Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Kedatang Bapak, di tengah malam


__ADS_3

Tengah malam, pintu kembali diketuk. Lila terbangun lebih dulu, lalu membangun kan suaminya yang tampak begitu lelap.


"Mas, bangun, Mas." bujuknya.


"Hey, sayang. Ada apa?"


"Ada yang ketuk pintu, Lila takut mau buka. Ini, udah tengah malem."


"Ssst, Ssstt... Yasudah, aku saja yang buka pintunya."


Iam segera beranjak dari sofa, dan berjalan menuju pintu utama. Ia mengintip dari lubang yang tersedia, dan melihat siapa yang datang.


"Bapak?"


Meski ragu, pintu pun akhirnya terbuka.


"Bapak, kenapa kemari?"


"Ehm, Iam, boleh Bapak masuk?"


"Baiklah, mari masuk." Iam menpersilahkan mertuanya masuk kedalam.


Lila begitu kaget melihatnya, Ia segera membenarkan posisi duduknya dan menatap datar pada Bapaknya yang juga duduk di hadapannya. Datang, tanpa membawa apapun. Hanya baju dan celana yang Ia pakai saat ini.


" Mau apa, kemari?"

__ADS_1


"Lila, jangan begitu." tegur Iam, ketika Lila bertanya ketus pada Bapaknya.


"Ehm, rumah kalian, besar sekali rupanya." puji Pak Hari, menatap seluruh ruangan mewah itu.


"Katakan, apa mau Bapak kemari?" tanya Lila lagi.


"Bapak, hanya mengunjungi kamu, Lila. Ngga ada salahnya kan, sesekali berkunjung? Biar bagaimanapun, kamu anak Bapak. Meski kamu telah menipu Bapakmu ini mentah-mentah."


Lila memicingkan mata, "Maksudnya?"


"Ya, kamu bilang kalau Iam hanya OB. Nyatanya, dia orang kaya yang memiliki rumah semewah ini. Beli, atau sewa?"


"Beli, Cash." Jawab Iam, dengan singkat.


Pak Hari hanya menganggukkan kepalanya. Ia semakin gencar berselancar pandang dari sudut ke sudut rumah itu. Seolah, ada yang tengah Ia incar.


"Yang suruh Bapak kesini tengah malam, siapa?"


"Bapak kesini siang tadi, tapi kamu ngga ada. Ada kamar lain, kan?"


"Kamar adik ipar Lila," jawabnya ketus.


"Terus, Bapak tidur dimana? Di sofa? Tapi, tak apa. Sofanya besar dan empuk. Lebih enak dari kasur Bapak dirumah."


"Hhh, terserah." Lila beranjak dari duduknya, meninggalkan Bapaknya bersama sang suami. Bahkan, Ia membanting pintu dengan cukup keras kali ini.

__ADS_1


"Kamu, keberatan juga, Bapak nginep?"


"Hanya karena, Bapak datang mendadak dan tengah malam. Andai lebih sopan, pasti tak seperti ini responnya."


"Ya, seperti inilah nasib orang miskin. Selalu dianggap rendah dimanapun dia berada."


"Bapak juga memperlakukan Iam seperti itu tempo hari. Tak ingat? Ah, sudah lah. Iam ambilkan selimut dulu." ucapnya, lalu pergi ke kamar Aul, lalu keluar dengan sebuah selimut di tangannya.


"Iam ke kamar. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan memangil. Dan ingat, disini di lengkapi dengan CCTV yang aktif."


Pak Hari menelan salivanya. Menoleh ke segala arah rumah besar itu. Ia pun segera berbaring, dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang Iam berikan barusan.


Kreeek! Iam membuka, lalu mengunci pintu kamar setelah menutupnya. Ia segera mengahmpiri sang istri yang memeluk bantal guling, tapi Ia tahu jika belum juga tidur lagi seperti tadi.


"Lila, Aku tahu kamu belum tidur."


"Ngga bisa tidur, kalau udah kebangun begini."


"Bukan karena Bapak?"


"Salah satunya. Kenapa Mas izinin dia nginap?"


"Ya, bagaima juga, dia Bapakmu. Mertuaku yang harus di hormati. Bersikaplah biasa, yang seperti ini."


"Au ah, capek. Mas ngga ngeraasin, gimana sakit nya Lila kalau lihat dia. Apalagi, bangun pagi dengan adanya dia disini. Kesel bawaannya."

__ADS_1


Iam hanya tersenyum renyah. Begitu menggemaskan jika Lila dalam keadaan ngambek seperti ini. Cemberutnya, ******* nafas kesalnya. Rasanya, Iam ingin segera menyergap dengan pelukan erat dan tak ingin melepasnya sedikitpun.


__ADS_2