
Semilir angin malam menambah dingin suasana. Untung saja Lila mengenakan dress dengan lengannya yang cukup panjang kali ini. Tapi, bagian punggungnya sedikit terbuka. Lila melepas jas dan memakaikan pada istrinya.
"Haus," ucap Lila, yang masih menyemili biskuitnya.
"Aku ambilkan minum dulu. Kamu jangan kemana-mana."
"Baiklah." jawab Lila. Iam pergi, dan Lila kembali menikmati pemandangan indahnya sendirian.
"Aaah, besok hari minggu. Minta ke pantai ah. Sesekali jalan berdua, romantis, gitu." harapnya.
"Hay, kau sendirian?" sapa seorang pria, yang menghampiri. Bahkan, dengan santainya duduk di sebelah Lila. Sok akrab, bahkan Lila langsung berdiri setelah Ia duduk.
"Huueeek! Bau alkohol." gerutunya dalam hati.
"Kenapa kamu berdiri? Aku hanya ingin duduk disini. Ini, kan tempat umum."
"Maaf, Tuan. Tadi saya duduk disini bersama suami saya. Dan ketika anda datang, saya berdiri agar orang lain tak salah faham."
"Salah faham, untuk?"
"Orang lain akan mendapat dugaan macam-macam, nanti." jawab Lila.
__ADS_1
"Kamu baperan. Padahal saya hanya duduk di tempat umum. Dan lagi, kamu terlalu lebay. Padahal disini semua berbaur dengan baik antara tamu undangan lain. Tapi kamu malah menyendiri." ledeknya.
"Saya menyendiri pun bersama suami saya." ucap Lila.
"Kamu menjaga dirimu dari orang lain demi suamimu. Apakah suamimu begitu? Nona, tak ada yang benar-benar setia di dunia ini."
"M-maksudnya?"
"Mereka." tunjuk pria itu pada semuanya. "Mereka tak jarang bertukar teman kencan. Kau tak berfikir, kenapa setiap pesta di adakan di hotel?"
"Hah, iya juga." batin Lila. "Kenapa? Bukankah, memang biasanya seperti itu?" tanya Lila padanya. Makin penuh tanya, dengan segala rasa penasaran yang ada.
"Ya, karena setelah ini mereka akan tidur dikamar yang telah mereka pesan. Masing-masing dengan pasangannya. Dan belum tentu, pasanganmu dengan mu."
"Suami saya, tak mungkin seperti itu."
"Baru keguguran, bahkan bedrest dalam waktu yang lama. Hey, suamimu apakah se sabar itu." pria itu semakin mengompori Lila yang mulai tersulut emosinya.
"Engga, ngga mungkin! Ngawur anda!" ucap Lila dengan lantang.
"Hey, sayang, ada apa?" tanya Iam menghampiri dengan minumannya. "Ardy, kenapa kemari?" tatapnya pada pria itu.
__ADS_1
"Ah, tidak. Hanya ingin menyapa istrimu saja. Agar dia menikmati pestanya dan bersenang-senang dengan yang lain. Aku, kesana dulu." ucap Ardy, menepuk punggung Iam dan pergi.
"Lila kenapa kesel?" tanya Iam pada sang istri, dengan wajah yang sulit di artikan.
"Kenapa Lila ngga boleh makan atau minum sembarangan?"
"Ngga boleh, Lila kan sensitif sama alkohol."
"Jadi, semua minuman disini mengandung alkohol? Terus, apa bener yang di katakan pria tadi?"
"Dia bilang apa? Lila kenapa?" tanya Iam, semakin heran.
"Abis itu, pada nginep di hotel? Ngapain!"
"Hey, sayang. Tenang dulu. Memang pada nginep setelah ini, soalnya rata-rata dari luar kota. Jadi ngga mungkin pulang."
"Bohong! Aaah, Lila kesel sama Mas. Biar Lila mabok aja sekalian!" Lila meraih minuman dari seorang pelayan, yang kebetulan lewat di hadapannya. Meneguknya dengan kasar hingga tandas seketika.
"Hey! Maksud Lila apa? Kenapa begini?" tanya Iam. Lila mulai tampak sempoyongan, dan matanya mulai sayu..
"Masss, Lila rasanya terbang melayang tinggi di udara. Inikah, yang Mas rasakan waktu itu? Pantes, Mas ngga bisa kontrol diri. Jadinya, itu jadi malam pertama kita." Lila mulai mengigau, dan meracau tak jelas.
__ADS_1
Iam hanya diam, menatap aneh dan terus menjaga Lila agar tak lari ataupun kabur. Tapi, Ia serasa begitu aneh. Menjulurkan tangan ke wajah, hidung, dan bibir Iam. Bahkan turun, memainkan jakunnya yang menonjol di lehernya.
"Lila, itu sesitif." ucap Iam, tapi Lila justru semakin liar memainkannya.