
Lila duduk dengan santai. Menikmati camilannya, dan kue kiriman tadi pagi. Lila bersyukur, karena Ia adalah seorang yang susah gemuk. Terjebak dalam tubuh yang kurus dan ideal meski makan banyak. Padahal, Iam ingin Ia agar sedikit menambah berat badannya.
"Biar gemoy, sayang." bujuknya semanis madu.
Ia membaca pesan Aul, yang mangatakan tak bisa mampir sore ini. Hanya menghela nafas panjang, karena Ia faham kesibukan adik iparnya itu. Sendiri lagi, tanpa teman. Hingga akhirnya bel berbunyi.
"Siapa?"
Lila pun berjalan menghampiri pintu apartemennya. Ialah Dinar. Lagi-lagi datang dengan senyum manisnya.
Wanita yang acapkali mengenakan pakaian minim itu, kembali bertamu ke kediamannya yang nyaman. Tak enak menolak, apalagi memang Ia tengah kesepian.
"Hay Lila... Sendirian?" sapanya dengan begitu ramah.
"Iya, kenapa, Mba?"
"Bosen... Gabung, ya? Lumayan buat temen ngobrol."
Sempat ragu, tapi akhirnya Lila mempersilahkan Ia masuk. Mengajaknya duduk berdua, dan menonton drakor bersama.
"Mba, makasih ya, kuenya. Suamiku suka, enak katanya." ucap Lila, dengan secangkir teh hangat di tangannya.
"Ini tehnya." Lila menurunkannya tepat di depan Dinas.
__ADS_1
Tatapan mata Dinar menelusuri seluruh ruangan. Seolah mencari sesuatu, yang harusnya tampak di depan mata. Yaitu, foto pernikahan.
"Kamu, udah nikah berapa lama?"
"Hm? Baru Satu bulanan. Kenapa?"
"Wow, pengantin baru berarti, ya? Masih anget-angetnya."
"Mba sendiri?"
"Aku, masuk Dua tahun. Tapi, belum punya anak. Ngga tahu, salahnya dimana. Mas Iwan selalu nolak diajak periksa."
"Hmmm, sabar ya, Mba. Pasti nanti ada rezekinya." Doa Lila, dengan menyeruput teh hangat di tangannya.
Obrolan semakin seru, menjurus ke masalah wanita. Untung saja, Lila masih bisa menahan untuk menceritakan masalah pribadinya. Ya, karena memang belum ada masalah berarti untuknya dan Iam. Kecuali, masalah dengan keluarganya.
***
"Siska, apalagi jadwal setelah ini?"
"Hanya pertemuan, Pak. Saya akan menemani nanti. Di hotel Horizon, seperti biasa."
Iam mengangguk, sembari meregangkan ototnya. Rasanya begitu lelah, dengan segala pekerjaan yang ada. Padahal, Dona dan Papanya ada disana untuk membantu semuanya.
__ADS_1
"Kenapa? Sudah rindu dengan istri kamu itu?" Papa Wira mendadak masuk ke ruangan putranya.
"Kenapa? Wajar 'kan? Dia dirumah sendirian, wajar jika bosan. Pembantu pun tak ada untuk sekedar teman." jawab Iam sedikit ketus.
"Yakin, dia menuruti mu untuk diam dirumah? Jangan terlalu percaya, bahkan kau belum mengenalnya."
"Lantas, apalagi? Papa pun hanya mengenal Dona melalui Iam. Dari curhatan, dari segala pujian yang Iam ceritakan. Apa bedanya?"
"Iam, Papa lelah bertengkar. Kenapa tak bisa ramah seperti dulu?"
Sebuah pertanyaan yang begitu mengagetkan. Bukan hanya bagi Iam, tapi Siska pun ikut tercengang karenanya.
"Papa Bos, kumat apa, yak?" sejuta pertanyaan muncul di batin Siska.
"Ada apa?" tanya Iam dengan wajah datarnya.
"Hanya ingin, menikmati masa tua dengan penuh damai. Tanpa adanya, pergulatan batin diantara kita."
Iam hanya tersenyum sengit. Masih begitu meragukan ucapan sang Papa padanya.
"Jika Mama mu tahu, kita seperti ini. Dia pasti akan sedih."
"Kesedihannya dari awal adalah, ketika Papa sendiri melanggar janji Papa pada Mama. Itu saja."
__ADS_1
"Iam, semua sudah terjadi. Toh, tak mungkin jika Papa pergi dari Dona, kamu akan kembali pada dia." tukas sang Papa.
Entah, ucapan itu membuatnya sedikit terenyuh. Meski, masih tetap bertahan dalam pendiriannya. Bukan karena benci, tapi rasa kecewa memang begitu sulit dilupakan.