Dia jodoh ku

Dia jodoh ku
tumbuh subur dan bergairah.


__ADS_3

sari seketika diam, mengatupkan bibirnya berdiri kaku karena menyadari tatapan kedua orang yang ada di depan nya. ya, Renita maupun Raga menatap lurus ke arah nya dengan tatapan yang berbeda makna. sari tersenyum canggung


kepalang basah, sari menarik satu kursi tunggal yang ada di meja sebelah kemudian memposisikan nya untuk duduk di depan meja Renita, di sebelah Raga.


"a_apa ucapan saya salah?"


Sari mencoba memecah keheningan di ketiga nya. menatap Raga dan Renita bergantian.


"tidak, saya memang tadi dari ruangan suami ku untuk memberikan makan siang nya"


Akhirnya dengan santainya Renita menyahut ucapan Sari. wanita berparas cantik nan jelita itu kembali bersikap seperti biasa. dan kembali dengan aktivitas nya, membereskan mejanya yang terlihat cukup berantakan dengan kertas dan buku terhampar di atas meja nya bersiap hendak pulang.


"so sweet.. saya iri dengan Anda bu Renita"


Sari menangkup wajah sendiri dengan kedua telapak tangan nya. dengan menampilkan senyuman gemas nya pada Renita.


dan sekilas Renita menatap ke arah Sari Dengan tersenyum, menggeleng kan pelan kepala nya karena sikap yang di perlihatkan oleh teman sejawat nya itu.


"makanya kalau sudah punya calon, cepat menikah Bu"


Renita mencondongkan tubuhnya ke arah Sari dan sedikit berbisik.


ucapan Renita, mampu membuat semburat merah di wajah Sari.


"duh, saya belum punya calon bu.. boro-boro calon, pacar apalagi tidak punya" balas sari sambil matanya melirik ke arah Raga yang sedari tadi hanya diam dan menatap Renita dengan tatapan penuh arti seperti tidak peduli dengan keberadaan Sari.


"ah, masa sih, ibu yang secantik ini belum ada calon"


Renita terus menimpali ucapan Sari tanpa beban seolah hanya mereka berdua yang ada di situ.


"beneran Bu, saya belum punya pacar padahal saya udah siap banget lho, untuk berumah tangga"


Sari tersenyum malu dan lagi-lagi mata nya melirik ke arah Raga.


Renita terkekeh karena ucapan Sari yang menurut nya sangat lucu.


"sayang"


suara Anggara menyapa pendengaran mereka bertiga, dan tentu saja Renita tahu suara siapa itu. lelaki bule berparas tampan itu berjalan masuk, kedalam ruangan tersebut. dan mendekati Renita yang seperti nya sudah siap untuk pulang.


Renita tersenyum manis pada sang Arjuna bule itu.


masuk nya Anggara ke dalam ruangan tersebut tentu saja mengundang perhatian para dosen lain nya yang kebetulan masih berada di ruangan tersebut. tatapan memuja nampak di layangkan oleh ketiga dosen wanita yang ada di ruangan tersebut. termasuk sari dosen berusia dua puluh delapan tahun itu terpana akan tampilan seorang Anggara yang notabene nya adalah kepala yayasan Handersson yang kini tidak lagi single. dan itu sempat membuat semua dosen wanita muda di kampus pupus harapan untuk berangan mendapatkan seorang Anggara.


apalagi yang menjadi istri nya adalah wanita berwajah cantik nan jelita dengan kulit kuning Langsat.


Anggara melirik ke arah Raga yang duduk di depan meja istri nya.


rahang pria itu mengetat menatap tajam ke arah Raga.


"hubby, kita pulang?"


Renita menyentuh tangan suaminya yang nampak terbaca seperti kesal melihat keberadaan Raga dengan cepat Renita menarik tangan kekar milik suami nya dan menarik tubuh sang suami keluar dari ruangan tersebut tanpa peduli tatapan orang yang ada di ruangan itu.


Anggara mengerjapkan matanya berkali-kali, mendapatkan sapaan istri nya yang memanggil dirinya dengan sebutan hubby di depan orang lain dan tentu saja itu, membuat hati Anggara terasa hangat. seketika kekesalan nya luruh begitu saja dan mengikuti langkah istri nya yang menarik dirinya keluar dari ruangan tersebut.


berjalan menuju parkiran. Anggara mengambil alih genggaman tangan istrinya. kini tangan besar nya menenggelamkan jemari lentik istri nya ke dalam genggaman tangan besar nya. Renita tersenyum melihat itu dia pun berjalan beriringan dengan suami nya tanpa merasakan rasa canggung yang awalnya dia rasakan di kala suami nya menggenggam tangan nya sambil berjalan di tempat umum.


kini Renita menikmati nya dan ada rasa bahagia yang menyelimuti hati nya saat ini, mendapatkan perlakuan manis dari suaminya.


hanya saling menggenggam saja ya kan? tidak masalah. toh, mereka berdua adalah pasangan suami istri. bukan pasangan yang belum halal yang lagi kasmaran di tempat umum.


mobil Pajero sport milik Anggara keluar dari kampus membelah ramai nya jalan protokol.


"kita cari tempat makan dulu sayang" ucap Anggara yang tetap fokus dengan stir kemudi nya.


"aku udah makan bang"


Anggara menoleh sekilas ke arah istrinya.


"udah makan sore? kapan? sama siapa"


Anggara mencecar Renita. nampak dengan raut wajah yang terlihat gusar.


"barusan di dalam ruangan kantor, makan sendiri lah yang tadi aku pesan bareng buat kamu"

__ADS_1


seketika mobil yang Anggara bawa berhenti mendadak dengan menepikan mobilnya ke pinggir jalan


dan tentu saja membuat tubuh Renita hampir terhempas ke dasbor mobil walaupun tubuh nya sudah terbelit oleh seatbelt dan dengan cepat itu pula satu tangan Anggara melintang di depan dada istri nya yang hampir menyentuh dasbor mobil.


"bang!"


Renita menatap horor suami nya.


"maaf sayang, kamu baik-baik saja?"


Anggara buru-buru melepas seatbelt pada dirinya dan meraih bahu istri nya dengan tatapan penuh khawatir.


Renita melotot ke arah Anggara


"kamu kenapa sih, tiba-tiba saja berhenti tanpa ngomong lagi"


sungut Renita.


"maaf sayang.. aku hanya kaget saja kamu baru makan tadi padahal itu sudah sore dan tadi siang kamu belum makan?"


"iya"


lagi-lagi jawaban Renita membuat Anggara gusar. bagaimana tidak gusar, istri nya baru makan tadi berarti istri nya telat makan dan tentu saja itu membuat Anggara khawatir karena dia tahu istrinya itu mempunyai penyakit lambung.


"sayang.. apa yang membuat kamu telat makan, kan kamu punya penyakit lambung"


Anggaran menatap khawatir istri nya dengan satu tangan nya manangkup pipi kanan sang istri.


"itu kan gara-gara kamu bang"


sahut Renita bibir nya mencibir. benar kan? dia telat makan karena pembajakan siang bolong yang di lancarkan oleh suami nya.


Anggara yang mendapat kan jawaban seperti itu dari istri nya menggaruk kening nya yang mendadak gatal tak lupa dengan senyuman mengulum nya.


"kok kamu nyalahin abang sih sayang, aku saja langsung makan setelah mendapat kan kiriman makanan dari kamu"


"beda dengan kamu bang, aku kan langsung ada kelas dan itu sudah terlambat jika aku, harus menyantap makan siang aku saat itu, jadi terpaksa aku harus mengisi kelas dulu"


dengan raut wajah yang terlihat di tekuk Renita protes pada suami nya yang kelihatan nya seperti tidak berdosa.


lalu mendarat kan bibir tipis nya di kening istrinya dengan penuh perasaan.


"ya sudah, kalau begitu kita cari restoran, kita makan"


"tapi aku masih kenyang"


"makan lagi, karena yang kamu makan tadi tidak banyak dan lagi pula kamu harus makan banyak untuk persediaan tenaga buat nanti malam sayang"


seperti tak punya beban Anggara tersenyum lebar menatap mesum istri nya dan itu membuat Renita meremang sekaligus bergidik


"eh, nggak ada ya, tadi siang udah dua kali ngebajak"


tolak Renita langsung mengerti maksud apa yang di bicarakan suami mesum nya itu.


Anggara manyun manatap tak suka karena penolakan istri nya.


lalu mencondongkan tubuhnya ke arah sang istri nya bicara begitu dekat dengan wajah istrinya sehingga membuat nafas berbau mint itu menyergap penciuman Renita. dan bicara setengah berbisik.


"tidak ada penolakan sayang.. berdosa kamu menolak suami mu"


Renita membulat kan matanya menatap wajah tampan suami nya.


rasanya lidah nya kelu untuk menjawab ucapan Anggara yang mampu mematahkan semua ucapan nya yang hanya sampai tenggorokan nya saja. alhasil Renita hanya bisa mencebik dan mendorong tubuh tegap suami wajah nya merona.


"dasar mesum!"


akhirnya hanya kata gerutunya untuk suami muda nya yang seperti nya tidak pernah puas untuk urusan ranjang.


Anggara terkekeh mendengar gerutuan istri nya. dia kembali memposisikan diri nya duduk tegap di balik kemudi dan menjalankan mobilnya kembali dan melirik ke arah istrinya nya yang sedang melempar kan pandangan nya ke arah keluar jendela mobil.


"siapa suruh rasa mu bikin nagih sayang dan itu tidak bisa Abang lewatkan sayang" gumam Anggara


melirik sekilas istri nya dan mengulum senyum nya.


dan Renita hanya bengong mendengar ucapan fulgar suami nya. sekaligus semburat merah terlihat di wajah nya.

__ADS_1


Renita sangat malu dengan ungkapan mesum suami nya.


walaupun dia mengetahui setelah menjadi istri dari pria tampan bernetra biru betapa mesumnya dan seperti nya Renita harus membiasakan diri untuk kedepannya, mendengar ucapan fulgar suami nya.


setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit mobil yang membawa Anggara dan Renita masuk ke area parkir sebuah restoran yang menyediakan makanan hidangan laut. dan tentu saja membuat mata Renita berbinar


karena dia sangat menyukai makanan seafood. Anggara tersenyum melihat istrinya berbinar bahagia dia tahu kalau istri nya penggemar makanan seafood.


"kita turun?"


Renita mengangguk antusias lalu membuka pintu mobil dan turun. begitu juga dengan Anggara lalu menggamit pinggang ramping Renita berjalan masuk ke dalam resto tersebut. dan mencari meja untuk mereka berdua di pandu oleh pramusaji. tiga meja di belakang Renita dan Anggara yang di sibukkan dengan pilihan menu, ada sepasang mata cantik tertutup kaca mata hitam memperhatikan mereka berdua. tampak anggun dan elegan dengan satu buah tas branded berada di atas meja menentukan status sosial sosok anggun itu yang terus memperhatikan setiap gerak gerik kedua pasangan sejoli yang sedang sibuk memesan makanan nya.


*


*


"baru pulang by?"


"iya"


Aisyah menautkan kedua alisnya melihat wajah suamiku seperti kacau? wanita berjilbab itu mengikuti langkah suami nya masuk ke dalam kamar.


sesaat Aisyah menoleh ke arah belakang di mana Yusuf duduk di ruang tengah dengan wajah yang menurut nya sama kacau nya dengan suami nya. dan itu menambah satu buah tanda tanya di pikiran Aisyah. tapi setelah itu dia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mengikuti suaminya yang sudah terlebih dahulu masuk dan seperti nya lelaki paruh baya itu, langsung memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya dan ingin mendinginkan pikiran nya dengan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


melihat suaminya langsung masuk ke dalam kamar mandi akhirnya Aisyah memilih membuat kan teh hijau hangat untuk suami nya.


di dalam kamar mandi Rahman berdiri di bawah pancuran air yang dingin mengguyur tubuh yang masih liat itu. bayangan wajah Salma istri nya terus terlintas di pikiran nya. ya, Rahman merasa Salma itu masih istri nya karena dia tidak pernah menceraikan wanita cantik itu. tapi tiba-tiba saja wanita itu muncul begitu saja di hadapan nya dengan tubuh segar bugar dan.. cantik luar biasa.


"ah, sial kamu Salma! tega sekali kamu, sialan!"


bug!


Rahman memukul dinding dingin kamar mandi. seperti nya air dingin yang mengguyur tubuhnya tidak mampu mendinginkan otak nya yang panas. ada rasa cemburu melihat istrinya yang tidak pernah dia ceraikan karena yang dia tahu wanita itu sudah meninggal delapan tahun yang lalu dan kini tiba-tiba saja muncul menjadi istri seorang milyuner dari Swiss.


Aarrrggg!!


Rahman menggeram frustasi di bawah guyuran air dingin.


"by?!"


"Aby! kamu kenapa? apa kamu baik-baik saja?"


tok


tok


Aisyah mengetuk pintu kamar mandi dengan wajah khawatir karena mendengar suami berteriak dengan Geraman. dan tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi membuat Aisyah tambah khawatir.


Aisyah kembali mengetuk pintu kamar mandi memanggil suaminya.


dan tak lama kemudian pintu kamar mandi pun terbuka. Rahman keluar dari balik pintu kamar mandi dengan memakai kimono handuk membalut tubuh basah nya. Aisyah yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.hanya bisa menatap penuh tanda tanya besar di hati nya.


"kamu kenapa by?"


Aisyah menggeser posisi berdiri nya memberi kan jalan untuk suami nya dan Rahman hanya tersenyum tipis merespon ucapan istrinya dan berjalan melewati istri nya begitu saja. ke arah tempat tidur lalu duduk di tepian ranjang dan menatap lekat wajah cantik Aisyah.


"kemari lah istri ku"


Rahman melambaikan tangan nya memanggil Aisyah. dan wanita berjilbab itu mematuhi perintah suami nya, berjalan mendekati lelaki paruh baya yang terlihat masih tampan dan gagah. dan ketika Aisyah sudah berada di hadapan Rahman, tangan kokoh nya langsung menarik pinggang istri nya dan memangku tubuh istrinya ke atas pangkuan nya.


"by!"


mata Aisyah melebar karena terkejut dengan sikap spontan suaminya.


tapi sesaat kemudian Aisyah berusaha tenang di atas pangkuan suami nya. pandangan mereka bertemu saling mengunci.


Aisyah bisa melihat sorot mata suaminya yang terlihat terluka?


lalu tanpa aba-aba lagi Rahman melesakan wajah nya ke arah ceruk leher istri nya sebelum tangan nya sudah melepaskan jilbab Aisyah.


di peluk nya erat tubuh istrinya seolah tak ingin terlepas.


Aisyah hanya bisa membelai rambut Rahman yang terlihat sudah agak memutih menyibak lembut rambut yang masih tebal itu. usia mereka memang tak lagi muda, tapi rasa cinta yang menciptakan kenyamanan terus di cari dan di pupuk agar terus tumbuh subur dan bergairah.


*

__ADS_1


TBC...


__ADS_2