Dia jodoh ku

Dia jodoh ku
pertemuan part 2.


__ADS_3

sepeninggal Anjani, Anggara menatap tajam pada kedua pria yang datang bersama Anjani yang di ketahui sekretaris serta assisten pribadi perempuan itu.


"perkenalkan saya Budiman assisten pribadi nona Anjani, tuan. dan di sebelah saya ini Dani sekretaris nya"


pria yang bernama Budiman memperkenalkan dirinya serta teman satu nya, Budiman mengulur kan tangan kanan nya untuk menjabat tangan Anggara.


Anggara tersenyum sinis pada kedua pria yang sedang duduk di hadapan nya ini tanpa berniat membalas uluran tangan kedua pria itu. begitu lah Anggara, tak pernah bisa menutupi rasa tidak suka nya pada orang yang yang memang ia tidak suka bukan hanya mulut nya yang pedas kalau berkata tak peduli orang yang menjadi lawan bicara nya akan sakit hati atau tidak, Anggara tidak peduli.


"brengsek angkuh sekali lelaki ini" umpat Budiman dengan suara nyaris tak terdengar.


lalu Anggara menoleh ke arah Johan yang duduk di sebelah nya mengabaikan kedua lelaki yang wajah nya terlihat kesal.


"kamu tidak mengetahui siapa pemilik perusahaan ini sebelum nya Jo?" tanya Anggara dengan wajah kesal nya karena baru mengetahui kalau pemilik perusahaan yang akan di akusisi oleh perusahaan keluarganya adalah milik keluarga pak Broto dan di pimpin oleh Anjani wanita yang pernah mendatangi dirinya sewaktu ia di Surabaya untuk membujuk meringankan hukuman karena tersandung kasus korupsi besar-besaran di universitas Handersson di Surabaya. pak Broto, tak lain adalah kakak lelaki nya Anjani.


Johan menoleh pada bos muda nya


dengan wajah datar nya.


"tahu bos"


mata Anggara melebar mendengar jawaban Johan.


"kenapa kamu tidak kasih tahu aku Jo?" Anggara menaikkan nada suara nya karena kesal.


"sudah" jawab Johan nada dan wajah datar nya.


"sudah? kapan?!" cecar Anggara tak percaya karena dirinya tak merasa di kasih tau tentang hal ini.


Johan membenarkan posisi duduknya sedikit berputar untuk menghadap ke arah Anggara


"tiga hari yang lalu saya sudah memberikan berkas nya di meja kerja anda tapi pada saat itu boss sedang kedatangan nona Renita di kantor dan menyuruh saya untuk meletakkan berkas itu di meja kerja anda" panjang lebar Johan menjelaskan semua nya pria berwajah oriental itu hanya menggeleng kan kepala pelan karena sikap Boss muda nya sendiri yang teledor.melewatkan berkas sepenting itu.


sejenak Anggara terdiam dan

__ADS_1


"sial! aku melewatkan nya" gumam Anggara di sertai umpatan karena merasa dirinya kecolongan. Anggara menyibak rambut nya yang lebat dengan kasar.


"kopi nya tuan Anggara. silahkan, sengaja saya pesan kan lagi kopi untuk tuan Anggara karena seperti nya sudah habis tuh" tiba-tiba Anjani tiba dengan membawa dua gelas minuman satu untuk dirinya dan satu gelas kopi americano untuk Anggara. dengan percaya diri tersenyum manis pada Anggara.


meletakkan segelas kopi americano di hadapan Anggara. lelaki tampan berwajah bule itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi tunggal bersidakep, menatap malas ke arah Anjani.


"saya membatalkan untuk mengakusisi perusahaan milik anda nona Anjani" tanpa basa-basi lagi Anggara mengutarakan maksud nya. Anggara sangat muak melihat wanita yang ada di hadapan ini apalagi harus bekerja sama dengan perusahaan wanita ini. tentu tak sudi rasanya.


tubuh Anjani menegang, wajah nya memerah karena menahan emosi. tak menduga perusahaan Anggara atau tepat nya Anggara. menolak mentah-mentah untuk bekerjasama dengan perusahaan milik Anjani belum lagi dirinya duduk bicara.


"pak Anggara yang terhormat.. Anda tidak bisa memutuskan begitu saja,, bukan kah pihak anda sudah menyetujui?" dengan senyuman manis nya Anjani berkata dengan penuh kelembutan berharap agar bisa menarik perhatian Anggara.


dengan menekan emosi nya.


"saya tidak pernah menyetujui nya"


timpal Anggara tegas.


di tengah obrolan Antara Anjani dan Anggara, Johan berdiri dari duduknya karena ponsel yang ada di saku jas nya bergetar berkali-kali dan itu tandanya panggilan telepon ini pasti penting. membuat Anggara mengalihkan atensi Anggara pada Johan.


"maaf boss saya akan menjawab telepon dulu" izin Johan


Anggara hanya mengangguk menanggapi ucapan Johan. setelah itu Johan pun berjalan sedikit menjauh ke arah jendela sudut cafe tersebut meninggal kan Anggara yang masih duduk satu meja bersama ketiga klien yang tidak Anggara ingin kan.


hening


tak satupun dari mereka bertiga bicara. ketiga orang tersebut diam dengan pikiran nya masing-masing.


hingga Anjani bicara memecah keheningan itu.


"mm.. baik lah kalau memang anda tidak menginginkan kerja sama dengan perusahaan aku, pak Anggara. tapi aku berharap Anda memikirkan nya lagi. apakah karena kejadian waktu di Surabaya? kalau itu yang menjadi alasan nya, aku meminta maaf. karena kerja sama dengan perusahaan Sansai ini tidak ada kaitannya dengan kakak lelaki aku. ini murni perusahaan keluarga" jelas Anjani tetap berusaha melobi. dan ketika tatapan mata nya terarah pada gelas kopi Anggara wanita itu menyeringai tipis.


"silahkan di minum kopi nya pak Anggara, bukan kah tidak baik kalau kopi yang sudah di sediakan tidak di minum? mubazir kan"

__ADS_1


Anggara menatap tajam pada Anjani sekilas lalu pandangan nya teralih pada segera kopi yang di sediakan oleh Anjani dan memang itu kopi kesukaannya.


tanpa bicara lagi Anggara pun meraih gelas kopi yang di tawarkan oleh Anjani dan tentu saja wanita itu bersorak dalam hati nya karena merasa umpan nya di makan dengan baik. Anjani melirik pada Budiman dan pria itu menarik sudut bibir nya. dengan khidmat Anggara menyesap kopi americano yang masih terlihat asap mengepul begitu menikmati nya apalagi di luar cuaca dalam keadaan gerimis.


setelah cukup Anggara meletakkan cangkir kopi tersebut di atas alas cangkir. selang beberapa menit Anggara merasakan tubuh nya memanas dan sedikit berkeringat.


duduknya menjadi gelisah.


"Anda kenapa tuan Anggara?" tanya Budiman pura-pura tidak tahu.


Anggara bukan lelaki polos dan bodoh yang tidak tahu reaksi apa yang sedang ia rasakan saat ini di tubuh nya.


mata Anggara memerah menatap seperti ingin menelan orang yang ada di depan nya.


"brengsek!! hey jala**ng!! kau campur apa minuman ini ha?!"


Anggara menunjuk ke arah wajah Anjani dan kedua lelaki yang masih duduk tenang memandangi dirinya.


Anggara melonggar kan dasi nya yang terasa mencekik leher nya lalu membuka dua kancing kemejanya karena tubuh nya saat ini terasa panas. melihat penampilan Anggara yang terlihat seksi Anjani sudah tidak tahan untuk tidak segera bertindak. wanita itu berdiri, berjalan menghampiri Anggara dan dengan beraninya, langsung melingkar kan kedua tangan nya pada punggung lebar Anggara serta memberikan usapan lembut yang tentu saja mengundang desiran kuat kelakian Anggara. lelaki tampan berwajah bule itu sekejap menutup mata nya merasa kan sentuhan tangan Anjani yang membangkitkan gairah nya tapi Anggara pun dengan cepat membuka mata nya mencoba menjaganya kesadaran nya dan..


"lepas tangan mu ******!"


Anggara dengan Nafas memburu menepis kuat tangan Anjani yang lancang menyentuh tubuh nya.


"kenapa tampan? bukan kah ini menyenangkan? atau kita perlu tempat untuk bermain? baik lah kalau begitu dengan senang hati"


ucap Anjani dengan suara di buat sensual menggoda. lalu Anjani melirik ke kedua orang kepercayaan nya dan..


"bawa dia cepat! sebelum assitenny datang"


dengan cepat Budiman dan Dani meraih tubuh Anggara dan memapah nya membawa keluar dari private room tersebut keluar dari kafe tersebut melalui pintu samping agar tidak mengundang perhatian orang.


*

__ADS_1


TBC...


__ADS_2