
"Mas, ayo tidur." ajak Lila, ketika Iam masih sibuk dengan laptopnya.
"Lila duluan aja, nanti nyusul. Kasihan Bayi kita, kalau Lila tidur kemalaman."
"Tapi ngga bisa tidur," rengeknya, dengan memeluk bantal yang ada di sofa.
Iam beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri Lila. Ia mengulurkan kedua tangan, dan Lila menyambutnya dengan riang dan membawa diri dalam gendongan sang suami.
"Hanya ku temani, karena pekerjaanku masih begitu banyak." bisik Iam, yang merebahkan Lila di ranjang mereka.
Pasangan pengantin baru, yang langsung dinkaruniai keturunan. Wajar saja, jika mereka seperti itu. Bahkan mereka belum puas menikmati masa pacaran.
Lila berbaring, berusaha tidur meski sulit. Sedangkan Iam justru tertidur disampingnya dalam posisi duduk di sebelah ranjang. Tangannya tak lepas dari perut Lila, karena baru saja Iam berbisik ke calon bayi mereka. Membisikkan sebuah doa dan kata indah sebagai ucapan bahagia untuk keduanya.
Lil memiringkan tubuhnya, lalu mengusap rambut Iam yang sedikit panjang tapi rapi.
"Ya, Dia lah suamiku. Pria yang tak pernah ku sangka, akan menjadi orang yang begitu menyayangiku. Bahkan, melindungiku hingge mengorbankan banyak hal." kecup Lila di keningnya.
Ia pun memejamkan matanya, terlelap dengan begitu nyenyak dan bermimpi dengan indah.
__ADS_1
***
" Maaf, ya_ngga bisa temenin. "
" Iya, ngga papa. Ada Ibu, pasti aman. Toh, Bapak ngga berani mendekat." jawab Lila, sembari memasangkan dasi untuk suaminya.
Mereka telah siap saat ini. Bu Marni pun telah rapi dan menyiapkan sarapan mereka, menunggu untuk makan bersama.
" Lila makan yang banyak mulai sekarang, biar makin berisi. Kan, jatah makan buat dua orang sekarang."
Iam menyuapi istrinya dengan masakan, yang memang menjadi favoritnya. Ia meminta sang mertua untuk memasak semua itu, khusus untuk Lila.
"Ibu, tinggal disini aja gimana?"
"Nanti, Iam carikan karyawan yang dapat di percaya."
"Mahal, bayar karyawan, Iam."
"Demi cucu, Bu." bujuk Iam dengan senyum menawannya.
__ADS_1
Mereka berpencar usai sarapan. Lila menaiki taksi yang memang telah di pesan oleh Iam untuknya. Langsung menuju Rumah sakit terdekat.
Mereka ikut antrian setelah mendaftar. Menunggu lumayan lama karena memang banyak pasien yang harus di tangani. Hingga tiba giliran Lila, Ia masuk menggandeng sang Ibu untuk bertemu dengan dokternya.
"Ya, Ibu? Ini pemeriksaan pertama, ya?"
"Iya, Dok. Saya baru tahu, kalau saya sedang hamil." Lila sedikit malu-malu menjawabnya.
"Oh, begitu rupanya. Wajar, namanya pengantin baru. Masih anget, makanya kadang suka lupa."
Bu Marni terkekeh, mendengar ucapan sang dokter. Sedangkan Lila terdunduk dengan wajah memerah.
Dokter mulai memberi pertanyaan, diantaranya mengenai Hari pertama Haid terakhirnya. Yang rupanya memang sudah sangat lama dari sebeluk pernikahan. Lila sedikit tercengang.
"Ini hanya perhitungan. Kalau asli usianya, kita bisa lihat di USG nanti."
Lila sedikit bernafas lega. Semua rasa khawatir membuatnya menjadi bodoh seketika, dan bahkan tak ingat dengan semua yang Ia pelajari untuk perhitungan kehamilan.
Dokter pun meminta Lila beranjak ke tempat USG. Dan perawat mulai membantunya untuk segera tindakan. Dokter meletakkan alatnya di perut itu. Tampaklah, sesosok janin yang masih begitu mungil disana.
__ADS_1
"Nah, itu bayinya. Usianya Enam minggu rupanya, kalau dilihat dari fisik. Detak jantungnya pun sudah kelihatan. Nanti kita dengarkan."
Air mata Lila, tak terasa menetes. Untung hanya sedikit sebagai rasa harunya. Andai Iam yang menemani, pasti Ia sangat bahagia dengan apa yang Ia lihat sekarang.