
sangat panik, Anggara terus melangkah lebar, dengan tubuh Renita berada di dalam gendongan nya dalam keadaan tidak sadar.
Di parkiran, Johan. Lelaki berwajah oriental itu ,telah menunggu siap. berdiri tegap di samping mobil mewah bewarna hitam dengan keadaan pintu belakang sudah terbuka, mesin kondisi menyala siap di jalan kan.
"kita kerumah sakit Jo"
Anggara dengan perlahan masuk ke dalam mobil bersamaan dengan tubuh istri nya yang berada di dekapan nya.
di susul Johan juga bergerak cepat duduk di kursi kemudi dengan cepat menjalankan kendaraan, keluar dari area kampus.
begitu pun Raga yang seolah dirinya terus di tuntut bergerak karena rasa khawatir nya pada Renita. lelaki itu juga dengan cepat masuk ke dalam mobil milik nya yang juga ada di parkiran untuk mengikuti kemana laju nya kendaraan yang membawa Renita.
Astaga rasanya hati dan pikiran Raga tidak sinkron. Pikiran nya menolak kenapa dia harus mengikuti wanita itu yang jelas sudah ada suami nya. Tapi hati nya? Menginginkan lain. terus menuntun langkah nya untuk mengetahui keadaan wanita yang masih masih menarik perhatian nya.
"Jo, bisa cepat nggak sih kamu bawa mobil!" karena rasa khawatir nya yang amat sangat Anggara bicara dengan nada tinggi pada sang asisten, yang terlihat tenang, atau memang berusaha tetap tenang? supaya dia bisa fokus dengan kendaraan yang dia bawa. Tentu saja Johan harus tetap waras.
Karena melihat bos muda nya kelihatan panik.
Tentu saja Jo!
"ini saya usahakan bos, bisa anda lihat sendiri jalan di ibukota ini, tidak ada yang sepi" balas Johan tetap tenang dan fokus mata nya melihat jalan di depan, sesekali melirik ke sisi kanan dan kiri jalan ,karena banyak kendaraan bermotor saling menyalip kalau tidak hati-hati bisa saling serempet.
Anggara berdecak kesal tak puas dengan jawaban Johan tapi mau gimana lagi? Memang seperti ini keadaan kota besar yang sangat padat dengan penduduk nya.
Siapa yang tidak panik melihat istrinya pingsan dengan wajah pucat dan mengeluarkan keringat dingin membasahi sekitaran wajah dan leher jenjang sang istri.
"sayang... bangun sayang, Renita"bergetar suara Anggara saat mengatakan kata itu. satu tangan nya terus mengusap puncak kepala Renita dengan lembut, sekali-sekali menyeka keringat dingin yang merembes dari kulit halus wajah Renita.
Sesampainya di rumah sakit yang tidak jauh dari Kampus, tempuh dalam satu jam padahal kalau jalan keadaan normal, paling lama bisa di tempuh hanya 30 menit saja. akhirnya sampai juga dengan segala perjuangan di jalan tadi karena Johan dengan sedikit gila membawa kendaraan itu yang kadang di sertai makian orang di jalan tadi.
Anggara beranjak keluar dari mobil nya dengan Renita di dalam gendongan nya berjalan memasuki koridor rumah sakit.
__ADS_1
"suster, tolong istri saya sus!!"
karena panik Anggara berteriak memanggil dua orang suster yang kebetulan baru saja keluar dari ruang IGD apalagi dilihat nya wajah istri nya yang pucat.
sedikit terkejut karena di panggil dengan teriakan dua suster itu menoleh dan bagus nya refleks mereka berdua bagus, jadi tak perlu kaget dan diam, kedua suster itu langsung menghampiri Anggara yang kebetulan juga mereka membawa kursi Roda. Mungkin bekas pasien yang baru saja mereka bawa ke ruang IGD.
"kenapa istrinya pak?"
tanya satu suster itu pada Anggara
"nyonya kami pingsan sus"
Bukan Anggara yang menjawab, melainkan Johan dengan wajah datarnya. sontak pandangan suster itu beralih ke Johan.
"baik kalau begitu bawa pasien ke ruang IGD"
karena terdengar sedikit ribut hingga dua orang tenaga medis laki-laki dari IGD keluar, melihat dan itu kebetulan memudahkan dan langsung menyambut tubuh Renita dalam gendongan Anggara untuk di dudukan di kursi Roda. Tapi Anggara menolak nya.
"tidak perlu! biar saya yang bawa istri saya,, bagaimana bisa istri saya yang dalam keadaan pingsan kalian dudukan di kursi Roda!" teriak Anggra tak terima tentu saja dia tak habis pikir pada cara kerja para tenaga medis rumah sakit yang memang tidak terlalu besar karena Anggara memang mencari yang terdekat agar istri nya bisa tangani cepat.
seorang Dokter wanita mendekati
"permisi tuan, biar kami periksa pasien nya"
Anggara terpaksa menyingkir sedikit tak rela dari samping sang istri yang tergolek lemah di atas brankar, membiarkan Dokter wanita itu memeriksa keadaan istri nya yang terlihat pucat diam tak bergeming.
apakah tadi pagi istri nya tidak sarapan? Anggara tidak tahu karena dia bangun pagi sekali ke kantor karena ada tinjauan langsung ke lokasi proyek bersama klien dari Swedia. sengaja tidak membangun kan sang istri karena kelihatan nya sangat lelap sekali tidur nya mungkin kelelahan? Dan itu karena dirinya tentu saja yang meminta jatah dua ronde tadi malam. jadi karena itu dia membiarkan sang istri masih tertidur karena Anggara tahu istrinya ada jam kampus pukul sepuluh.
membayangkan itu semua Anggara mengerang frustasi, mengusap kasar rambut nya merasa teledor atas diri istri nya hingga tatanan rambut nya sedikit berantakan.di tambah ketika datang ke kampus tadi siang maksudnya untuk mengajak makan siang bersama dengan istri nya dan sengaja pula tidak memberitahu dahulu. tapi sesampainya di sana malah melihat pemandangan yang tidak menyenangkan di matanya. Sudah penat dengan pekerjaan nya, tentu saja emosi Anggara menjadi gampang tersulut.
cemburu, itu yang saat itu mendominasi hati nya melihat istrinya bersama lelaki tak tau malu seperti Raga. sudah jelas Renita itu bersuami tapi tetap saja pecundang itu terus mendekati istri nya.
__ADS_1
sial!
Dokter wanita yang tadi sedang memeriksa keadaan Renita dan seperti nya sudah selesai dengan wajah tersenyum menatap Anggara dan bicara.
"tuan suaminya?"
Anggara sedari tadi tatapan tidak terputus dari sang istri yang tergolek di atas brankar, tapi pikiran nya sedang melebar kemana2 terhenyak mendengar suara sopan dari dokter wanita yang bicara kepada nya sontak mengalihkan pandangan nya.
"iya, saya suami nya. Bagaimana keadaan istri saya Dokter? Apa tidak apa-apa atau ada penyakit lain nya yang menyebabkan istri saya seperti ini?" tanya Anggara dengan nada khawatir
Dokter wanita itu tersenyum sambil membenarkan tetoskop yang ada di lehernya.
"istri anda hanya kelelahan dan seperti nya perut nya belum terisi makanan, itu mungkin pemicu istri anda pingsan tapi saya harap ini tidak boleh terjadi lagi, mengingat ada janin di perut istri anda tentu tahu kan istri anda hamil?"
"ah, syukur lah istri saya baik baik saja tidak ada penyakit lain nya hanya telat makan dan itu salah saya sebagai suami teledor menjaga istri saya " rasa bersalah dan lega sekali Anggara mendengar penjelasan Dokter wanita yang berdiri di hadapan nya menjelaskan tapi... tunggu dulu! Anggara seketika membeku menyadari kata terakhir sang Dokter apa?! Istri nya Hamil?!
mata Anggara melebar menatap istri nya sejenak lalu kembali sang Dokter.
"i.. istri saya Hamil Dokter?" tanya Anggara memastikan karena takut pendengaran nya terganggu dan dia salah mendengar apa yang di ucapkan oleh sang Dokter.
"iya, istri anda sedang keadaan Hamil" Dokter wanita itu mendengus halus sambil sedikit menggeleng kan kepala nya rupanya lelaki tampan yang ada di hadapannya ini tidak tahu kalau istri nya sekarang dalam keadaan Hamil.
"seperti nya anda tidak mengetahui istri anda sedang Hamil tuan"
Anggara Kini seolah mengacuhkan keberadaan sang Dokter itu. Perlahan Anggara berjalan pelan menghampiri istri nya yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri belum siuman dari pingsan nya. Anggara merasakan tubuh nya meremang tangan nya gemetar saat terulur ke perut sang istri yang masih rata dan mengusap perlahan dengan lembut. Ada genangan bening di sudut mata lelaki berparas tampan itu. Rasa haru, karena bahagia yang rasanya tidak bisa di ungkapkan lagi dengan kata-kata saja. Tapi rasanya Anggara ingin berteriak sekencangnya. Ah tidak, mungkin Anggara akan melakukan selebrasi seperti pemain bola yang berhasil mencetak gol ke gawang lawan nya.
"sayang, akhirnya apa yang kita nantikan selama enam bulan ini dengan kesabaran kita, akhirnya Allah memberikan kebahagiaan yang tak terkira pada kita sayang "
bisik Anggara bicara di telinga istri nya lalu mengecup dalam dan lama kening sang istri dan itu membuat ada pergerakan halus serta lenguhan halus dari mulut Renita.
"ngheugh"
__ADS_1
*
tbc.