Dia jodoh ku

Dia jodoh ku
kedatangan Rahman.


__ADS_3

Anggara dan Yusuf terkejut dengan jawaban yang keluar dari mulut Rahman, lelaki dua puluh lima tahun itu terlihat menahan Amarahnya Anggara masih mengingat kalau lelaki yang ada di hadapan nya ini adalah papah nya.


"apa maksud papah? ini semua karena Angga pa?"


Anggara tidak mengerti apa dari maksud perkataan papah nya karena dirinya? itu seperti seakan semua kesalahan ada pada diri nya.


"iya, ini karena kamu, karena papah mengharap kamu memimpin perusahaan papah. coba kamu pikir Anggara.. papah ini tidak lagi muda.. papah mu ini ingin pensiun dari perusahaan dan kamu, anak lelaki papah satu satunya yang papah harapkan untuk meneruskan perusahaan papah. apa salah kalau orang tua ini mengharapkan putranya sendiri?"


"tapi tidak dengan cara konyol dan kotor begini pa!"


Anggara langsung memotong ucapan papah nya walaupun apa yang di utarakan oleh papah nya adalah benar, tapi Anggara sangat menyesali cara yang di pakai oleh papah nya itu untuk mewujudkan keinginan nya. apa lagi sampai.. malah nyaris menghancurkan hubungan serta kehidupan nya bersama Renita yang hampir hancur


dan apa, Papah nya itu menyanggupinya persyaratan tuan Kim untuk menjodohkan dirinya dengan putri nya Natasha? ini gila! papah nya benar-benar tidak bisa berpikir Waras!


"Angga sangat kecewa dengan papah, tega-teganya berniat untuk memisahkan aku dengan Renita papah tega!!" suara Anggara terdengar kencang, berteriak tapi sedikit di tekan karena geram bukan main dadanya turun naik karena nafas nya menderu emosi.


menatap nanar ke arah Rahman.


Yusuf yang melihat itu kaget bukan main baru kali ini dia melihat Anggara marah, bahkan berteriak pada Rahman. karena selama ini yang Yusuf tahu, Rangga itu selalu bersikap lembut dan sopan pada keluarga nya terutama dengan kedua orang tua nya. tak pernah sekalipun Anggara mengeluarkan suara keras pada keluarga nya. maka wajar saja jika Yusuf terkejut dengan sikap yang di perlihatkan oleh Anggara sekarang ini dan bukan Yusuf saja yang terkejut tapi begitu juga dengan Rahman lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan itu mata nya terbelak, karena kaget karena reaksi kekecewaan putra nya pada dirinya dan di situ Rahman tersadar betapa dia sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal pada kehidupan putra nya yang dia sayangi.


"tapi ini semua demi kebaikan mu Anggara" tapi rupanya ego Rahman masih tinggi, enggan mengakui kesalahannya di depan Anggara Rahman tetap berusaha membenarkan keputusan yang dia ambil.


Anggara terkekeh geli tapi terdengar hambar lagi-lagi seperti itu.


lalu menatap lekat wajah tua yang hampir mirip dengan wajah nya yang duduk di hadapan nya dengan tatapannya terkesan dingin.


"dengan mengorbankan kehidupan Angga? menghancurkan hubungan Angga dengan Renita!? begitu pa?"


Anggara meremas kasar rambut nya, sejenak memalingkan wajahnya hanya untuk menghirup udara banyak-banyak seolah ruangan itu sesak tak ada udara. lalu kembali menatap Rahman dengan mimik yang entah lah seperti apa karena tidak ada raut yang terbaca di wajah tampan itu.


"oh, ayolah pa, kenapa dengan papah? kenapa pikiran papah menjadi buntu, tidak ada lagi kebaikan di diri papah.. tega-teganya menjerumuskan anak sendiri dengan menjadikan Angga sebagai pertalian dari bisnis papah dengan tuan Kim" Anggara menggelengkan kepalanya mengungkapkan rasa tidak percaya nya pada Rahman.


"maaf kan papah Anggara, tapi semua ini demi kebaikan mu"


"bulshit!! omong kosong apa yang papah bicarakan?! apa yang demi kebaikanmu ku? aku akan mati kalau sampai aku berpisah dengan Renita, dan gadis itu, yang sekarang sudah menjadi istri ku,, pasti mengalami hal yang sama dengan Angga pa.... apa itu yang di sebut demi kebaikan ku ha?!"


amarah Anggara sudah tidak bisa di bendung lagi, karena nyatanya setiap perkataan yang terlontar dari mulut Rahman malah menambah membakar emosi nya hingga mengelegak. Anggara berdiri dari duduknya menatap Rahman dan Yusuf bergantian lalu dengan nafas yang tidak beraturan karena saking emosi nya pria tampan yang mempunyai tubuh tinggi tegap itu berkata..


"tanyakan pada Yusuf, apa yang terjadi di tempat kediaman tuan Kim keparat itu dengan licik nya anaknya yang seperti j4lang itu, memberikan minuman yang sudah di campur dengan obat laknat itu ke Angga dan Yusuf" Tutur Anggara wajah nya terlihat senyum mengejek ke arah Yusuf sebelum meneruskan ucapannya.


"dan Yusuf yang sudah menjadi korban dari obat laknat itu, menggagahi dua orang j4lang sekaligus wah, hebat kamu yus, bagaimana rasanya ha?" Anggara menunjuk nunjuk ke arah Yusuf lalu tertawa lepas mengingat keberingasan nafsu Yusuf menggarap dua ja4lang sekaligus.


Hahaha... mengingat itu Anggara merasa jijik sekaligus lucu melihat keberingasan nafsu Yusuf kala itu di bawah pengaruh obat laknat yang berhasil mempengaruhi birahi Yusuf.dan ucapan Anggara itu berhasil membuat wajah Yusuf memerah karena malu Yusuf hanya tersenyum tipis dan salah tingkah

__ADS_1


karena teringat kembali rasa siksaan berujung nikmat itu tapi juga membuat rasa penyesalan yang amat dalam di diri Yusuf.


"tapi kenapa kamu tidak terpengaruh mas? bukan kah kamu juga sudah di ***** habis-habisan oleh Natasha waktu itu? kok bisa tahan sih? hebat kamu mas"


dengan polos nya Yusuf berkata sambil mengacungkan dua jempol nya sekaligus pada Anggara.


Anggara hanya tersenyum tipis sambil menggaruk ujung alisnya yang tebal merespon ucapan Yusuf.


"aku juga sudah tidak tahan dengan hasrat sialan itu sebenarnya. kalau saja wajah Renita tidak tiba-tiba terlintas di pikiran ku... mungkin aku juga sudah sama seperti mu tapi untungnya wajah gadis pujaan hati ku menolong ku agar aku tetap sadar dan bertahan walaupun itu nyaris tidak mungkin karena Natasha terus saja membelai tubuh ku dengan gencar nya kalau saja beberapa menit lagi Johan tidak datang dengan bantuan entahlah apa yang sudah aku lakukan.. dan kalau itu sampai terjadi aku tidak akan sanggup untuk berhadapan dengan istri ku"


Anggara menutup wajahnya sesaat dan menghela nafasnya dalam-dalam ada rasa marah, penyesalan, kesedihan yang ada sekarang ini di hati dan pikiran nya di saat kembali mengingat kejadian laknat itu.


Rahman yang baru mendengar keseluruhan kejadian yang belum Yusuf ceritakan waktu itu hanya bisa tertegun tak percaya ada perasaan sakit di dada nya. menatap lurus pada putra sulung nya itu dengan tatapan penuh arti.


"maaf kan papah Anggara" lirih Rahman merasa amat bersalah pada Anggara dan Yusuf.


"apa papah masih meneruskan niat papah untuk menghancurkan usaha tekstil milik opa?" tanya Anggara masih ada keraguan pada papahnya.


Rahman tak langsung menjawab pertanyaan Anggara seolah sedang berpikir apa yang harus dia putuskan dalam hati kecilnya masih terselip rasa tidak terima kalau Anggara tidak menuruti keinginan nya Rahman menunduk kan wajah sejenak kemudian kembali menatap ke arah Anggara tapi baru saja dia akan mengangkat kedua bibir nya untuk bicara.


"Angga akan memimpin perusahaan papah, tapi mungkin Angga tidak bisa selalu ada di perusahaan karena waktu Angga terbagi pada yayasan ini bagaimana? apa papah setuju?"


akhirnya Anggara memutuskan seperti itu seolah tahu apa yang masih ada di pikirkan oleh Rahman dan tentu saja keputusan Anggara membuat wajah Rahman yang tadi terlihat suram sekarang nampak senang.


Rahman mencoba menanyakan lagi kepastian dari ucapan Anggara tadi dan bukan salah pendengaran nya.


"iya, pah. aku mau.. tapi itu syarat nya Angga tidak bisa stand by di Perusahaan"


"tidak masalah, seperti itu, papah sudah senang dengan keputusan mu ini. kalau begitu papah akan mengumumkan pada dewan direksi untuk kedatangan mu memimpin perusahaan, mengganti kan papah dan tentu saja Yusuf akan membantu mu oh iya, ada Johan juga sebagai asisten mu yang siap meringankan beban kerja mu"


Rahman terus saja berceloteh dengan antusias nya karena saking senangnya seolah melupakan ketegangan yang tadi terjadi di ruangan itu dengan Anggara.


sedangkan Anggara hanya mencebik menanggapi sikap papah nya itu.


'sungguh egois sekali pria tua ini'


batin Anggara menatap sinis papah nya. yang bersikap seolah tak berdosa.


"selamat siang my hubby apa...."


tiba-tiba saja suara feminim nan lembut menyeruak masuk begitu saja ke dalam ruangan itu Renita yang tidak tahu kalau di ruangan kantor suami nya sedang ada tamu, masuk begitu saja dengan pedenya langsung menyapa suami itu yang memang posisi nya sedang berdiri tegak di tengah ruangan kantor nya dengan kedua tangan di atas pinggang nya. Renita masuk tanpa menoleh ke arah sofa di mana ada Rahman dan Yusuf masih duduk di sofa tersebut. dan setelah Renita sudah berada di dalam ruangan itu baru dia sadari ada papah mertuanya bersama Yusuf duduk di sofa dengan wajah yang sama terkejutnya.


"oh astaga.. maaf, aku kira nggak ada orang lagi di ruangan ini maaf, maaf papah, Renita tidak lihat papah"

__ADS_1


mata Renita sedikit melebar dan refleks dia menutup mulutnya dengan satu tangan nya. berdiri canggung di tengah ruangan itu dengan tatapan yang berbeda dari ketiga pria yang ada di ruangan itu.


Renita pun tersadar dari keterkejutan nya dan langsung berjalan mendekati Rahman untuk bersalaman memberikan hormat nya. untuk Yusuf dia hanya melipat kedua tangannya di depan dada nya.


"apa kabar mu Renita"


Rahman menyapa Renita menantu nya yang sangat di cintai bahkan di gilai oleh anak lelaki nya.


"baik pa, maaf kami belum sempat berkunjung ke rumah papah"


sesal Renita langsung melirik ke arah suaminya.sebenarnya Renita tak enak bicara bohong karena Anggara yang selalu memberikan seribu alasan bila di ajak berkunjung ke rumah orang tua nya entah apa yang membuat Anggara seperti menghindar untuk berkunjung ke rumah orang tua nya Renita tidak mengetahui alasan nya.


"sini sayang"


Anggara memanggil istrinya lembut berbeda sekali dengan sikap yang dia perlihatkan tadi pada papahnya.


Anggara memanggil istrinya agar duduk di sebelah nya sofa tunggal? di mana Renita duduk apa...


Renita ragu untuk mendekat pada suami nya itu dengan apa yang ada di pikiran nya.


"sini sayang...apa perlu aku gendong kamu, untuk kesini HM?" panggil Anggara sekali lagi karena melihat istrinya masih saja diam tak bergerak mendekati dirinya.


"ah,iya"


akhirnya Renita perlahan melangkah mendekati suaminya sebelum nya melirik ke arah Rahman dan Yusuf.


"kalau begitu papah mau permisi, masih ada urusan yang mesti papah kerjakan, ayo yus kita pergi dari sini karena kalau kita masih di sini om Jamin kamu akan sakit mata"


langkah Renita terhenti untuk mendekati suaminya karena tetiba Rahman bicara untuk pamit diri dari kantor Anggara. Rahman dan Yusuf pun berdiri dari duduknya berbarengan. dengan melontarkan kata-kata sindiran pada pengantin baru itu.membuat Renita salah tingkah karena ucapan sang mertua


lain halnya dengan Anggara pria itu hanya menampilkan wajah dingin nya. tidak ada reaksi apapun Dari ucapan Rahman tadi.


"seperti nya begitu om, mata jomblo ku pasti akan ternoda kalau masih berada di ruangan ini"


Yusuf menimpali ucapan Rahman


sekedar mencair kan suasana.


"tubuh jomblo mu itu, memang sudah ternoda Yusuf, aku rasa kamu harus segera menghalalkan citra untuk menjadi milik mu, kalau tidak kamu akan bahaya yus, karena sudah merasakan apa yang sudah aku rasakan sekarang ini"


*


TBC..

__ADS_1


__ADS_2