
"Selamat pagi, Pak Bos," sapa Siska padanya. Tak lupa memberi pujian seperti biasa, dengan segala semangat nya pagi ini.
"Pagi juga. Ada kabar apa hari ini?"
"Ehm, menurut pencarian yang Bapak perintahkan semalam," ucapan Siska terputus dengan segala rasa ragunya untuk menceritakan penemuannya dan suami.
"Apa?" Iam menolehkan wajah pada sekrestarisnya. "Kau dan Rey, sudah mendapat infonya, bukan? Katakan yang seharusnya di katakan."
"Uang yang Bapak beri, di bawa kabur istri dan anak tirinya. Habis, nyaris tak tersisa."
"Lalu, bagaimana keadaan nya sekarang?" pertanyaan itu, keluar dengan suara yang berat dari tenggorokan Iam.
"Kabarnya Beliau frustasi, Pak. Dan, tak ada yang mengurusnya."
"Jadi, kemungkinan yang di lihat Lila itu benar? Bapak mulai berkeliaran?"
__ADS_1
"Mungkin, Pak. Karena semalam, tak ada orang di rumah itu." Siska mulai memberikan dokumen nya. Dan Iam mulai dengan segala pekerjaan yang memang harus Ia lakukan. Mengesampingkan segala rasa penasaran khawatir, mengenai pria yang bergelar mertuanya itu.
"Jangan suruh Hendrik lemah. Tetap awasi, dan beri info sekecil apapun itu."
"Siap, Pak," Siska agaknya akan semakin sibuk belakangan ini. Dua pekerjaan Ia lakukan, dan kini tak sendiri, tapi beserta suaminya yang memang diutus Iam untuk mengawasi orang-orang yang ingin Ia awasi.
***
Pintu diketuk, ketika Lila tengah menikmati santainya. Ia langsung beranjak dari sofa, dan melihat siapa yang datang.
"Mba Dinar mau kemana? Rapi bener?" Lila memicingkan mata memandangnya yang tampak aneh, tapi tetap memuji cantik.
"Ehm, Mas... Eh, Pak Iam belum kasih tahu? Katanya, Mba mulai jadi perawat pribadi Lila hari ini." jawab Dinar, tampak begitu bersemangat kali ini.
"Hah, kapan bilangnya? Kok ngga kasih tahu?" Lila melotot karena benar-benar kaget dengan peryataan Dinar Barusan..
__ADS_1
"Tadi ketemu, pas keluar sama-sama kebawah," Dinar langsung masuk, dan mulai melakukan tugasnya. Di dapuk sebagai perawat, tapi pasiennya tampak sangay baik-baik saja. Sehingga Ia pergi mengerjakan, apa yang tampak harus di bereskan.
"Mba, katanya kan perawat pribadi, bukan pembantu. Itu biar Lila kerjain." tegur Lila, ketika Dinar melakukan pekerjaan rumah yang biasa Ia lakukan.
"Pasiennya aja sehat, jadi kerjain yang lain aja. Untuk awal, Mba kontrol makanan dulu, ya? Mulai sekarang, harus dikurangi konsumsi es nya. Banyakin minum air anget, sama makan sayuran. Nanti, Mba masakin deh.".
"Hah, iya," angguk Lila, yang mulai pasrah dengan semua yang Dinar lakukan. Ia ingin menelpon Iam untuk menanyakan keputusannya, tapi pasti Iam tengah sibuk saat ini.
Lila memperhatikan pekerjaan Dinar yang bersih dan rapi. Masakannya pun tercium benar-benar nikmat, membuat selera makan Lila kembali terpancing.
"Abis ini, Mba pamit sebentar. Mau pamitan ke club. Soalnya, setelah Pak Iam bilang suruh kerja disini, jadi seneng banget. Seperti, sedikit lepas dari jerat dosa, meski dikit. Dikiiit banget." Dinar mempertemukan kedua ujung jarinya.
"Ya, Lila juga mau keluar deh. Mau bawain makan siang buat Mas Iam. Ngga kerasa, udah mau tengah hari." ucap Lila, yang memainkan Hpnya untuk memberi kabar pada Siska.
"Ya, Mba bungkusin dulu makanannya." Dinar kembali sigap, mengemas makanan yang akan dibawa Lila untuk Iam. Sembari menunggu Lila usai dengan ganti bajunya.
__ADS_1