
Tiba di lantai apartemen, Iam seolah tak sabar lagi menunggu untuk masuk. Ia merangkul Lila dan sesekali meraba tengkuknya, membuat sang istri merinding dengan segala aktifitas yang Ia lakukan.
"Mass, nanti di lihat orang."
"Mana?" lirik Iam ke sekelilingnya.
Lila memencet kode pintu, dan Iam terus mengecupinya dari belakang. Lila yang sudah terbiasa, hanya sedikit terpejam ketika sedikit geli dengannya.
"Masuk dulu." Lila meraih pipi Iam dengan lembut. Kemudian menarik tangan Iam memasuki istana mereka.
"Lilaaaaa..." Iam memanggilnya begitu manja, menahan agar Lila tak semakin jauh.
Setelah Lila meletakkan tasnya, Ia membuka ikat rambut dan menghampiri Iam ditempatnya. Apalagi, melihat sang suami yang begitu menginginkan dirinya saat ini. Lengannya di kalungkan di leher Iam, lalu Ia meloncat dalam gendongannya.
"Kau mau aku?" dahi Lila ditempelkan pada dahi Iam, dengan kedipan mata penuh goda.
__ADS_1
Iam memainkan jarinya dipipi, lalu ke bibir Lila hingga Ia manggigitnya lembut. Ia lepas, lalu makin turun ke lehernya yang jenjang. Bibir mereka mulai beradu disana, bertukar saliva dengan penuh hasrat yang begitu kuat. Nafas Lila mewakili semuanya, membuat Iam begitu senang dan semakin menginginkannya.
Menggelangnya kaki Lila di pinggang Iam menjadi semakin lemah. Ia nyaris jatuh, tapi Iam meraihnya kembali. Tapi hanya satu kaki, satunya bertahan dengan sisa tenaga yang Ia miliki.
Tanpa melepaskan lumaatannya, Iam membawa Lila kekamar mereka. Lila kini duduk diatasnya, dengan tangan yang aktif membuka kaos oblong yang tengah Ia pakai saat ini.
"Katakan kau mencintaiku, Khalila." pinta Iam.
Lila serasa sudag taj mampu lagi berucap apapun. Apalagi ketika Iam mulai menyesap semua bagian sensitifnya. Ia hanya bisa mendongakkan kepala, menggigit bibirnya menikmati semua sensasi yang ada.
"Kenapa kau tak mengucapkan apa yang ku minta?" tanya Iam, setelah mereka terkulai santai di ranjang dengan balutan selimut tebal menutupi dada..
"Kenapa ngga Mas yang bilang? Kenapa harus Lila?"
"Kau, belum merasakan cinta itu dariku? Aku bahkan rela memberikan apapun untukmu.".
__ADS_1
"Gombal..."ledek Lila, dengan tangan mengusap wajah Iam yang bersih itu.
" Aku tak suka kegombalan. Apa yang ku katakan, itu akan ku lakukan. Andai pun kau tak melarang, kau sudah menajadi pemilik saham hotel itu sekarang."
Lila tertawa renyah. Ia menggeliat dan semakin masuk ke dalam dekapan Iam yang hangat. Meski, tubuh itu masih basah dengan keringat. Tapi tampak semakin eksotis baginya.
" Maaf, Lila belum bisa menjadi istri yang baik. "
" Kau lah istri terbaikku. Cukup turuti apa yang ku inginkan, itu sudah cukup. Aku tak pernah meminta banyak padamu." kecup Iam dikening sang istri.
Mereka pun terlelap bersama, saling mendekap seolah tak pernah ingin lepas. Hingga pagi menjelang, Lila bangun terlebih dulu, mandi dan menyiapkan sarapan untuk keduanya.
Suara bel berbunyi. Lila menoleh, dan Iam belum bangun untuk membantunya membukakan pintu. Ia yang hanya memakai baju tidur tipis, akhirnya meraih kemeja panjang Iam untuk menutupi tubuhnya.
"Pagi-pagi gini, siapa yang dateng?" fikir Lila.
__ADS_1
Ia pun membuka pintu. Dan melihat dua orang berdiri tersenyum padanya.