
"ramai sekali toko ini seperti nya mam" gumam Renita pada Salma
dan wanita cantik cantik paruh baya itu tersenyum manis menoleh pada Renita tangan nya menggamit tangan menantu cantik nya. terlihat sekali wajah Salma sangat antusias sekali melangkah anggun, memasuki sebuah toko perhiasan yang nampak nya cukup Ramai.
"tentu sayang, toko perhiasan milik sahabat mama ini adalah toko perhiasan terbaik di negara ini dengan koleksi limited edition yang selalu di kejar oleh para wanita pencinta perhiasan mahal ini. tidak hanya itu Mardiana louren salah satu perancang perhiasan terkenal di Asia"
"oh ya? wow"
Renita berdecak kagum hanya itu expresi nya karena dia memang tidak cukup tau, untuk urusan yang satu ini walaupun dirinya seorang perempuan tapi tidak termasuk golongan wanita yang menggilai perhiasan.
Salma tersenyum tipis merespon Sikap menantu nya yang terlihat biasa saja tentang perhiasan.
"ya sudah kalau gitu kita masuk ya?"
ajak Salma. dan hanya anggukan kecil menjadi jawaban Renita atas ajakan mertua nya..
tapi baru saja dua langkah kaki Renita memasuki toko perhiasan tersebut, Renita merasakan ponsel nya yang ada di tas kecil yang dia bawa di pundak nya bergetar berkali-kali hingga langkah nya terhenti untuk melihat siapa yang sedari tadi menelpon nya hingga ponsel nya tak berhenti bergetar.
"mam sebentar, aku angkat telpon dulu ya"
Salma pun ikut menghentikan langkahnya dan menoleh pada Renita.
"siapa Sayang?"
tanya Salma ikut pemasaran
"entah mam, sebentar aku liat dulu "
Renita mengambil ponsel nya dari tas kecil nya yang tersampir di pundak nya.
"Johan?"
dua alis Renita bertaut setelah melihat siapa yang menelepon nya dengan ragu tapi penasaran Renita menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari Johan.
"ya halo, Johan? ada apa?"
tanya nya pada Johan di panggilan telepon nya. dengan seksama Renita mendengar kan ucapan Johan ada sedikit kebingungan dari expresi wajah Renita, ketika menyimak ucapan Johan di panggilan telepon nya.
"a_apa?! baik lah. aku akan kesana sekarang juga!"
wajah Renita berubah panik dan langsung memutuskan panggilan telepon nya. Salma yang berdiri di samping Renita dengan wajah penasaran tambah kaget dengan dengan expresi wajah menantu nya yang kelihatan panik?
"ada apa sayang?"
Salma mencekal pelan tangan sang menantu.
__ADS_1
"maaf mam, seperti nya aku tidak bisa ikut masuk ke toko perhiasan teman mama"
"why? some thing wrong?"
Salma jadi ikutan panik
"tidak ada waktu untuk menjelaskan sekarang mam , maaf aku pergi dulu mungkin lain waktu kita jalan lagi"
Renita melepaskan cekalan tangan nya dari Salma.
"tapi ada apa?" Salma tetap penasaran
"Anggara mam"
jawaban Renita membuat Salma menjadi was-was.
"oke, kalau begitu. mama akan ikut kamu untuk antar kamu " putus Salma akhirnya. karena melihat wajah panik sang menantu, dirinya pun tak tenang.
"tidak usah mam. aku bisa naik taksi
Mama di sini saja" ucap Renita tak enak hati.
"NO, mama antar. kalau kamu naik taksi akan lama" putus Salma
"baik lah mam kalau begitu terima kasih"
setelah itu Renita berjalan cepat menuju keluar dari mal tersebut yang di ikuti oleh Salma dan pengawal pribadi nya. seorang wanita berwajah dingin.
'maaf nyonya, anda harus jemput suami anda sekarang juga. karena keadaan nya sekarang sangat merasakan.dan hanya Anda istrinya yang bisa meredamnya'
kata-kata Johan yang terdengar ambigu tadi di telpon terus terngiang-ngiang di otak Renita.
membuat dirinya gelisah. apalagi setelah Renita menerima sareloc
dari Johan yang menunjukkan lokasi di salah satu cafe mewah di tengah kota Jakarta. hati Renita di landa cemas bukan main. ada apa dengan suami nya ini.
setelah setengah jam perjalanan plus macet, Renita sampai di sebuah cafe sesuai lokasi yang di kirim Johan. setelah mobil mewah yang membawa dirinya dan mama mertua nya terparkir rapi, Renita segera keluar dari mobil tersebut tanpa menunggu sang mertua turun dari mobil, berlari kecil ke arah samping cafe tersebut di mana sebuah parkiran mobil untuk tamu VVIP.
tiba di tempat parkiran tersebut, langkah Renita yang tadi seperti berlari, Renita menghentikan langkahnya sejenak terpaku karena apa yang dia lihat. matanya sedikit melebar melihat apa yang sedang terjadi. segerombolan orang yang membawa dua orang lelaki berjas dengan wajah sudah babak belur, serta satu wanita berpakaian sangat seksi berteriak tak jelas di pegang kiri kanan nya oleh kedua lelaki berwajah gahar. semua melewati dirinya yang masih terpaku diam
hingga satu kata berhasil keluar melalui tenggorokan nya memanggil lelaki tampan yang penampilan nya cukup kacau. bagaimana tidak kacau, dasi yang melingkar di leher lelaki itu sudah tidak berbentuk, alias miring. sedangkan kemeja yang di pakai nya? tiga kancing sudah terbuka cukup memperlihatkan dada bidang lelaki berwajah rupawan itu. andai saja tidak bersama Johan, mungkin kepala Renita sudah di penuhi oleh pikiran macam-macam. dia pun perlahan melangkah dan memanggil lirih
lelaki berpenampilan kacau yang sedang di rangkul oleh Johan.
"Abang" lirih Renita memanggil lelaki yang memang suami nya karena panggilan itu Renita sematkan hanya untuk memanggil suami nya.
__ADS_1
mendengar suara lirih Renita, kedua lelaki yang berdiri membelakanginya itu pun dengan bersamaan menoleh ke arah nya.
Wajah terkejut suami nya ketika mendapati dirinya berada di situ.
"sayang?"
Anggara terkejut melihat kehadiran istri nya di lokasi tersebut.
ada satu dorongan rasa yang menggebu dalam diri nya yang belum sepenuhnya hilang dari tubuh nya setelah melihat kehadiran istri nya dan seperti nya tidak akan dia tahan lagi. dengan langkah lebar nya Anggara mendekati sang istri dengan wajah yang masih terlihat terkejut dan penuh pertanyaan. tapi sepertinya Anggara mengabaikan semua nya saat ini karena dengan tidak tahu malu nya Anggara langsung memeluk tubuh istrinya sangat erat seperti sedang menyalurkan rasa yang masih menggebu ingin tersalurkan di tubuh nya ini kesempatan yang sangat baik karena kedatangan istrinya.
dengan tak tahu malu dan tak tahu tempat Anggara melepaskan pelukannya lalu menarik tengkuk leher istri nya, lalu tanpa basa-basi lagi meraup bibir ranum Renita dengan sangat rakus dan menggebu
tak memikirkan kehadiran orang selain mereka berdua di tempat itu sesaat Renita terkejut dengan sikap suami nya yang mencumbu dirinya dengan sangat ganas di tempat ini. Renita berusaha melepaskan tautan bibir suami nya namun sepertinya itu mustahil karena Anggara terus menekan tengkuk nya untuk memperdalam ciuman nya tak mau melepaskan barang sebentar membuat Renita hanya pasrah hingga akhir nya cengkraman kuat tangan Renita pada tangan kekar Anggara menyadarkan lelaki itu untuk melepaskan tautan bibir nya.
dengan nafas mereka yang terengah
kedua nya saling menatap dalam.
dan..
"auww... ssakit sayang... kok nyubit sih" desis Anggara mengusap perutnya karena mendapat cubitan maut dari istri nya di perut kokoh nya wajah kedua nya memerah dengan artian yang berbeda.kalau Renita wajah nya memerah karena ada rasa malu menjalari seluruh tubuh nya karena mendapat kan ciuman suami nya di tempat umum. sedangkan merah wajah Anggara di sebabkan oleh pengaruh gairah yang masih menguasai dirinya yang tadi nya sudah sedikit mereda tapi sekarang seperti nya tersulut kembali karena perbuat
annya tadi dan itu sudah tidak bisa dia tahan.
"rasain! kamu tidak tahu malu bang,, mencium ku di tempat umum begini"
ketus Renita menatap tajam suami nya dengan nafas masih memburu.
"ayo sayang kita pergi dari sini"
bukan nya merasa bersalah dengan perbuatan yang menurut Renita sangat memalukan. malah Anggara
dengan terburu-buru menarik lembut tangan istrinya.
"Johan"
ucap Anggara menoleh ke arah Johan yang sedari tadi masih berdiri di dekat mobil milik Anjani yang di tinggalkan dengan posisi berdiri membelakangi kedua pasangan yang sedang menyalurkan hasratnya yang tak tempat dan cukup membuat seorang Johan terus memaki perbuatan boss muda nya.
Johan berbalik badan ke arah Anggara karena panggilan itu dan seperti nya lelaki itu tanggap maksud dari boss nya dengan cepat Johan berjalan mendekati Anggara lalu berjalan mendahului ke-dua majikan nya itu mendekati sebuah mobil BMW bewarna hitam yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.
setelah itu Anggara pun berjalan dengan Renita yang tak dia lepas dari pegangan tangan nya. lagi-lagi langkah nya terhenti karena Anggara melihat mama nya berdiri di dekat mobil bersama seorang wanita gagah berdiri di samping nya. memandang penuh sayang pada Anggara.
*
TBC...
__ADS_1