
"Mas, kenapa?" tegur Lila, yang melihat Iam kurang fokus padanya.
"Oh, engga. Hanya mikir, kita mau kemana." Iam menutupi kecemasannya kali ini. Karena memang benar, pemotor tadi mengikuti Iam hingga saat ini.
"Lila Shoping, ya?"
"Hah, shoping apa? Baju bayi? Belum boleh, Mas."
"Baju buat Lila." balas Iam, "Beli daster, dan baju yang longgar. Lila ngga boleh pakai baju yang ketat lagi jeans, ngga boleh."
"Kalau lingerie?" goda Lila, membuat mata Iam langsung melotot padanya.
"Itu, sangat diperbolehkan. Tapi, hanya untukku." kedipnya genit.
"Ish, maunya." Lia mengusap wajah Iam dengan tangannya, sembari menjulurkan lidahnya.
Tiba di sebuah mall. Mereka turun dan langsung bergandengan masuk. Iam langsung mengantarnya, langsung ke pusat belanja pakaian wanita.
"Lila pilih sendiri, ya? Ngga enak, kalau aku masuk sampai ke dalam. Ini, credit cardnya. Tahu kan, cara pakainya?"
"Tapi jangan jauh-jauh," Lila meminta dengan sungguh.
__ADS_1
"Iya, ngga kemana-mana." usap Iam di rambutnya.
Lila pun masuk, dan berbelanja apa yang Ia sukai, sesuai yang Iam pinta padanya. Menjelajahi setiap sudut toko, dan bertanya jika ada yang Ia perlukan. Sementara itu, Iam diluar. Berdiri sembari menyilangkan tangannya, mengawasi Lila dari kejauhan. Dari kaca yang tampak ketika dilihat dari luar.
"Ya, benar dugaanku. Dia mengikuti Lila sampai kesini." gumamnya, menatap sosok itu yang berada jauh dari Lila, tapi tatapannya fokus padanya.
"Tuan, Anda kemari?" sapa seorang Manager di mall itu, padanya.
"Ya, Ben. Kau lihat itu?" tunjuk Iam pada Lila, "Itu istriku. Awasi terus, dia. Karena itu... Entah kenapa selalu mengikuti daritadi."
"Bukankah, jika saya yang mengawasi, Nyonya akan merasa risih? Atau malah, merasa di curigai sebagai pencuri?"
"Haish, aku tak memikirkan hingga kesana, Ben. Baiklah, aku sendiri yang akan turun tangan. Kau tetap disini," Iam masuk perlahan, kedalam toko itu.
"Aakkh! Sakiiit!" pekiknya, masih terdengar di telinga Iam.
Bruughhh! Iam menghempaskan tubuh Pria itu di dinding ruangan yang sepi.
"Siapa yang memerintahmu?"
"A-apa maksudnya? Aku, aku tak mengerti maksudmu." jawaban yang membuat Iam semakin gusar, hingga menahan leher pria itu dengan sikunya.
__ADS_1
"Aaakhhh! Lepaskan aku! Aku tak ada masalah dengan mu."
"Yang kau ikuti dari tadi itu, adalah istriku, Brengsek!!"
Pria itu terbelalak, menatap kemarahan Iam padanya. "A-aku, hanya dibayar."
"Siapa yang membayarmu! Katakan, atau ku patahkan kakimu."
Pria itu menelan salivanya dengan kasar. Kakinya gemetar, wajahnya pun tampak begitu pucat. Tapi Iam, seolah tak akan melepasnya sedikitpun.
"Kau sadar, Tuan? Disini ada CCTV. Dan kau, akan di tangkap karena telah menganiaya orang asing di tempat umum." bibir nya tersenyum, seolah akan menang.
"Dan apa kau tahu, jika Mall ini adalah milik sahabatku? Kau tak tahu, kekuatan orang dalam itu, bahkan sangat mematikan. Ku bunuh kau, dan tak akan pernah ditemukan. Bagaimana?"
"Kau, Psikopat." lirihnya, semakin di landa ketakutan.
Hp Iam berbunyi, Ia segera mengangkat panggilan dari istrinya itu. Wajahnya seketika berubah, dan ucapannya menjadi begitu lembut. Pria itu sampai memicingkan mata, melihat Iam yang seolah memiliki Dua kepribadian dalam dirinya..
"Iya, aku ke kamar kecil, Sayang. Tunggu saja disana, jangan kemana-mana." ucap Iam, pada sang istri tercinta.
Dalam keadaan lengah, pria itu berusaha memanfaatkan keadaan. Ia berusaha menepis tangan Iam dan kabur. Sayangnya, kakinya langsung di menyandung kaki Iam yang sengaja di luruskan.
__ADS_1
" Kau, mau main-main denganku?"
Pria itu semakin takut, dan berusaha lari meski harus mengesot di lantai.