan berwibawa.


"Saya?" tanya Lila.


"Ya..."

__ADS_1


"Saya bekerja di hotel Horizon, sebagai Housekeeping. Tapi kemarin, sebentar lagi resign." jawab Lila dengan jujur, sesuai permintaan Iam.


"Pelayan.... Lalu, pendidikan terakhir?"


"Sempat kuliah, tapi berhenti karena biayanya."


"Kamu mau berhenti kerja, setelah menikah dengan anak saya? Lalu, apa yang kamu inginkan setelah menikah?" tanya Papa Wira lagi.


Lila hanya mencengkram celana yang Ia pakai. Serasa tak mampu lagi berkata-kata.


"Apa-apaan yang ditanyakan? Iam kesini bawa calon istri, bukan calon karyawan." sergah Iam.


"Mencari calon istri harus jelas, jangan asal pilih karena dia cantik. Baru kenal Satu minggu, dan mau diajak menikah. Kenapa? Dan apa tujuannya? Apakah, dia sudah mencintaimu?"


"Ya, Iam faham. Tapi buat apa sekarang melakukan penilaian seperti itu? Bahkan, wanita yang sudah sangat Iam fahami saja, masih bisa lari bersama orang lain." lirik nya pada Dona, membuat wanita itu gugup dan pucat.


"Katakan, sudah sejauh apa hubungan kalian? Apa, sudah pernah tidur bersama?"


"Papa!" panggil Aul dan Mama Dona serentak.


"Balas dendam atas pertanyaanku? Baiklah, tak apa. Seperti yang Papa lakukan, jika tanpa restu dari Papa pun,  Iam akan menikahi Kalila." ucap Iam, memperlihatkan gandengan tangannya pada Lila kehadapan mereka semua.


"Jangan main-main, Iam. Kamu tak akan bisa pergi lagi."


"Ya, Iam tak akan bisa pergi. Tapi tidak dari rumah ini. Iam cari apartemen, dan Iam akan tetap di perusahaan. Karena itu amanat Mama sebagai anak lelaki dalam keluarga ini."

__ADS_1


Iam membawa Lila pergi, tanpa sepatah katapun dari rumah itu. Bahkan, meski Papa Wira meneriakinya berkali-kali.


__ADS_2